
"Halo bos sepertinya adiknya target kita akan pergi ke mall di temani asisten rumah tangganya." lapor orang yang selalu memantau Vanya kepada bibinya Farrel melalui sambungan telepon.
"Berapa jumlah bodyguard yang mengikutinya?" tanya bibinya Farrel.
"Sepertinya tidak ada bos, tapi kalau bodyguard bayangan ada cuma beberapa."
"Bagus, kita lancarkan aksi kita sekarang. Terus ikuti kemanapun dia pergi dan laporkan pada saya."
"Baik bos."
Tut.
"Hahahaha..." tawa bibinya Farrel setelah memutuskan pangilannya dengan anak buah yang memantau Vanya.
"Farrel Farrel, lihatlah bibimu ini. Sebentar lagi kau akan tunduk denganku, karena princess kecilmu ada di tanganku."
"Hahaha..." tawa mengerikan bibinya Farrel.
"Aku harus menghubungi Marvel agar dia memerintahkan anak buahnya untuk menculik Vanya sekarang juga." monolog bibinya Farrel.
"Halo tuan Marvel." sapa bibinya Farrel pada ketua mafia white Devil yang selama ini membantunya.
"Hmm." jawab Marvel.
"Sekarang dia berada di mall, dan hanya sedikit yang menjaganya. Kerahkan semua anak buah mu untuk menculiknya." ucap bibinya Farrel memerintah.
"Tidak usah merintah merintah saya. Saya sudah tau apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan kelinci kecilku."
Tut.
Setelah mengucapkan itu Marvel segera mematikan sambungan teleponnya dengan bibinya Farrel.
"Dasar wanita tua banyak tingkah." gumam Marvel.
"Kelinci kecilku, tunggu sebentar lagi kita akan bersama." lanjutnya lagi sambil tersenyum membayangkan wajah Vanya.
Ya, Marvel mau di ajak kerjasama oleh bibinya Farrel itu karena dia mengincar Vanya, kalau tidak begitu mana mungkin Marvel mau.
Marvel jatuh cinta pada pandangan pertama pada Vanya saat Vanya kecil dulu. Dulu Vanya kecil sering berlibur ke China dan bermain di taman. Suatu ketika Marvel yang tengah bermain sepeda di taman terjatuh, dan kebetulan Vanya kecil berada di sana. Karena Vanya hatinya yang sangat lembut dan baik maka dia menolong Marvel yang saat itu menangis akibat terjatuh. Dari situlah Marvel terobsesi akan mendapatkan Vanya apapun yang terjadi. Mendengar kelinci kecilnya ada di Indonesia, Marvel pun memutuskan untuk pergi ke Indonesia mencari kelinci kecilnya.
Marvel pun segera memerintahkan anak buahnya untuk mendatangi mall yang Vanya kunjungi, dan menyuruh mereka untuk menculik Vanya setelah itu membawa Vanya ke mansion miliknya yang ada di Indonesia.
-
Vanya dan Fira sampai di mall dan mereka pun segera masuk ke sana.
__ADS_1
"Kamu mau cari apa?" tanya Fira.
"Entahlah aku juga bingung, semuanya di aku sudah punya di rumah." jawab Vanya.
"Gak heran sih, kamu kan istrinya tuan muda Vano yang kaya raya, jadi semua kebutuhan kamu pasti sudah tersedia." ujar Fira sambil terkekeh.
"Tuh kamu tahu. Mendingan kamu aja yang belanja, dan aku akan mengantar kamu. Sekalian deh aku traktir kamu." Vanya menawari Fira.
"Enggak deh, gak enak aku sama Vano. Vano udah gaji aku mahal mahal, ehh taunya malah masih minta traktir istrinya." tolak Fira sambil becanda.
"Iiih, ini aku loh yang mau traktir kamu bukan kamu yang minta traktir aku. Jadi kamu mau ya..."
"Ya udah deh, mana bisa nolak aku kalau itu permintaan nyonya Vano." canda Fira.
"Apaan sih kamu."
Mereka pun berjalan mencari keperluan Fira sambil menunggu orang orang yang akan menculik Vanya.
-
Sementara Vano, Farrel dan Lucas. Mereka baru saja sampai di mall, tapi mereka tidak lewat depan melainkan lewat pintu belakang mall. Itu pun mereka menyamar mengunakan masker serta kaca mata hitam dan tak ketinggalan topinya juga hitam.
"Kalian langsung saja ketempat masing-masing." perintah Vano.
"Trus gw naik apa?" tanya Farrel, pasalnya tidak mungkin kan nanti dia akan mengikuti mobil penculik menggunakan mobilnya, yang ada malah ketahuan.
"Lo nanti naik itu." tunjuk Vano pada sebuah mobil taksi.
"Lo-lo maling taksi Van?" tuduh Lucas.
"Sembarang Lo, enak aja ganteng ganteng gini kok di katain maling. Lagian uang gw masih banyak buat beli mobil gituan, jangankan mobilnya perusahaannya pun bisa gw beli." sombong Vano.
"Dahlah kumat." ucap Farrel.
"Udah sana kalian pergi." usir Vano.
"Iya iya bawel."
Lucas pun segera masuk ke dalam mall, sedangkan Farrel segera menuju mobil taksi yang sudah Vano siapkan di sana.
Sedangkan Vano sendiri, dia kembali masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi dari sana menuju suatu tempat.
-
"Monitor monitor, target sudah masuk." ucap Lucas memberitahu kepada yang lainnya.
__ADS_1
Oh iya semua yang ikut dalam misi ini kecuali Vanya, mereka memakai benda seperti handset di telinganya untuk saling bertukar kabar.
"Jalan kan." jawab Fira yang mendengar pemberitahuan Lucas.
"Van kita cari tas yuk." ajak Fira pada Vanya.
"Ya udah yuk." mereka pun pergi menuju sebuah toko tas branded yang beberapa waktu lalu Fira pasangi cctv.
-
Sementara anak buah Marvel berpencar di dalam mall. Tak hanya sepuluh atau dua puluh, tapi Marvel mengarahkan hampir seratus anak buahnya untuk menculik Vanya. Karena Marvel tau Vano tak akan semudah itu melepaskan istrinya sendiri.
"Hahaha lo mau main main sama gw, gak akan bisa." tawa Marvel dalam sebuah ruangan yang gelap sambil di hadapannya ada laptop yang canggih.
"Vano Vano,lo pikir gw sebodoh itu sampai bisa lo kibulin." lanjutnya lagi.
Marvel merentas cctv yang ada di tangan Lucas tanpa sepengetahuan Lucas. Dan akhirnya Marvel pun tahu apa yang di rencanakan oleh Vano.
Marvel pun segera menghubungi anak buahnya yang berada di mall, dan mengarahkan mereka kemana saja mereka harus pergi.
"Halo bos." sapa anak buahnya dari sebrang sana.
"Kalian hati hati, di sana banyak cctv yang mengintai kalian. Dan satu lagi, kalian jangan anggap remeh mall itu, karena mall itu sudah di kuasai oleh Vano dan atek ateknya." ucap Marvel pada anak buahnya.
"Baik bos."
Tut.
Marvel pun segera memutuskan sambungan telepon dan kembali fokus pada laptop di hadapannya.
"Gw harus rentas cctv yang ada di jalanan." gumam Marvel dan segera melakukan apa yang dia inginkan.
-
Sedangkan Vano, dia yang sudah mengetahui di mana bibinya Farrel menemui ketua mafia white Devil pun segera pergi ke sana untuk melihat situasi di sana.
Vano sampai di daerah mansion milik Marvel, Vano tidak berani membawa mobilnya mendekat ke sana karena nanti akan di curigai oleh anak buah Marvel. Jadi Vano memakirkan mobilnya jauh dari mansion Marvel.
"Gimana caranya gw bisa masuk ke sana." gumam Vano sambil berfikir.
Vano teringat dengan kamera drone yang baru dia buat. Vano pun mengambilnya di dalam tas ransel yang dia bawa.
Drone itu Vano buat dengan tembus pandang, sehingga orang orang dari bawah tidak dapat melihat kalau drone itu melintas di atasnya.
...***...
__ADS_1