
Malam hari sudah tiba, Vano masih berada di basecamp hendak pulang ke mansion nya.
"Gw mau pulang dulu, lo berdua mau ikut gak?" tanya Vano pada Galang dan Rangga.
"Gak ahh, nanti yang ada kita lo jadiin obat nyamuk." tolak Rangga.
"Ya udah kalau kalian gak mau, padahal tadi si Sisil sama Sonya ada di sana. Katanya sih mau sekalian makan malam bersama." ucap Vano.
"Seriusan lo, ya udah deh gw ikut Lo." balas Galang.
"Gw juga." timpal Rangga.
"Dih apaan, orang tadi katanya gak mau."
"Ya kan beda Van, gw kira tadi di tuh gak ada bebeb Sisil."
"Lagian kita juga udah kangen sama pacar, orang sedari pagi gak ketemu." timpal Galang.
"Ya udah ayo." ajak Vano.
"Gaes kita kita mau balik duluan, kalian hati hati nanti pulangnya jangan sampai ada yang sendirian." wejangan dari Vano.
"Siap bos." kompak mereka semua.
Vano pun segera pergi dari sana di ikuti Galang dan Rangga yang akan ikut ke mansion Vano.
-
"Ehh laki kita mana sih kok lama banget, udah laper nih perut gw." ucap Sisil sambil memegangi perutnya.
"Sama gw juga udah laper." timpal Sonya.
"Sabar, keknya bentar lagi mereka sampai deh soalnya tadi Vano bilang mereka sudah ada di jalan." ujar Vanya.
"Ya semoga saja lah, bisa mati gw lama lama kalau kayak gini." balas Sonya.
"Bagaimana kalau kita tunggu mereka di meja makan aja." ide Vanya.
"Ya udah ayo, sekalian Van gw mau makan apa gitu kek buat ganjel nih perut." setuju Sisil.
"Ya udah ayo."
Mereka bertiga pun menuju ruang makan di mansion Vano sambil menunggu kedatangan para kaum laki-laki.
"ASSALAMUALAIKUM..." teriak Rangga dan Galang saat memasuki mansion Vano.
"Waalaikum salam." jawab Vanya dan kedua temannya.
"Kok kalian baru sampai sih." cerocos Sisil.
"Ya sorry beb, tadi tuh kita jalannya santai gak kenceng kenceng banget sambil menikmati udara malam." balas Rangga.
"Bener tuh kata Rangga, lagian nih ya kita itu tadi kena macet juga." sambung Galang.
"Iya deh iya."
"Ya udah yuk kita makan malam dulu nanti keburu dingin makanannya." ajak Vanya.
"Yuk."
Mereka makan dengan di penuhi candaan candaan receh yang kadang sampai membuat mereka tertawa tapi tidak dengan Vano dia hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kalian nginap sini aja ya.." pinta Vanya saat mereka sedang duduk duduk santai di ruang televisi.
"Boleh tuh, ehh tapikan kita besok masuk sekolah. Lain kali aja lah kalau hari libur." ujar Sonya yang di angguki yang lain.
"Bagaimana kalau weekend Minggu depan aja." usul Rangga.
"Boleh tuh, sekalian nanti kita bakar bakar." setuju Sonya dan Sisil.
"Ya udah terserah kalian saja, yang pasti nanti kalau kalian sudah siap bilang sama gw biar gw siapin semuanya." ujar Vanya.
"Kita pulang yuk, udah malam nih." ajak Sonya setelah melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Yuk." balas Sisil.
"Kita pamit dulu ya two Van." pamit Rangga yang membuat Vanya dan Vano mengernyitkan dahinya heran.
"Two Van?" tanya Vano dan Vanya barengan.
"Iya two Van, Vanya Vano." jelas Rangga.
"Bisa aja lo."
"Udah sana pergi gw mau berduaan ama istri gw." usir Vano.
"Dih, mentang mentang udah punya bini main ngusir ngusir orang aja." sindir Galang.
"Suka suka gw lah, udah sana pergi." usir Vano lagi.
"Iya iya kita pergi, ayo beb aku anterin pulang, tuan rumahnya gak asik." ajak Rangga pada Sisil.
"Yuk."
"Kita pamit dulu Van, lo hati hati sama Vano. Gw takutnya lo nanti di makan habis habisan sama Vano." ucap Sonya.
"Iya iya, gak sabaran banget jadi orang."
"Kita pulang dulu, daaaah."
Mereka bertiga Vanya, Sonya dan Sisil cipika-cipiki ala cewek untuk perpisahan malam ini.
"Kalian hati hati ya." ujar Vanya.
"Iya."
"Gw sama Rangga juga pamit Van, bye." pamit Galang dan segera berlalu dari sana.
"Dah sono pergi." teriak Vano pada teman temannya yang sudah agak jauh darinya.
"Auw sakit yank." ringis Vano karena Vanya mencubit perut kotak kotak miliknya.
"Makanya, jangan gitu." balas Vanya dan segera pergi meninggalkan Vano.
"Yank tungguin." Vano mengejar Vanya yang berjalan menuju kamar mereka.
"Yank, ayang kamu di mana." teriak Vano mencari Vanya yang tidak dia temukan di dalam kamar.
"Ayang..." pangil Vano lagi.
"Iisss mana sih?"
"Ayang...."
__ADS_1
"Apaan sih, berisik tau gak." ucap Vanya yang keluar dari walk in closed dengan pakaian yang sudah ganti dengan baju tidur.
"Iisss kamu nih, aku cariin dari tadi juga. Ehh ternyata ada di situ." berjalan menghampiri Vanya.
"Yank..." rengek Vano memeluk Vanya dengan kepala yang di taruh di pundak Vanya.
"Ayang..." rengek Vano lagi karena Vanya tak menjawab panggilannya.
"Hmm." akhirnya Vanya membalas juga ucapan Vano.
"Mau..."
"Mau apa?"
"Itu."
"Itu apa?"
"Itu loh..."
"Iya itu apa?"
Nih lama lama Vanya gigit juga leher Vano, manja banget kek bayik.
"Iisss ayang mah gitu gak peka." ngambek Vano melepaskan pelukannya dan berjalan ke ranjang.
"Lah ngambek."
"Mau apa sih Van, kalau ngomong tuh yang jelas jangan berbelit-belit." menghampiri Vano.
Vano diam tak menjawab ucapan Vanya, Vano mengubah posisinya menjadi tiduran dan memakai selimut sampai di lehernya dan membelakangi Vanya.
"Kalau udah kayak gini, bakal susah dah." gumam Vanya yang melihat tingkah Vano.
Vanya berjalan meninggalkan Vano menuju walk in closed untuk mengambilkan pakaian ganti buat Vano, karena sedari tadi Vano masih memakai baju yang dia gunakan untuk ke basecamp tadi.
"Tauk ahh, orang lagi marah bukannya di bujuk malah di tinggal." ngedumel Vano kesal.
"Makanya gak usah marah, udah sini ganti baju dulu." balas Vanya yang membuat Vano kaget lantaran Vanya tiba tiba saja berdiri di hadapannya.
"Gak mau." tolak Vano.
"Vano ganti baju gak, kalau gak mau aku tinggal tidur di kamar lain." ancam Vanya.
"Iya iya, ngancem mulu." decak Vano.
"Makanya nurut."
Bagai anak kecil yang di marahin ibunya, Vano menuruti semua perintah Vanya. Mulai dari ganti baju, cuci tangan dan kaki, gosok gigi dan cuci muka Vano lakukan dengan di dampingi Vanya.
"Udah sekarang tidur." perintah Vanya.
"Gak mau." tolak Vano.
"Vano... tidur gak?" melotot pada Vano.
"Huuwaaaa ayang jahat, ayang pelototin Vano... Huuwaaaa."
Lah malah nangis nih bayik.
"Loh kok nangis sih, udah cup cup cup bayi besar gak boleh nangis." Vanya menenangkan Vano.
__ADS_1
Entahlah kenapa sikap Vano sekarang makin menjadi saja manjanya, Vanya sangat sangat heran.
...***...