
waktu cepat berlalu, hari ini weekend, tepatnya Vano akan melancarkan aksinya di mall. Vano juga sudah memberi tahu kedua sahabatnya kalau dia sudah menikah dengan Vanya. Sama seperti Sonya dan Sisil, Rangga dan Galang waktu itu juga kaget sekaligus ingin marah sama Vano, tapi setelah mendengar penjelasan Vano akhirnya mereka memaklumi itu.
"Van bangun." Vanya membangunkan Vano yang masih setia memejamkan matanya, padahal ini sudah jam enam.
"Hmm." gumam Vano tanpa membuka matanya.
"Iiiss Vano... bangun." Vanya menguncang tubuh Vano agar membuka matanya.
"Apa sih yank, aku masih ngantuk." ucap Vano menarik selimut menutupi tubuhnya dan membalikkan badannya memunggungi Vanya.
"Vano bangun gak." tegas Vanya tapi masih saja tak di respon oleh Vano.
"Oke kalau kamu masih tetap gak mau bangun juga, rasakan ini."
"Aaaa...sakit yank." jerit Vano lantaran Vanya mengigit lehernya dengan keras hingga meninggalkan jejak keunguan dan cap gigi Vanya.
"Makanya bangun." omel Vanya.
"Iya iya." kesal Vano yang merasa tidurnya terganggu.
Vano bangun dan bersandar di sandaran ranjang, dengan selimut yang menutupi pinggang sampai kaki Vano sehingga perut kotak kotak Vano terlihat.
Ya, semalam mereka melakukan itu, dan setelah selesai Vano malas memakai pakaiannya kembali, alhasil dia hanya memakai celana bokser super ketat saja.
Vanya memandangi perut Vano tanpa kedip, meskipun sering melihatnya, tapi Vanya masih saja sering merasa terpesona dengan tubuh atletis suaminya yang tampan itu.
"Kenapa hmm, mau pegang?" tanya Vano yang memergoki Vanya tengah menatap perutnya.
"Hah, udah cepat sana mandi." gagap Vanya mengalihkan pembicaraan.
"Mandiin dong." goda Vano sambil mengedipkan satu matanya.
"Vano..."
"Iya sayangku."
"Mandi gak." garang Vanya.
"Gak mau." tolak Vano.
"Vano mandi sekarang juga."
"Mandiin, kalau gak di mandiin aku gak mau mandi."
Vanya menatap tajam Vano dan di balas tatapan tajam juga oleh Vano.
"Apa?" ucap Vano.
Karena sudah kesal waktunya terbuang untuk membangunkan Vano, Vanya pun mengambil bantal guling dan menimpuki Vano.
__ADS_1
"Rasain ini, mandi gak."
Bug bug bug.
"Aduh yank udah yank." ujar Vano pura pura kesakitan, padahal mah bantal guling mana terasa kalau buat nimpuk tubuh Vano yang atletis itu.
"Rasain ini."
Bug.
Dengan cepat Vano merebut bantal guling itu dan melemparnya ke segala arah, setelah itu dia menarik Vanya hingga Vanya menimpa tubuhnya.
"Ka-kamu mau apa?" gugup Vanya.
"Menurut kamu." balas Vano.
Vano mendekatkan wajahnya ke wajah Vanya, Vanya pun semakin gugup. Dia takut Vano akan menerkamnya lagi, bisa bisa nanti dia gak bisa jalan. Ini aja masih terasa nyeri itunya.
Vanya menjauhkan wajahnya tapi bukan Vano namanya jika tidak bisa menahan Vanya.
Vano memegang tengkuk Vanya dan mendekatkan kepala Vanya, Vanya sudah pasrah menerima apa yang akan Vano lakukan nanti. Wajah mereka semakin dekat dan satu senti lagi bibir mereka akan bersentuhan. Vanya memejamkan matanya dan...
"Hahaha..." tawa Vano pecah.
Vanya membuka matanya dan melihat Vano yang tengah menertawakan dirinya, oh jadi ternyata tadi Vano mengerjainya. Bodohnya Vanya, kenapa dia bisa luluh kayak tadi.
"Hahaha... kenapa mata kamu terpejam, pasti kamu berfikir kalau aku mau cium kamu ya..." goda Vano yang membuat Vanya malu sendiri.
"Tauk ahh." Vanya pura pura marah untuk menutupi rasa malunya.
"Uluuluulu...cayangnya Pano agi malah ya, cini cini Pano peyuk." Vano semakin menggoda Vanya dengan menirukan suara anak kecil.
Vanya semakin kesal saja. Dia mengerucutkan bibirnya hingga moyong ke depan. Vano yang melihat itu pun jadi gemas.
Cup.
Vano mengecup bibir Vanya secara tiba tiba dan segera berlari ngibrit ke kamar mandi sebelum mendengar teriakkan Vanya.
"VANO..." teriak Vanya.
Vano yang mendengar itu pun tertawa terbahak bahak di kamar mandi karena dia sudah berhasil mengerjain istrinya.
"Kalau aja gw gak ingat kalau sekarang ada misi penting, udah aku garap tadi Vanya." monolog Vano di kamar mandi sambil menyalakan shower.
-
"Sabar Vanya sabar, lo harus stok kesabaran berlipat lipat ganda untuk menghadapi suami lo yang banyak tingkah." gumam Vanya sambil mengelus dadanya.
Vanya pun beranjak ke walk in closed untuk menyiapkan pakaian santai untuk Vano.
__ADS_1
-
"Gimana udah siap semua?" tanya Vano.
Vano sekarang sedang berada di ruang kerjanya bersama Farrel dan Lucas. Mereka tengah mempersiapkan dan mematangkan rencana mereka hari ini.
"Udah semuanya sudah siap. Gw juga udah pantau bibinya Farrel, dan dia sekarang seperti biasa tengah menyuruh orang untuk mengawasi rumah lo dari 100 meter dari sini." jawab Lucas.
"Trus Fira mana?" tanya Vano lagi.
"Dia sedang bersiap memakai kostumnya, dia tinggal nunggu perintah dari lo aja." jawab Farrel.
"Bagus, kalau gitu gw temuin bini gw dulu biar dia bisa menyiapkan mentalnya. Meskipun dia tidak tau apa yang kita rencanakan, tapi gw mau mewanti wanti dia dan memasang kamera serta JPS di tubuh Vanya." ucap Vano yang di angguki Farrel dan Lucas.
Vano pun keluar dari ruang kerjanya mencari keberadaan istrinya yang entah di mana.
-
" Sayang..." pangil Vano mengema di seluruh penjuru mansion.
"Sri kamu tahu di mana istri saya?" tanya Vano menghampiri Sri yang tengah memantau pelayan yang tengah membersihkan rumah.
"Iya tuan, tadi saya lihat nyonya ada di taman belakang." jawab Sri sambil rada membungkukkan badannya.
Tanpa menjawab ucapan Sri, Vano segera berjalan menuju taman belakang guna mencari keberadaan istrinya.
Sampai di sana Vano melihat Vanya tengah menatap hamparan bunga bunga yang di tanam di sana.
Sayang..." pangil Vano berjalan menghampiri Vanya.
Mendengar ada yang memanggilnya, Vanya pun membalikkan badannya dan tersenyum menyambut Vano.
"Aku cariin kamu kemana mana ternyata ada di sini." ucap Vano setelah berdiri di depan Vanya.
"Ada apa kamu cari aku, bukannya kamu lagi sibuk sama kak Farrel dan Lucas?" tanya Vanya heran.
"Yuk ikut aku ke kamar, nanti aku jelasin di sana." ajak Vano dan menyeret Vanya dengan merangkul pundak Vanya agar berjalan cepat menuju kamar.
Sampai di kamar Vano mendudukkan Vanya di atas ranjang, dan dia mengambil sesuatu dari laci yang ada di kamarnya.
"Kamu hari ini mau gak jalan jalan ke mall?" tanya Vano setelah menghampiri Vanya dan tangan yang memegang sesuatu.
"Jalan jalan ke mall, mau ngapain?" tanya Vanya balik.
"Ya gak tahu terserah kamu, mau belanja kek atau cuma mau keliling keliling mall juga boleh."
"Gak ahh, enakan di rumah."
"Yah, kamu kok gitu sih, ayo dong mau ya, ya...plis..." mohon Vano.
__ADS_1
"Emang mau ngapain sih kok sampai maksa aku buat ke mall?" tanya Vanya heran.
...***...