
Sementara di posisi Farrel dan Fira, mereka terus membantu anggota mafia WD melawan white Devil. Apalagi setelah kedatangan tangan kanan Marvel, semakin kalang kabut mereka di buatnya. Karena tadi Vano tidak membawa anak buah sebanyak jumlah musuh.
Farrel berhadapan langsung satu lawan satu sama tangan kanannya Marvel. Sebenarnya tadi yang berhadapan dengan tangan kanannya Marvel itu adalah Fira, tapi karena Fira cewek dan Farrel yang rada takut Fira kenapa napa akhirnya mereka tukar posisi. Farrel yang melawan tangan kanannya Marvel dan Fira yang melawan beberapa anak buah Marvel.
Bug bug bug.
Dor dor dor.
Suara pukulan serta tembakan terdengar di sana.
Vano yang merangkul pundak Vanya melewati orang orang yang sedang berkelahi di halaman mansion Marvel, Vano sangat hati hati karena dia takut sampai kecolongan dan Vanya yang kenapa napa.
"Vanya awas." teriak Fira sambil berlari menghampiri Vanya.
Dor.
"Aaaahh."
"FIRA." kaget Vanya Vano dan Farrel melihat Fira yang sudah terkena tembakan di perutnya karena menyelamatkan Vano.
Dor dor dor...
Farrel menembakkan ke seluruh musuh yang ada di sana tak terkecuali tangan kanan Marvel, Farrel menembakinya beberapa kali hingga dia tak sadarkan diri, bahkan bisa jadi dia udah mati. Farrel marah melihat Fira yang sudah terduduk lemas memegangi perutnya yang sudah berlumuran darah hingga dia bisa melakukan hal gila seperti itu, entah mengapa nalurinya keluar sendiri tanpa bisa dia kontrol.
"Vano cepat bawa Fira ke rumah sakit." panik Vanya sambil memegangi tubuh Fira yang sudah melemah.
"Gw, gw ga-papa Van." ucap lemah Fira.
"Enggak lo jangan banyak bicara, simpan tenaga lo. Ayo Van cepat." panik Vanya.
Vano pun akan membopong tubuh Fira tapi di dahului Farrel, yang membuat Vano dan Vanya menatap aneh pada Farrel karena wajah Farrel kelihatan khawatir banget.
__ADS_1
Farrel membawa Fira dalam gendongannya tanpa mengatakan sepatah katapun. Tubuhnya yang tadi terkena cipratan darah musuh sekarang semakin banyak darah yang menempel di tubuhnya, yang tak lain adalah darah Fira.
"Kamu harus kuat, jangan pejamin mata kamu." ucap Farrel menatap wajah Fira sambil menahan air matanya agar tidak keluar.
"A-ku ngan-tuk Rel, ma-afin aku ya, ka-lau aku, a-da salah, sa-ma ka-mu..."
"Fira, Fira bangun Fira." Farrel menguncang tubuh Fira yang sudah tidak sadarkan diri dalam gendongannya.
"Ayo kak cepat bawa Fira ke mobil." ajak Vano.
Mereka masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan oleh anak buah Vano, Vano yang menyetir mobil dan Vanya duduk di sampingnya. Sedangkan Farrel di jok belakang memangku tubuh Fira.
Vano melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit, dia sampai lupa untuk menghubungi Lucas.
-
Lucas di buat keteteran mengontrol semua yang Vano serahkan kepadanya. Bahkan Lucas terus mengumpati teman temannya karena meninggalkan dia sendiri bersama anak buahnya.
"Siap bos." Mereka segera membereskan apa yang di perintahkan Lucas.
"Kamu bawa nih orang lumpuh ke markas, jadikan satu dengan orang gila yang baru Farrel dapatkan." perintah Lucas lagi pada beberapa anggota WD.
"Siap bos." mereka segera membawa Marvel yang entah kenapa sekarang sudah pingsan. Mungkin saja tadi Lucas sudah malas mendengar ocehan mulut Marvel sehingga Lucas membuatnya tak sadarkan diri.
"Hufft... melelahkan." hela nafas Lucas.
"Semuanya kek ta*, mereka enak enakkan pacaran, sedangkan gw di sini kek orang gelanggang." maki maki Lucas sambil menatap penampilannya yang sudah acak-acakan dan banyak darah di bajunya.
Lucas pun segera pergi pulang ke apartemen untuk membersihkan dirinya, setelah itu dia akan ke rumah sakit untuk melihat keadaan Fira.
-
__ADS_1
"Sayang..." pangil Vano pada Vanya.
Sekarang mereka berdua sedang berada di taman rumah sakit. Mereka sudah berganti pakaian dengan yang bersih, tadi Vano menyuruh Sri untuk membawakan pakaian untuk dia, Vanya dan Farrel.
"Yank..." pangil Vano lagi karena Vanya tidak menjawabnya.
Vanya menatap lurus ke depan, di mana ada lampu lampu taman yang indah pada malam hari.
"Kamu marah sama aku?" tanya Vano tapi tak mendapat respon apapun dari Vanya.
"Ini yang aku takutin kalau sampai kamu tahu tentang identitas papa aku yang sudah separuhnya aku ambil, kamu bakal marah sama aku. Makanya aku rahasiakan ini dari kamu karena aku takut kamu akan ninggalin aku." ucap Vano meskipun tak mendapat respon dari Vanya tapi Vano yakin Vanya tetap mendengarkannya.
"Aku minta maaf sama kamu karena aku gak jujur sama kamu, aku mohon kamu jangan pergi ninggalin aku. Aku gak bisa hidup tanpa kamu, aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu." memegang tangan Vanya.
"Sayang... ngomong dong jangan diam aja kayak gini, nih silahkan tampar pipi aku, tonjok muka aku asal itu bisa ngurangin rasa marah kamu sama aku gapapa." menyodorkan pipinya pada Vanya.
"Yang penting kamu jangan diam aja kayak gini. Mendingan kamu marahin aku sepuas puasnya dari pada kamu diam aja kayak gini. Yank...plis ngomong." tanpa terasa air mata Vano menetes.
Wow, ini momen yang langka, seorang Geovano Alexander William yang selalu bersikap bodo amat dan dingin tiba tiba menangis karena cewek. Fix harus masuk dalam sejarah nih.
Vanya tetap diam saja, dia membiarkan Vano ngomong sepuasnya. Habisnya Vanya jengkel banget, bisa bisanya dia selama ini di bohongi oleh suaminya sendiri.
"Yank plis ngomong, aku harus gimana biar kamu bisa maafin aku, kasih tau aku. Apakah aku harus mati dulu biar kamu mau maafin aku."
Plak.
...***...
Maaf pendek, soalnya saya capek banget hari ini😁
Btw Senin nih, gada niatan kasih vote buat author apa🤭🤭
__ADS_1