
"Apaan?" kompak Rangga dan Vano.
"Cieee kompak bener."ucap Galang pada mereka berdua.
"Jadi tuh yang aneh.... seriusan lo gk thu Ngga?" Bukannya menjawab Galang malah menggantung ucapannya lagi.
"Emang apaan sih?" tanya Rangga.
Galang mengkode Rangga dengan matanya supaya menatap ke arah Vano. Rangga yang di kode pun bingung tapi lama kelamaan otaknya dapat menangkap apa yang Galang maksud dan segera menatap ke arah Vano.
"Ooh itu maksud lo, kalau itu sih emang udah dari tadi ada di otak gw." ucap Rangga saat mengerti apa yang Galang maksud.
"Kalian ngapain sih natap gw kek gitu, ada yang aneh memang?" tanya Vano.
"Ada." jawab Rangga singkat.
"Apaan?"
"Lo tuh ganteng." Jawab Rangga yang mendapat jitakan di kepalanya dari Galang.
"Auw.. sakit b*go."
"Lagian gw kira lo bakal ngomong apa yang gw maksud tadi, ehh tau taunya malah ngegombal." ucap Galang.
"Ngegombal pala lo, gini gini gw bukan jeruk makan jeruk."
"Udah deh cepat bilang apa yang aneh?" tanya Vano.
"Lo mau tahu?" tanya Rangga.
Vano mengangguk kan kepalanya meminta jawaban dari Rangga.
"Mau tau aja atau mau tau banget?" goda Rangga.
"Nih lama lama lo berdua gw masukin ke kandang Buaya juga Lo." ucap Vano yang sudah kesal karena pertanyaan nya dari tadi tak mendapatkan jawaban.
"Ya jangan dong, mending lo masukin gw ke kandang macan aja." ucap Rangga.
"Emang kenapa kalau di kandang Buaya?" tanya Galang.
"Ya gak seru lah di sana kan banyak temen-temen gw mana mungkin sesama Buaya saling memangsa." Jawab Rangga.
"Ciah sesama Buaya harus saling menghormati gitu maksud lo?" ucap Galang.
"Ya iyalah." Jawab Rangga.
Brak.
Vano mengebrak meja yang ada di depannya yang membuat Rangga dan Galang kaget.
"Astaghfirullah hallazim nenek gayung makan gayung." kaget Rangga.
Hahahaha....
"Awalnya sih ok kata katanya ehh waktu terakhir bikin orang bingung. Gimana nanti kabar nenek gayung nya kalau gayung nya aja di makan." ucap Galang setelah tertawa yang membuat mereka ngelag.
"Lo ngomong apaan sih Lang?" tanya Rangga dengan ekspresi mengejek.
__ADS_1
"Heh lo berdua, jawab pertanyaan gw yang tadi." ucap Vano garang.
"Alhamdulillah terima kasih ya Allah engkau telah mengembalikan kesembuhan kepada temen saya." ucap Galang mendramatisir.
"Aamiin." ucap Rangga.
"Maksud lo berdua apaan HAH, gw gk normal gitu?" ucap Vano yang sudah habis kesabaran nya yang sedari tadi di uji oleh kedua temannya.
"Lo mau tau apa yang Galang bilang aneh tadi?" tanya Rangga.
Vano diam menunggu jawaban dari Rangga.
"Ya lo itu aneh, tumben amat lo banyak omong tadi gak kayak biasanya yang dingin kek kutub Utara." jelas Rangga.
"Masak sih, perasaan biasa aja." jawab Vano.
"Udah deh Ngga jangan lo jelasin percuma orang lagi kasmaran juga." ucap Galang yang segera berlari meninggalkan kantin di ikuti Rangga di belakangnya juga berlari.
"S*alan." ucap Vano.
"Woy awas lo berdua ya gw abisin Lo." ucap Vano dengan keras.
"Jangan lupa bayar makanan kita." teriak Galang dari kejauhan.
"Sekalian bayarin utang gw." timpal Rangga.
"Kenapa temen gw pada laknat kayak gini sih." ngedumel Vano sambil berjalan menuju tukang kasir untuk membayar makanan mereka tadi.
-
Pulang sekolah pun tiba Vanya masuk ke dalam mobil untuk segera pulang meninggalkan sekolah.
"Vanya liat aja nanti apa yang bakal gw lakuin sama lo." ucapnya dan setelah itu dia masuk ke dalam mobil dan segera pulang.
Setelah sampai di apartemennya Vanya memutuskan untuk ganti baju dan segera memasak di dapur untuk makan malam nanti.
setelah memasak dia masuk ke dalam kamar untuk mandi setelah itu dia akan belajar pelajaran sekolah.
"Semangat Vanya belajarnya, meskipun nanti lo gak bisa ikut olimpiade siapa tau kan nanti ada olimpiade yang lainnya yang bisa lo ikuti." ucap Vanya menyemangati dirinya sendiri.
Saat sedang belajar terdengar pintu di sebelah kamarnya terbuka yang menandakan bahwa Vano sudah pulang dari sekolah.
Entahlah dia tadi mampir dimana atau mungkin masih ada kegiatan yang Vanya tidak tahu sampai sampai pulang waktu mau azan magrib. pikir Vanya.
Azan magrib berkumandang Vanya memutuskan menyudahi acara belajarnya dan segera mengambil wudhu untuk melaksanakan kewajiban seorang muslim yaitu sholat.
Selesai sholat Vanya merapikan mukenanya, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar Vanya pun segera beranjak untuk membuka pintunya.
Ceklek.
Menampilkan sosok tinggi gagah dan wajah rupawan Vano yang tidak bosan bila di pandang.
"Ada apa?" tanya Vanya berusaha menahan gejolak hati yang berdebar-debar saat melihat ketampanan Vano.
"Buatin gw kopi." singkat padat ucapan Vano dan segera berlalu dari hadapan Vanya.
"Bus*t minta tolong kek ngajak berantem datar amat tuh muka, gada embel embel sapaan minta tolong lagi. Untung suami kalau bukan."
__ADS_1
"Udah gw cium." ucap ngawur Vanya.
"Astaghfirullah hallazim Vanya kamu berdosa banget." ucapnya lagi.
Vanya pun segera berjalan ke arah dapur untuk membuatkan kopi suami tercintanya.
Setelah selesai Vanya mengantarkan kopi itu kepada Vano yang tengah duduk di depan televisi sambil memainkan handphone nya.
"Nih kopinya." ucap Vanya sambil meletakkan kopi buatannya.
"Hmm makasih."
'WHAT apa tadi Vano bilang, makasih. Momen langka nih fix harus masuk dalam sejarah dunia nih.' ucap Vanya dalam hati yang kaget dengan ucapan Vano.
"Kenapa lo?" tanya Vano menatap ke arah Vanya yang tidak beranjak dari depannya.
"Hah, gapapa kok." jawab Vanya gugup.
Seperti biasa Vano tidak akan menjawab ucapan Vanya. Vanya pun menyingkir dari hadapan Vano dan duduk di kursi singel yang ada di sebelah Vano.
"Eemm Van, tadi aku sudah masak kamu mau makan sekarang atau nanti?" tanya Vanya.
Vano diam beberapa saat tapi setelah itu dia menjawab.
"Sekarang aja."
"Ya udah aku panasin dulu lauknya."
Vanya beranjak menuju dapur untuk memanaskan makanan yang tadi dia masak sambil menyajikannya di atas meja makan.
"Van ayo makan, makanannya sudah siap." ajak Vanya pada Vano yang tengah fokus ke ponselnya.
Tanpa menjawab Vano segera beranjak ke arah meja makan dan duduk dengan manis di salah satu kursi ruang makan.
Vanya melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri yaitu mengambilkan makanan untuk Vano.
"Segini cukup." tanya Vanya setelah mengambilkan Vano nasi.
"Hmm."
"Kamu mau lauk apa?"
"Apa aja."
Vanya pun mengambilkan beberapa lauk yang dia masak tadi seperti ayam panggang, capcay dan sambal goreng. Setelah itu Vanya mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Acara makan berlangsung dengan lancar tanpa ada yang mengeluarkan suara. Bagaimana mau ngomong orang yang satu aja irit banget dalam berbicara. pikir Vanya.
Saat selesai makan tiba-tiba ponsel Vano bergetar.
Drrtt drrtt drrtt
Vano segera mengangkatnya setelah melihat siapa yang menelfonnya.
"Hmm." ucap pertama kali Vano saat menerima panggilan.
"..."
__ADS_1
"Kenapa bisa kayak gitu. Ya udah gw ke sana sekarang." ucap Vano dan segera beranjak ke dalam kamar.
...***...