
"PRANK..." teriak papa William membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Selamat kameranya saya taruh di situ." tunjuknya pada makanan yang ada di meja. Di mana di sana tidak ada kamera sama sekali.
"Apaan sih pa, geje banget." ucap Vino.
"Tau tuh papa kamu." sahut mama Fara.
"Berarti gak jadikan Om, Lucas tetap dapat mobil kan?" tanya Lucas penuh harap.
"Hmm, mana mungkin sih Om tarik lagi barang yang sudah Om kasih ke kamu." jawab papa William.
"Makasih Om Wili, Om memang paling the best deh." puji Lucas.
"Gak perlu kamu puji juga Om udah tahu." jiwa sombong papa William keluar.
"Kumat." sindir papa Wijaya.
"Kayak kamu gak tahu sahabat kamu aja." sahut mama Fara.
"Suami kamu itu." sahut mama Vani.
"Papanya Vano itu." balas mama Fara.
"Lah, perasaan Vano udah diam deh. Kenapa masih di ikut ikutin juga." ucap Vano jengah.
"Aaa tinggal dikit lagi." lanjut Vano yang sedari tadi menyuapi Vanya.
Vanya pun menerima suapan dari Vano. Vano tidak akan membiarkan istrinya itu ikut nimbrung pembicaraan keluarganya yang absurt itu.
Sedangkan pasangan pengantin baru itu juga sama dengan Vanya dan Vano yang hanya diam saja tak ikut nimbrung dalam pembicaraan yang tak berfaedah itu.
"Udah lah kalian kalau gak mau ngakuin aku juga gak papa, aku itu papanya Vino. Iya kan Vin?" sela papa William.
"Kata siapa, maaf ya papa Vino itu tidak pelit kayak kamu. Iya kan om?" jawab Vino yang membuat mata papa William melotot.
"Hahaha rasakan itu emang enak." ejek papa Wijaya.
"Dahlah, cape saya." sedu papa William pura pura sedih tapi tidak ada yang peduli.
"Vano sama Vanya udah selesai ma, pa. Kita mau pamit pulang dulu, Assalamualaikum." pamit Vano menuntun Vanya agar berdiri.
"Loh kok mau pulang sih, aku kan masih pengen di sini." ucap Vanya.
"Kapan kapan lagi ya kita kumpul lagi, kamu kan semalam suruh aku buat potong rambut, jadi sekarang kita harus pergi ke salon anterin aku potong rambut." balas Vano.
"Kan potong rambut bisa nanti." sela mama Fara.
"Tau tuh Vano, bilang aja mau berduaan." timpal Lucas.
"Udah deh lo tuh diem aja, pusing gw denger suara Lo." sentak Vano.
__ADS_1
Lucas pun diam tak membalas ucapan Vano lagi.
"Ya udah kalau kalian mau pergi hati hati ya di jalan. Vano mama titip Vanya sama kamu ya, jagain dia dengan baik." ucap mama Vani.
"Iya ma, Vano akan jagain Vanya. Mama tenang aja." balas Vano.
"Kalau gitu kami pamit dulu, Assalamualaikum." pamit Vano lagi.
"Ma, pa Vanya pamit dulu ya." pamit Vanya juga pada orang tua serta mertuanya.
"Waalaikum salam. Kalian hati hati di jalan, kalau ada apa apa langsung telefon kami."
Vanya dan Vano pun pergi dari sana meninggalkan hotel dengan mobil Alphard yang di sopir oleh mang Udin.
Setelah kepergian mereka Farrel dan Fira pun ikutan pamit, mereka pulang menuju rumah yang baru Farrel beli dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Vano.
-
Dalam perjalanan pulang Vanya sangat manja dengan Vano, duduk aja Vanya bersandar di pundak Vano.
"Kenapa hmm?" tanya Vano sambil tangannya mengelus rambut Vanya.
"Gak papa, pengen manja manjaan aja sama kamu." jawab Vanya menatap Vano.
"Oooh jadi mommy mau manja manjaan sama Daddy nih ceritanya."
"Iya Daddy, mommy mau bermanja-manja seharian sama Daddy." balas Vanya.
"Atit." memanyunkan bibirnya.
"Atututu...maap ya, sini aku tium." memajukan bibirnya ingin mencium Vanya tapi di tahan oleh Vanya.
"Kenapa sih yank?"
Vanya memberikan kode dengan gerakan mata kalau masih ada orang lain di sana, yaitu mang Udin.
"Biarin aja sih, lagian mang Udin juga gak liat. Iya kan mang?" tanya Vano pada mang Udin.
"Hah, i-iya tuan." jawab mang Udin gugup.
"Tuh, kamu denger sendiri kan."
"Ya tapikan kamu juga harus tahu tempat dong."
"Ya udah, awas aja nanti kalau udah di rumah, aku garap sampai habis kamu." ancam Vano.
"Oh tidak bisa, kamu gak ingat kalau aku lagi hamil."
"Oh iya aku lupa," menggeplak dahinya sendiri.
"Maafin Daddy ya sayang, Daddy udah melupakan kamu." berjongkok dan mengajak bicara perut Vanya.
__ADS_1
"Daddy jahat, baby marah sama Daddy." balas Vanya menirukan suara anak kecil.
"Yah, baby maafin Daddy dong, kamu mau apa agar kamu bisa maafin Daddy hmm?"
"Aku mau nonton konser BTS Daddy." jawab Vanya yang membuat Vano mendongakkan kepalanya.
"Hehehe boleh ya." cengir Vanya.
"Kan kamu lagi hamil, jadi kamu gak boleh capek capek." menegakkan tubuhnya.
"Ya nanti kamu pesen tiket yang VVIP biar aku gak capek. Pokoknya kamu pesen tempat duduk yang paling nyaman." balas Vanya.
"Nanti aja ya."
"Yah, kamu gak mau ya turutin kemauan aku." sedu Vanya.
"Bukannya begitu, aku gak mau ka..."
"Ya udah gak papa, mungkin belum rejeki aku aja bisa ke sana." potong Vanya.
Vanya menjauhkan tubuhnya dari Vano, dia bersandar pada kaca jendela mobil dan membuang wajahnya ke keluar jendela menatap trotoar yang ada di sepanjang jalan.
"Sayang..." pangil Vano mendekati Vanya.
"Hmm." balas Vanya cuek dan tak menatap Vano.
"Bukan gitu maksud aku, kamu kan gak boleh terlalu capek. Nanti gimana kalau babynya kenapa kenapa." ujar Vano.
"Iya." balas Vanya cuek.
"Yank." pangil Vano."
"Hmm." balas Vanya tak mau melihat Vano.
"Liat sini dong." suruh Vano tapi tak di hiraukan oleh Vanya.
"Sayang... lihat sini dong." menarik dagu Vanya agar menatap ke arahnya.
"Loh kok nangis." ucap Vano saat melihat air mata Vanya hampir menetes.
"Kamu kan kaya, bisa lakuin apa pun yang kamu mau. Masak iya ajak istri nonton konser aja gak bisa."Vanya mengeluarkan unek-uneknya.
"Kan gak semua hal bisa aku lakukan sayang, aku gak mau ambil resiko buat baby kita." balas Vano sambil tangannya menghapus air mata Vanya yang sudah mulai turun.
"Ya udah kalau kamu gak bisa, aku bisa kok beli tiket sendiri pakai uang aku, sekalian nanti aku juga bisa kok cek up ke dokter untuk memastikan keadaan baby aman atau enggak kalau aku bawa ke luar negeri."
"Loh, gak gitu loh yank. Aku bisa kok beliin kamu tiket bahkan ajak mereka buat foto sama kamu pun aku bisa tapi..."
"Kalau gak bisa ya tinggal bilang aja. Aku tuh pengen banget ke sana, dari dulu aku pengen nonton konser tapi gak di ijinin sama papa. Katanya gak ada yang papa percaya buat jagain aku. Sekarang aku udah ada suami ehh malah suaminya gak mau." potong Vanya lagi.
...***...
__ADS_1