My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 239


__ADS_3

Vano menyuapi Vanya dengan telaten, bahkan saat ada satu butir nasi yang menempel di sudut bibir Vanya dengan lembut Vano mengambilnya.


"Kamu gak makan?" tanya Vanya setelah menelan makanan yang ada dalam mulutnya.


"Habis ini selesai suapin kamu." jawab Vano sambil tersenyum.


Vanya mengambil sendok yang ada di tangan Vano, Vano pun memberikannya tanpa tau apa yang akan di lakukan istrinya ini.


"Sekarang gantian aku yang suapin kamu." ujar Vanya mengarahkan satu sendok nasi serta lauknya ke mulut Vano.


Dengan senang hati Vano menerimanya. Mereka berdua pun makan dengan gantian saling menyuapi satu sama lain. Untung saja tadi Sri membawakan makan dengan porsi yang banyak, jadi cukup untuk mereka berdua makan.


"Kamu gak ke kantor?" tanya Vanya setelah mereka selesai makan.


"Enggak, aku mau jagain kamu di rumah aja." jawab Vano mengelus rambut Vanya.


"Iiih kok gitu, kamu itu harus ke kantor. Masak Iya bos kerjaannya di rumah mulu, nanti apa kata karyawan kamu."


Lah bukannya dia yang nyuruh Vano pulang tadi. pikir Vano.


"Kan aku belum jadi bos, bosnya kan masih papa." balas Vano.


"Tapi kan tetep aja, kamu sebagai calon bos harus mencontohkan yang baik buat karyawan kamu."


"Iya nanti aku pergi ke kantor lagi." ngalah Vano, dari pada nanti ribut lagi yang ada Vanya malah nangis kayak tadi.


"Loh kok ke kantor, bolos dulu ya temani aku di rumah. Aku mau manja manjaan sama kamu."


"Untung sayang kalau enggak udah aku kasih makan ke buaya kamu yank." batin Vano yang tak abis pikir dengan Vanya.


"Ya udah terus kamu maunya aku kayak gimana? Ke kantor apa enggak?" tanya Vano.


"Pengennya sih kamu ke kantor biar dapat uang banyak terus nanti uangnya aku buat beli album baru BTS. Tapi kalau kamu ke kantor nanti aku kangen trus nangis lagi." jawab Vanya yang membuat Vano gemes.


"Iiiih gemes banget sih, istrinya siapa sih ini." mencubit kedua pipi Vanya.


"Istrinya tuan muda Vano dong." balas Vanya setelah Vano melepaskan cubitan di pipinya.


"Yank ini kamu kok makin gede ya." ucap Vano tiba tiba sambil pandangannya mengarah pada dad* Vanya.


"Masak sih, tapi aku pernah liat artikel katanya kalau ibu hamil memang ini nya makin gede kan bentar lagi aku menyusui." jelas Vanya.


"Ooh gitu ya, boleh gak aku coba dulu. Udah lama loh aku gak n*n*n."


"Lama apanya, orang kemaren kamu juga n*n*n kok." bantah Vanya.


"Masak sih kok aku lupa ya?"


"Dasar udah tua pikun."


"Apa kamu bilang, tua? Oooh udah berani ya sekarang." mendorong Vanya hingga mentok ke sandaran sofa.

__ADS_1


"Ehh kamu mau ngapain?" takut Vanya karena dia tahu apa yang akan di lakukan Vano.


"Menurut kamu?" dengan pandangan m*s*m nya.


"Van nanti aja ya, ini masih siang loh."


"Emang kenapa kalau masih siang hmm?" mengelus pipi Vanya yang membuat jantung Vanya dag dig dug ser.


Vano mendekatkan wajahnya dan pandangannya mengarah pada bibir ranum Vanya yang sedari tadi mengoceh tiada henti. Beberapa senti lagi bibir mereka akan bersilaturahmi dan...


Tok tok tok.


"Sh*tttt." umpat Vano kesal lantaran aktivitas nya terganggu.


" Tuan di bawah ada temennya." ujar Sri memangil Vano.


"Iya suruh tunggu sebentar." jawab Vano.


Dan setelah itu tak ada lagi suara Sri di depan pintu. Vano menatap Vanya penuh arti yang membuat bulu kuduk Vanya merinding.


"Yank lanjut yuk." ajak Vano dengan ekspresi yang berubah menjadi memelas.


"Jangan aneh aneh deh, di bawah ada temen temen kamu." tolak Vanya.


"Tapi aku pengen." rengek Vano.


"Udah sana ayo ke bawah kita temui mereka."


"Nanti, udah ayo cepat." menyeret tangan Vano tapi segera di tahan oleh Vano.


Vano berbalik menarik pinggang Vanya dan...


Cup.


Satu kecupan mendarat di bibir Vanya.


"Vitamin yank, dah yuk ke bawah." ucap Vano dengan wajah tak berdosa nya.


"Hufft sabar Vanya sabar." batin Vanya.


Vanya harus banyak banyak bersabar dan menyiapkan mental yang kuat dalam menghadapi Vano. Karena Vano tak bisa di tebak kapan pun dia mau itu harus terlaksana, jadi Vanya harus selalu waspada.


-


"Wee... enaknya yang gak sekolah tiap hari ngamar mulu." sambut Rangga saat melihat kedatangan Vano dan Vanya.


"Bapak lo tuh gak sekolah, orang kita daring kok."


"Ya meskipun sering bolos." lanjut Vano membalas ucapan Rangga.


"VANYA...." heboh Sonya dan Sisil memeluk tubuh Vanya dengan erat.

__ADS_1


"Kita kangen banget tau sama Lo." ucap Sonya.


"Bener tuh, kelas rasanya sepi tauk kalau gak ada lo." timpal Sisil.


"Gw juga kangen banget sama kalian, apalagi sama suasana kelas. Tapi mau gimana lagi," balas Vanya.


"Kalian jangan ajak bini gw berdiri terus, sayang duduk sini." sela Vano sambil menepuk sofa di sebelahnya.


"Gak mau aku masih kangen sama mereka. Yuk kita ke kamar, kita nonton drakor di sana." tolak Vanya dan menyeret kedua sahabatnya naik menuju kamarnya.


"Hahahaha kasian di cuekin." tawa Galang.


"Diem Lo." galak Vano.


"Uuuh atut." balas Rangga sambil menampilkan wajah yang menjijikkan menurut Vano.


"Amit amit jabang bayi, ya Allah jauhkanlah anak hamba dari modelan makhluk seperti di depan hamba ini. Amin." doa Vano.


"S*alano." melemparkan bantal sofa ke arah Vano, tapi dengan sigap Vano menangkapnya.


"Kalau gak kayak Rangga, kayak gw aja ya Van." sahut Galang.


"Enak aja, gak ada kayak kalian berdua. Orang gw yang buat kok jadi ya harus mirip gw, gak ada mirip mirip kalian."


"Dih pelit." kompak Rangga dan Galang.


"Biarin, lagian kalau kalian mau, sono bikin sendiri."


"Yee kita kan masih sekolah, emang lo enak meskipun gak sekolah tapi masa depan udah terjamin." balas Rangga.


"Bener tuh, lo mah meskipun gak sekolah tapi warisan udah di mana mana. Lah kita, boro boro warisan harta aja kagak ada." timpal Galang.


"Gaya lo Lang, tuh perusahaan papi lo bangkrut emang?" balas Rangga pasalnya Galang sebenarnya juga orang yang berada.


"Amit amit dah, tapi kan beda sama Vano. Perusahaan Om William tuh gede, bisa buat menghidupi keluarga sampai tujuh turunan tujuh tanjakan."


"Lo nya aja yang kurang bersyukur Lang, gw yang dari kecil hidup sendiri bisa apa." balas Rangga yang membuat Galang serta Vano merasa bersalah.


"Sorry Ngga kita gak bermaksud untuk pamer harta atau apa, kita tadi hanya becanda kok. Ya gak Van." ujar Galang yang merasa tidak enak pada Rangga.


"Ya elah kalian ini, orang gw gak papa kok. Gw kan udah biasa hidup kayak gini." balas Rangga sambil tersenyum.


Tapi senyuman itu bukan senyuman bahagia, Vano dan Galang tahu itu. Mereka bertiga sudah bersahabat dari masuk jaman SMP jadi mereka tahu keadaan satu sama lain.


"Udah dong jangan melow kayak gini, lo tenang aja Ngga nanti kalau udah lulus sekolah lo bisa kuliah sambil kerja di perusahaan bokap gw." menepuk pundak Rangga.


"Kita main yok." ajak Vano agar suasana kembali seperti semula.


"Yuk." balas Galang semangat dan menyeret tangan Rangga menuju ruang televisi untuk bermain PS.


Rangga pun menurut saja dengan ekspresi yang tak bisa di jelaskan, tapi Galang dan Vano tak tahu itu karena Rangga pintar menyembunyikan ekspresinya di hadapan kedua temannya ini.

__ADS_1


...*** ...


__ADS_2