My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 83


__ADS_3

Sementara di tempat Vano dia tengah memang wajahnya di depan cermin yang ada di kamarnya. Dan tiba-tiba saja handphonenya berdering, dia pun segera membukanya.


Ada kiriman beberapa foto dari anak buahnya yang membuat darahnya mendidih.


"Aarrrgg." teriak Vano marah.


Prang...


Vano melempar ponselnya yang seharga jutaan itu kelantai hingga hancur berkeping-keping.


"Aarrrgg..." teriak frustasi Vano lagi sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah dia rapikan tadi.


Mata Vano menatap tajam ke arah cermin, ada kilatan amarah yang memuncak dalam tatapan itu.


"Vanya, kenapa lo selingkuh di belakang gw." gumam Vano sambil mengertakkan giginya hingga berbunyi.


Ceklek


"Vano yuhuuu... makan malam sudah sia..." ucapan Lucas terhenti saat melihat keadaan rambut Vano yang acak-acakan dan jangan lupakan serpihan ponsel yang berceceran di lantai.


"Van..." Lucas menghampiri Vano.


Vano menatap Lucas dengan pandangan sama seperti tadi.


"Lo kenapa Van?" tanya Lucas.


Vano tidak menjawab pertanyaan Lucas, melainkan dia menyodorkan tangannya guna meminta sesuatu.


"Apaan?" tanya Lucas bingung.


"CK. Gw pinjem ponsel lo bentar." jawab Vano dengan muka datar.


"Lah, lo udah miskin Van. Kemana ponsel lo?"


"Lo jangan pura pura gak tau deh, cepat sini gw pinjem.'' ucap Vano dengan nada agak membentak, dia sekarang lagi malas buat berdebat.


"Nih." Lucas menyerahkan ponselnya pada Vano.


"Gitu aja gaya gaya an banting ponsel, akhirnya pinjem juga kan." gumam Lucas mengejek Vano yang masih terdengar oleh Vano.


"Apa lo bilang, balikin semua yang udah gw beliin kemarin." ancam Vano dengan memelotot kan matanya.


"Hehehe... gak gak gw becanda Van." mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya membentuk huruf V.


Vano tak menghiraukan Lucas, dia mengotak atik handphone Lucas dan setelah itu meletakkan nya di pinggir telinganya.


"Halo." sapa Vano saat panggilan sudah tersambung.


"Halo Van ada apa?"balas seseorang yang ada di sebrang sana.


Lucas pun hanya memperhatikan dan di segera mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar Vano.


"Siapkan pesawat, besok pagi harus sudah ada di sini. Saya mau pulang besok." perintah Vano pada asisten Rudi yang berada di seberang sana.


"Tapi Van kamu bisa pulangnya lusa kar..."

__ADS_1


"Vano gak mau tahu Om, kalau om gak siapin pesawatnya Vano bisa pulang sendiri pakai pesawat biasa." Potong Vano tidak menerima bantahan.


"Bukannya gak mau siapin Van, tapi kan kamu harus men..."


"Vano sudah menyelesaikan tugas Vano di sini Om." Potong Vano lagi.


"Baiklah Om akan si..."


Tut..


Tanpa menunggu jawaban dari asisten Rudi Vano memutuskan panggilannya secara sepihak.


Hufft...


Vano menghela nafasnya sebentar, setelah itu dia menatap kearah Lucas yang tengah duduk berleha-leha di sofa empuk yang ada di kamarnya.


"Enak banget hidup Lo." ucap sinis Vano.


"Iya lah, emang lo banyak masalah." ejek Lucas sambil menaikkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya.


"Sial*n lo. Pergi sana beliin gw ponsel baru." usir Vano.


"Idih emang lo siapa berani banget nyuruh nyuruh gw." songong Lucas.


"Ya udah kalau gak mau, padahal tadi gw mau suruh lo buat bawa black card gw buat jajan sekalian." mengkipas kipaskan black card yang ada di tangannya dengan wajah yang tak kalah songong dari Lucas.


Lucas yang mendengar itupun dengan secepat kilat langsung berdiri dan berjalan dengan cepat menghampiri Vano dan merampas black card yang ada di tangan Vano.


"Tadi gw salah ngomong kok, maksud gw tadi tuh sini gw beliin gitu." elak Lucas.


"Biarin, ini mau yang merk apa trus mau warna apa?" tanya Lucas.


"Lo tahu sendiri selera gw seperti apa." jawab Vano.


"Baiklah gw pergi dulu, jangan salahkan gw kalau nanti uang yang ada di kartu ini gw abisin."


"Silahkan kalau lo bisa." tantang Vano.


Lucas pun pergi meninggalkan kamar Vano, tapi saat dia akan menutup pintu Vano memangilnya kembali.


"LUCAS TUNGGU SEBENTAR." Teriak Vano agar Lucas bisa mendengar suaranya.


"Apaan lagi." dengan malas Lucas membalikkan badannya.


"Sekalian panggilkan pelayan buat bersihin kamar gw." suruh Vano sambil berlalu pergi mendahului Lucas.


"Ehh lo mau ke mana?" tanya Lucas.


"Ke atas gw butuh pelampiasan." jawab Vano tanpa menatap ke arah Lucas yang ada di belakangnya.


Lucas hanya ber O saja, dia pun pergi untuk mencarikan handphone untuk Vano sekaligus berbelanja mengunakan black card milik Vano.


Sedangkan Vano pergi ke lantai paling atas yang ada di mansion ini, di sana terdapat sebuah tempat untuk olahraga. Vano ke sana karena ingin memukuli samsak sebagai pelampiasan amarahnya.


-

__ADS_1


Jakarta


"Vanya seneng banget akhirnya kakak sudah sembuh." ucap Vanya kepada Dia.


"Kakak juga senang bisa melihat wajah cantik princess lagi." gombal Dia.


"Iiih kakak gombal deh." dengan pipi yang mulai memerah bak kepiting rebus.


"Hhhhh... kenapa mukanya merah gitu?"


"Iiih kakak Vanya malu..." menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Iiih kakak gemes banget deh sama princess, rasanya ingin kakak masukin dalam karung trus kakak lempar ke lautan." memeluk Vanya yang sedang duduk di sampingnya dengan erat.


Oh ya mereka sekarang sudah masuk ke dalam kamar di mana tempat Dia di rawat bukan di taman lagi.


"kakak mau bunuh Vanya." ucap Vanya berusaha melepaskan pelukan Dia yang sangat kencang sehingga membuat Vanya susah bernafas.


"Hehehe maaf habisnya kakak kangen banget sama princess." melepaskan pelukannya.


"Untung aja kakak gak hilang ingatan." ucap Vanya.


"Heh, kalau ngomong itu yang baik baik. Kamu doa in kakak hilang ingatan nanti kalau beneran gimana." mengetuk jidat Vanya.


tuk.


"Sakit tauk." mengelus jidatnya.


"Ulu ulu ulu mana yang sakit, sini nak ibu obatin." ucap Dia dengan nada mengejek.


"Kak Vanya boleh tanya gak, sebenarnya apa yang terjadi setelah kakak selamatin Vanya dulu." tanya Vanya dengan mode serius.


"Kamu gak usah tahu ya, kan yang penting sekarang kakak sudah ada di sini temani kamu." mengelus rambut Vanya.


"Tapi kak Vanya ingin tahu, kan semua ini terjadi karena Vanya." memandang Dia.


"Kamu gak perlu merasa bersalah, ini terjadi bukan karena kamu." menghibur Vanya agar tidak merasa bersalah.


"Tapi tetap saja Vanya ingin tahu kak." mohon Vanya.


"Kakak takut nanti princess akan kepikiran, mendingan princess gak usah tahu aja ya."


"Kak.... pliss..." memandang Dia dengan wajah yang seimut mungkin agar Dia luluh.


"Hufft... Baiklah kakak akan ceritakan semuanya sama princess, tapi princess harus janji sama kakak nanti gak boleh kepikiran oke."


"Iya aku janji sama kakak." janji Vanya.


"Jadi waktu itu...."


Flashback on:


Roka Farrel Dean Wang lelaki berumur 23 tahun yang biasa di sapa Farrel, dia adalah....


...***...

__ADS_1


__ADS_2