My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 178


__ADS_3

Plak.


Satu tamparan keras mendarat di pipi Vano dari tangan Vanya yang seketika membuat Vano diam.


"Maaf, aku gak sengaja." ucap Vanya merasa bersalah melihat pipi Vano yang memerah.


Vano diam saja sambil memegangi pipinya dan menatap Vanya serius.


"Maaf... habisnya aku gak suka kamu bicara seperti itu." ucap Vanya lagi sambil menunduk.


Vano memegang dagu Vanya dan menarik dagu Vanya agar menatap ke arahnya.


Cup.


Vano main nyosor aja ke bibir Vanya.


"Kamu gak perlu minta maaf, kamu gak salah. Gak seharusnya aku bicara kayak tadi, dan gak seharusnya juga aku nutupin semua itu dari kamu. Kamu mau kan maafin aku." menggenggam kedua tangan Vanya sambil matanya tak pernah lepas dari mata Vanya.


Vanya diam dan setelah itu mengangguk di iringi senyuman yang sangat manis yang bisa buat Vano sakit diabetes.


Cup.


"Makasih sayang." ucap Vano setelah mencium kedua tangan Vanya.


Bruk.


Vanya berhambur ke pelukan Vano dan Vano pun membalasnya.


"Tapi kamu harus janji sama aku, jangan ada lagi yang kamu sembunyikan dari aku." ucap Vanya dalam pelukan Vano.


"Iya, aku akan berusaha selalu terbuka sama kamu." balas Vano.


Mereka berpelukan sambil menikmati udara malam hari di taman rumah sakit.


"Kita masuk yuk, siapa tau operasi Fira udah selesai." ajak Vano.


"Yuk."


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah sakit sambil bergandengan tangan mesra.


-


"Gimana keadaan Fira Rel?" tanya Lucas yang baru saja sampai di rumah sakit.


Farrel mengelengkan kepalanya lemah sebagai jawaban buat Lucas.


"Lo yang sabar ya, banyak banyak berdoa biar Fira tidak kenapa napa." menepuk pundak Farrel.


"Thanks." balas Farrel lemah.


"Gimana, operasinya udah selesai belum?" tanya Vanya setelah sampai di hadapan Farrel.


Farrel mengangkat dagunya menunjuk ruang operasi yang lampunya masih menyala, dan Vanya mengikuti pandangan Farrel.

__ADS_1


"Maaf ini semua gara gara aku, seandainya saja Fira gak nyelamatin aku mungkin Fira gak akan kayak gini." sedu Vanya menyalakan dirinya sendiri.


"Hei, dengerin aku. Ini semua bukan salah kamu, ini sudah takdir Fira." ucap Vano menenangkan Vanya.


"Iya, tapi Fira kayak gini karena nolongin aku." kekeh Vanya.


"Princess, dengerin kakak, ini bukan salah kamu, ini kemauan Fira sendiri. Jadi kamu gak usah nyalahin diri kamu sendiri ya..." sekarang giliran Farrel yang menenangkan Vanya.


Farrel akan menarik Vanya dalam pelukannya tapi segera di tahan oleh Vano. Vano yang mempunyai sifat cemburu dan posesif di atas rata-rata pun tak terima jika wanitanya berpelukan dengan cowok lain meskipun itu saudaranya sendiri.


"Dasar posesif." ucap Farrel.


"Bodo amat." menarik Vanya dalam pelukannya.


Tiba tiba ruangan operasi terbuka dan muncullah satu dokter serta satu perawat di belakangnya.


"Dok, gimana keadaan teman saya?" tanya Farrel.


"Begini, karena tadi pasien mengeluarkan banyak darah jadi sekarang pasien memerlukan donor darah, golongan darah pasien AB negatif dan itu salah satu golongan darah yang langka stok di rumah sakit ini pun tidak ada, jadi kita harus segera mencarinya karena keadaan pasien makin kritis." jelas dokter itu.


"Darah aku A." gumam Vanya.


"Aku B." sahut Vano.


"Nah bisa di gabung tuh." canda Lucas.


"Lucas...." tekan Vano.


"Hehehe maap." cengir Lucas.


"Lo seriusan Rel?" tanya Lucas.


"Ya udah mari ikut saya biar kita periksa dulu." ajak dokter itu.


Farrel pun segera mengikuti langkah dokter itu mengabaikan pertanyaan Lucas.


(untuk golongan darahnya itu sebenarnya tidak langka ya, author itu ngarang 😁 itu hanya sebagai pemanis dalam cerita saja.)🙏


"Sial*n si Farrel, mentang mentang udah ada cewek gw di lupain." maki Lucas.


"Gw curiga deh sama mereka berdua, keknya ada yang mereka sembunyikan." lanjut Lucas.


"Maksud lo?" tanya Vano.


"Entahlah, gw merasa Farrel kek aneh gitu kalau lagi sama Fira." jawab Lucas.


"Ya mungkin saja karena mereka rekan dan sering ketemu juga, jadi mereka akrab kayak gitu." positif tingking Vanya.


"Bisa juga gitu sih." timpal Lucas.


"Van..." manja Vanya.


"Kenapa hmm?"

__ADS_1


"Aku takut..."


"Takut kenapa, kan aku ada di sini."


"Aku takut Fira nanti kenapa kenapa." takut Vanya.


"Sssuutttt... udah kamu yang tenang, kamu gak usah takut. Fira itu orangnya kuat jadi kamu harus yakin kalau Fira bakalan sembuh seperti semula. Mendingan sekarang kamu doain Fira agar dia cepat sadar." menenangkan Vanya dan Vanya pun mengangguk saja sebagai balasannya.


-


Pagi hari


Mereka berempat semalam menginap di rumah sakit, sebenarnya semalam Vano meminta agar Vanya pulang dan istirahat di rumah, tapi dasar Vanya nya aja yang keras kepala, dia tetap kekeuh tetap tinggal di rumah sakit. Akhirnya Vano pun menyewa satu ruangan VVIP dan juga menyuruh anak buahnya untuk mencarikan kasur ranjang buat mereka istirahat semalam.


Vanya masih tidur di ranjang, sedangkan Lucas dia juga masih tidur tapi tidak di ranjang melainkan di sofa panjang yang ada di sana.


Vano sudah bangun, dia menyiapkan sarapan untuk mereka semua melalui gofood. Farrel? entahlah di mana dia sekarang, semalam saat Vano terbangun dia melihat Farrel yang duduk selonjoran di sofa sambil memandang kosong ke depan, entah apa yang dia pikirkan. Tapi tadi saat Vano bangun, dia sudah tidak mendapati Farrel di sana.


"Sayang bangun yuk kita sarapan dulu." ajak Vano membangunkan Vanya.


"Eemmhh.." lengkuh Vanya malah semakin menarik dan melilitkan selimut ke tubuhnya.


Vano mengelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya itu.


"Sayang bangun, katanya semalam mau jagain Fira. Ehh ini kok malah tiduran." ucap Vano lagi tapi tetap saja tak mendapatkan respon dari Vanya.


"Aku hitung sampai tiga, kalau sampai kamu gak bangun juga. Aku gendong kamu ke kamar mandi." ancam Vano.


Mendengar itu refleks Vanya terbangun dan duduk di atas ranjang, tapi matanya masih terpejam.


Vano terkekeh melihat itu, istrinya ini memang aneh bin ajaib.


"Udah ayo cepat bagun, cuci muka setelah itu kita makan." perintah Vano.


"Ngantuk." ujar Vanya dengan suara yang masih serak efek bangun tidur.


"Ya udah sini aku gendong." ancam Vano, siapa tau kan nanti Vanya tiba tiba lari ke kamar mandi.


"Ayo." ajak Vanya sambil merentangkan kedua tangannya minta di gendong.


"Apa?" bingung Vano.


"Iiiss katanya tadi mau gendong, ayo..." kesal Vanya.


"Beneran?"


"Tauk ahh." Vanya kesal bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


"Kalau gak mau gendong ya gak usah nawarin." ngedumel Vanya yang membuat Vano terkekeh lagi.


Vano segera berjalan dan mengendong Vanya ala bridal style menuju kamar mandi.


"Kyaaa..." kaget Vanya karena Vano tiba tiba menggendongnya.

__ADS_1


"Pagi pagi udah liat yang beginian, nasib jomblo." gumam Lucas yang sudah sadar dan melihat adegan Vanya dan Vano barusan.


...***...


__ADS_2