
Farrel, Lucas dan papa William masuk melewati para anggota WD dan anak buah Aaron yang tengah bertarung di halaman sebuah rumah yang tidak terlalu besar.
"Farrel kamu cari di mana Vano, dan kamu Lucas pantau keadaan sekitar biar Om yang hadapi Aaron." ujar papa William.
"Baik Om." balas keduanya.
Farrel pun segera mencari keberadaan Vano melalui sampai rumah, sedangkan Lucas mencari tempat yang aman untuk dia merentas cctv yang ada di rumah ini.
"Selamat datang William, lama kita tak jumpa." sapa Aaron saat berpapasan dengan William di pintu masuk rumah.
"Cih, gak usah basa-basi, cepat katakan di mana anak ku?" tanya William dengan nada tegas.
"Santai dong santai. Mending kita main catur sambil minum minum terlebih dahulu. Sekalian kita bicarakan banyak hal yang kita lewati selama ini."
"Cih." decih papa William.
"Bagaimana?" tanya Aaron.
"Sudah lah apa mau-mu, aku tak akan pernah kemakan omongan mu." balas papa William.
__ADS_1
"Oh baiklah baiklah baiklah, mari kita mulai. Mau di sini atau di luar saja, biar para anggotamu tahu kelelahan ketuanya habis ini."
"Dan itu gak akan pernah terjadi."
"Kita lihat saja setelah ini."
Setelah mengatakan itu Aaron mengejar William yang sudah berlari keluar menuju tempat yang lebih luas untuk bertarung dengan Aaron.
Sementara di tempat Vano, dia tengah kesusahan untuk berjalan. Meskipun keadaan sepi karena orang orang pada perang, tapi kaki Vano gak bisa di ajak kerjasama. Sehingga memperlambat proses kabur Vano.
"Van." pangil Farrel yang melihat Vano tengah berpegangan pada dinding.
"Lo gak papa kan?" tanya Farrel mengamati penampilan Vano dari atas hingga bawah.
"Kaki gw keknya makin parah deh, soalnya susah banget kalau buat jalan." jawab Vano.
"Ya udah kalau gitu ayo gw bantu jalannya. Kita ke pesawat dulu, setelah itu gw bantuin yang lain." ajak Farrel yang di setujui Vano.
Vano melepaskan jaketnya serta memakai topi yang tadi di pakai Farrel untuk mengelabuhi musuh agar tidak mengetahui kalau dirinya lewat di halaman nanti.
__ADS_1
"Lo bawa ramuan ramuan gw kan?" tanya Vano pada Farrel saat dalam perjalanan.
"Iya ini gw bawa, cuma gw bawa yang waktu itu gw suntikin ke bibi bukan punya lo yang bisa lumpuhin Marvel." jawab Farrel.
"Bagus kalau gitu, biar nanti di pesawat gw perbaiki lagi ramuannya." balas Vano.
Setelah itu Farrel pun mengantarkan Vano ke dalam pesawat yang mereka gunakan untuk ke pulau ini. Sampai di sana Farrel segera menyerahkan ramuan pada Vano. Dan Vano pun perlahan mengotak atik ramuan itu dengan mencampurkannya dengan ramuan yang lainnya, sambil menahan rasa sakit di kakinya.
"Dah, nih nanti lo cari kesempatan buat menyuntikkan obat ini pada Aaron. Obat ini akan membuat dia mengila sesaat dan sesaat lagi sadar. Dia akan melakukan tindakan apapun di luar nalar manusia, seperti contohnya bunuh diri." jelas Vano.
"Ok kalau gitu gw pergi dulu, Lo hati hati di sini. Kalau ada apa-apa yang mencurigakan segera hubungi gw dan yang lain melalui ini." tunjuk Farrel pada sebuah benda yang ada di tangannya.
"Ok, siap. Ya udah sono lo pergi."usir Vano pada Farrel.
"Iya iya, gw pergi." dengus Farrel kesal.
Farrel pun segera pergi dari sana membawa apa yang Vano perintahkan tadi kepadanya.
Dan Vano yang di tinggal pun memilih tiduran di kursi pesawat sambil duduk untuk melupakan sejenak rasa sakit di kakinya.
__ADS_1
...***...