My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 251


__ADS_3

Saat ini Rangga tengah berada di depan pintu rumah Sisil, dia berniat untuk menjemput Sisil untuk pergi bersamanya ke rumah Vano.


Ting tong.


"Assalamualaikum." teriak Rangga.


"Paket." lanjut Rangga.


"Waalaikum salam, gak ada yang pesan paket." teriak orang dari dalam yang Rangga tahu itu seperti suara papanya Sisil.


"Paket..." ucap Rangga lagi, tapi kali ini menggunakan nada seperti sound yang pernah viral pada masa itu.


"Udah di bilangin gak ada yang pesan paket kok masih nge...yel." seketika tawa Rangga pecah saat melihat ekspresi papanya Sisil yang menurutnya sangat ucul sekali.


"Hahahaha...."


"RANGGA...." teriak papanya Sisil yang sudah di kerjain oleh Rangga.


"Hehehe maaf Om," cengir Rangga.


"Ada apa kamu ke sini?" tanya papanya Sisil.


"Seperti biasa Om, nyari calon istri." balas Rangga.


"Gak ada." balas papanya Sisil singkat.


"Lah kok gak ada, Om jangan bohong sama Rangga. Pasti Om sembunyiin Sisil dari Rangga kan Om? Mana Sisil Om keluarin dia, kasian dia kalau harus di kurung Om." mendramatisir Rangga.


"Bisa botak saya kalau tiap hari harus ngarepin kamu kayak gini. Sisil gak ada di rumah, dia pergi sama Sonya." jelas papanya Sisil.


Brak.


Pintu tertutup dengan kerasnya di hadapan Rangga, untung saja Rangga enggak punya riwayat penyakit jantung. Coba kalau punya, bisa jadi janda si Sisil.


"Sabar Rangga, dia calon mertuamu." sabar Rangga sambil mengelus dadanya.


Rangga pun memutuskan untuk bertukar kabar dengan Galang untuk menanyakan di mana posisi temannya itu berada. Setelah mendapatkan apa yang dia minta, Rangga segera pergi menuju tempat yang Galang sebutkan dengan kecepatan tinggi biar bisa sampai di sana.


-


Sementara Cindy yang tengah menikmati uang dari seseorang yang mengajaknya kerjasama, dia tengah berada di cafe yang ada di dalam mall. Cindy tengah menunggu kedatangan kedua temannya yang katanya baru pulang dari sekolah.


"Hai Cin." sapa Kia dan Tasya yang baru sampai.


"Hai." balas Cindy.


Mereka bertiga pun berpelukan layaknya para wanita saat bertemu dengan para sahabat sahabatnya.


"Gimana kabar Lo?" tanya Kia pada Cindy.

__ADS_1


"Seperti yang kalian lihat, gw baik baik aja." jawab Cindy.


"Oh iya gw sampai lupa tawarin kalian makan, sono gih pesan ntar gw yang bayar." lanjut Cindy.


"Seriusan lo? Dapat uang dari mana lo kok sampai mau traktir kita?" tanya Kia.


"Udah itu gak penting, yang penting sekarang kalian boleh pesan makanan sesuka hati kalian. Tasya lo biasanya doyan makan, sono gih pesan yang banyak biar gw yang bayar." ucap Cindy.


"Beneran?" antusias Tasya.


"Iya, udah sana pesan."


Tasya pun dengan senang hati menyebutkan makanan apa yang dia pesan, begitu pula dengan Kia tapi dia tak seantusias Tasya.


"Ada apa nih, tumben tumbenan lo ngajak ketemu kita. Biasanya juga kita yang ngajak lo ketemu?" tanya Kia.


"Nanti aja gw jelasin setelah makanan kita sampai." jawab Cindy dan di angguki Kia.


Makanan pesanan mereka datang, mereka bertiga pun makan dengan tenang. Tasya sangat lahap dalam memakan makanan pesanannya. Bahkan Kia yang baru habis setengah dari porsi makannya, tapi Tasya sudah menghabiskan satu setengah porsi.


"Tasya lo doyan apa laper?" tanya Cindy yang melihat cara makan Tasya.


"Lapeul." jawab Tasya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Sekarang mereka bertiga sudah selesai makan, dan piring bekasnya pun sudah Cindy suruh pelayan cafe buat bersihin. Sedangkan Tasya yang kekenyangan pun meletakkan kepalanya di atas meja dan memejamkan matanya.


"Tasya lo gak mau tidur kan?" tanya Kia.


"Udah biarin aja, malah enak kalau dia lagi tidur gw jadi gak perlu ribet ribet buat jelasin." ucap Cindy melarang Kia mengganggu Tasya.


"Lo mau ngomong apaan?" tanya Kia.


"Lo mau gak bantuin gw?" tanya balik Cindy.


"Bantuin apaan?"


"Jadi gw di ajak kerjasama sama seseorang untuk menghancurkan pernikahan Vano dan Vanya. Dan gw menyetujui itu, lo mau gak bantuin gw?"


"Caranya?"


"Nanti gw jelasin caranya, tapi lo mau apa gak bantuin gw?"


"Iya gw mau, gw kan pernah bilang kalau mau bantuin lo dalam memberikan pelajaran buat Vanya." jawab Kia.


"Thanks Kia, lo memang sahabat terbaik gw." memeluk Kia dari samping.


"Iya gw tahu." balas Kia.


"Terus caranya gimana?" lanjut Kia.

__ADS_1


"Gini...." Cindy menjelaskan apa rencana yang sudah dia susun untuk menghancurkan Vanya, di mulai dari memberikan teror serta ancaman buat Vanya.


"Oke, berarti kita mulainya lusa?"


"Iya kita mulai lusa, lo gak sekolah kan?" tanya Cindy.


"Soal itu mah gampang, ntar gw bisa ijin kalau ada keperluan keluarga."


"Terus gimana sama tuh anak, apakah kita akan mengajaknya?" lanjut Kia sambil menatap Tasya yang sudah ketiduran.


"Untuk sementara kita berdua aja dulu, nanti kalau masalahnya sudah makin besar baru kita ajak Tasya." jawab Cindy.


"Oke deh kalau gitu."


Mereka berdua pun mengobrol banyak hal karena mereka jarang ketemu, jadi sekalinya ketemu jadi banyak topik.


-


"Assalamualaikum." sapa Sonya dan Sisil saat memasuki rumah Sonya.


"Waalaikum salam." jawab Galang.


"Loh kok kamu ada di sini?" tanya Sonya kaget saat melihat keberadaan Galang.


"Galang itu udah dari tadi di sini nungguin kamu, tapi kamunya lama gak pulang pulang." sahut mamanya Sonya yang baru datang entah dari mana.


"Assalamualaikum Tante." sapa Sisil mencium punggung tangan mamanya Sonya.


"Waalaikum salam Sisil cantik." balas mamanya Sonya.


Sonya pun juga mencium punggung tangan mamanya serta kedua pipi mamanya.


"Sonya ke kamar dulu ma, mau ganti baju." pamit Sonya dan berlalu menuju kamarnya.


"Ayo Sisil silahkan duduk, biar Tante buatin minum juga untuk kamu." mempersilahkan Sisil untuk duduk di sofa yang bersebrangan dengan Galang.


"Gak usah repot-repot Tante, tapi kalau Tante maksa Sisil mau." balas Sisil yang membuat mamanya Sonya mengelengkan kepalanya.


Mamanya Sonya pun beranjak hendak menuju dapur, tapi belum sampai meninggalkan ruang tamu sudah ada tamu lagi.


"Assalamualaikum." sapa Rangga dari depan pintu rumah Sonya.


"Waalaikum salam." jawab mamanya Sonya dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur, dia membukakan pintu untuk Rangga.


"Cari siapa ya mas?" tanya mamanya Sonya pada Rangga.


"Halo Tante, kenalin nama saya Rangga temennya Galang juga Sonya dan satu lagi yang harus Tante ingat, saya pacarnya Sisil." perkenalan Rangga membuat mamanya Sonya ingin tertawa. Ternyata anaknya juga punya temen yang modelannya kayak Rangga. Banyak gaya dan juga pede.


"Ooh iya nak Rangga ayo silahkan masuk, yang lain sudah ada di dalam." ujar mamanya Sonya mempersilahkan Rangga masuk.

__ADS_1


Dengan pedenya Rangga masuk mengikuti langkah mamanya Sonya.


...*** ...


__ADS_2