My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 57


__ADS_3

Pagi harinya Vanya bangun terlebih dahulu dari Vano. Seperti biasa selesai sholat Vanya segera memasak untuk sarapan, tapi sama seperti semalam Vanya hanya masak satu porsi untuk dirinya saja, dia tidak membuatkan untuk Vano.


Sarapan hari ini Vanya memasak nasi goreng lengkap dengan toping sosis, telur dan beberapa macam sayur.


Setelah nasi gorengnya matang Vanya membersihkan dan merapikan peralatan dapur yang berserakan dari semalam. Setelah itu dia pergi ke kamar untuk bersiap pergi ke sekolah.


Vanya turun ke meja makan sambil membawa tas gendongnya dan segera memakan sarapan yang dia buat.


Vano menuruni anak tangga saat berada di bawah dia melihat di meja makan ada Vanya yang sedang sarapan dengan ragu Vano menghampiri Vanya berharap ada makanan yang tersisa untuknya.


Vanya diam saja dan terus melanjutkan kegiatan makannya tanpa merasa terganggu dengan kehadiran Vano.


Sedangkan Vano melihat lihat di dapur yang sudah rapi dan peralatan memasak yang sudah berada di tempatnya dengan rapi.


"Lah masak gak ada makanan buat gw." gumam Vano yang hanya bisa di dengar olehnya.


Vano berjalan menghampiri Vanya dengan keberanian tingkat tinggi untuk bicara sama Vanya.


"Eemmm Van, sarapan buat aku gak ada?" tanya Vano pada Vanya yang tengah menikmati sarapannya.


"Gak ada tadi aku cuma buat seporsi karena aku kira kamu gak bakal sarapan di rumah." jawab Vanya dan melanjutkan kegiatan makannya dengan ekspresi yang sangat menikmati seolah masak itu enak banget yang membuat Vano menelan ludahnya.


Glek.


'B*set enak banget kelihatannya.' dalam hati Vano sambil lidah Vano yang menjilati bibirnya sendiri seolah ia ikut menikmatinya.


Vanya yang tak sengaja melihat itu pun berusaha menahan tawanya.


'Ya ampun Vano lucu banget sih ekspresinya.' ucap Vanya dalam hati sambil terus berusaha menahan tawanya.


Kruk kruk kruk.


Suara perut Vano yang berbunyi.


"Aku nih perut kenapa gak bisa di ajak kompromi sih, mau di taruh di mana muka ku kalau sampai Vanya dengar. Moga aja dah Vanya gak dengar." suara lirih Vano yang samar-samar masih dapat di dengar oleh Vanya.


Vanya yang mendengar bunyi perut Vano itu pun merasa kasian tapi dia juga ingin tertawa. Tapi Vanya pura pura tidak mendengar bunyi perut Vano dan ucapan Vano barusan agar Vano tidak terlalu malu.

__ADS_1


"Uuh kenyangnya." ucap Vanya sambil mengelus perutnya. Padahal sebenarnya dia belum terlalu kenyang, karena dia merasa kasian kepada Vano mangkanya dia menyisakan nasi gorengnya buat Vano. Itu pun kalau Vano mau makan bekasnya.


Vano yang melihat nasi goreng sisa Vanya itu pun timbul rasa ingin menghabiskan makanan Vanya tapi gengsi mau bilang.


"Mau langsung di cuci gak ya?"


"Ahh tapi udah telat, nanti aja deh." ucap Vanya pura pura sudah hampir terlambat padahal ini masih jam 6 lebih sedikit.


Tanpa berpamitan Vanya keluar dari apartemen meninggalkan Vano yang memang menunggu kepergian Vanya.


"Huh akhirnya perut ku kemasukan nasi juga meskipun cuma sisa." ucap Vano dan menyendok kan nasi goreng sisa Vanya ke dalam mulutnya.


"Beuhh enak banget, Mana cuma dikit lagi kan jadi kurang." ucap Vano belepotan karena mulutnya yang penuh dengan nasi.


Vano menghabiskan nasi goreng itu dengan lahap dan tanpa sisa sebutir pun di piringnya. Tanpa Vano ketahui ternyata Vanya tidak benar benar keluar dari apartemen, Vanya melihat Vano yang menghabiskan makanan buatan nya itu pun merasa senang karena masakan nya di sukai Vano.


"Aku janji Van, suatu saat nanti di saat rumah tangga kita sudah berjalan sebagaimana mestinya aku bakalan masakin kamu tiap hari." gumam Vanya yang tanpa dia sadari air matanya menetes.


Vanya segera menghapus air mata itu dan segera beranjak pergi ke sekolah sebelum Vano mengetahui keberadaan nya.


Setelah makan Vano segera mencuci piring bekasnya agar Vanya mengira bahwa yang mencucinya nanti pembantu yang bertugas membersihkan apartemen yang datang 3 hari sekali.


-


Mereka sampai di sekolah dengan Vanya yang sampai duluan setelah beberapa saat Vano.


Vanya segera pergi ke kelas dan setelah itu dia akan bersiap di depan sekolah seperti biasa nya.


Sedangkan Vano dia segera berjalan ke arah kantor untuk menemui guru matematika dan segera membicarakan kemauannya.


Setelah itu Vano tidak pergi ke kelas melainkan dia pergi ke basecamp yang berbeda di atap sekolah.


-


"Ananda Vanya Fairosa Wijaya kamu di pangil ke kantor." pangil seorang petugas penyiar pengumuman dari pengeras suara.


Vanya yang sedang fokus mendengarkan pelajaran itu pun izin pergi ke kantor karena sekarang sudah jam masuk.

__ADS_1


"Assalamualaikum." ucap Vanya saat memasuki kantor.


"Waalaikum salam." jawab para guru yang tidak ada jam mengajar.


"Ada apa bapak pangil saya?" tanya Vanya to the poin.


"Silahkan duduk dulu."


Vanya pun mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di depan kepala sekolah.


"Ada apa pak?"


"Ok to the poin aja kamu yang bakal mengikuti olimpiade lusa jadi kamu harus mempersiapkan diri kamu mulai dari sekarang." ucap kepala sekolah yang bernama pak Anang.


Vanya diam, dia mencerna apa yang di ucapkan oleh kepala sekolahnya itu. Apakah dia tidak salah dengar tadi? Dia yang bakal ikut olimpiade, benarkah itu. pikir Vanya yang masih syok mendengar ucapan kepala sekolahnya tadi.


"Vanya kamu dengar bapak kan?" tanya pak Anang karena tidak mendapatkan jawaban dari Vanya.


"Hah, iya pak Vanya dengar. Tapi bapak seriusan kalau Vanya yang bakal ikut olimpiade, bukannya yang mewakili sekolah kita itu Vano?" ucap Vanya.


"Ooh soal itu, Vano tidak bisa katanya lusa dia mau ke luar negeri." jelas pak Anang.


"Ke luar negeri kok aku gak tahu. Ups.." Vanya segera menutup mulutnya yang asal ceplos.


"Lah emang kamu ini siapanya kok harus tahu. Vanya Vanya kamu ini ada ada aja." sambil menggelengkan kepalanya.


"Hehehe." Vanya meringis menampilkan gigi giginya yang rapi.


"Ya udah kamu bisa pulang hari ini untuk belajar, dan besok juga kamu bisa libur. Lusa kamu ke sekolah pakai seragam lengkap."


"Siap pak." sambil hormat kepada pak Anang.


Pak Anang pun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vanya yang sangat antusias itu.


"Kalau gitu Vanya pergi dulu pak, Assalamualaikum." sambil mencium punggung tangan pak Anang.


"Waalaikum salam, semangat buat mengharumkan nama baik sekolah." jawab pak Anang sambil menyemangati Vanya.

__ADS_1


Vanya pun pergi dengan perasaan yang amat sangat senang, tidak sia sia selama ini Vanya berdoa karena Allah telah mengabulkan permintaan Vanya.


...***...


__ADS_2