
Mereka bertiga pulang ke rumah dengan belanjaan Vino yang begitu banyak, saking banyaknya sampai menghabiskan uang Farrel hampir 15jt, dari membeli mainan robot, mobil mobilan dan juga membeli beberapa jajanan juga es krim kesukaan Vino.
"Kakak bantu bawain." ucap Vino meminta tolong pada kakak kakaknya.
"Dih, ogah. Situ yang punya ngapain minta bantu kita." tolak Vano dan pergi meninggalkan Vino dan Farrel yang bingung antara bantu bawain apa enggak.
"Kak Farrel, bantuin Vino ya." mengedip edipkan matanya dengan imut.
Farrel di buat kesal oleh Vino tadi saat berbelanja. Bagaimana tidak Vino yang beli mengunakan uang Farrel, bahkan Farrel sampai melongo saat Vino asal mengambil mainan. Bukan masalah uangnya, tapi masalahnya itu Vino menyuruh dia yang membawakan semua belanjaan Vino, sedangkan Vino dengan santainya mengambil banyak mainan dan menyerahkannya kepada Farrel untuk membawanya. Kan Farrel jadi kesal, dikira dia baby sister nya apa. Vano juga, dia gak mau bantuin Farrel, bahkan Vano lebih memilih diam diri di dalam mobil dari pada ikut masuk menemani Vino beli mainan.
"Mendingan kamu minta bantuan pelayan atau pak satpam aja, kakak capek, tangan kakak juga pegel." tolak Farrel dengan halus agar tidak melukai hati Vino.
'Mana habis lari keliling taman, di tambah gendong Vino, ehh di tambahin lagi bawain mainan Vino kan pegel banget gw. Mana badan baru sehat lagi.' batin Farrel.
"Ya udah kakak duluan masuk ke dalam ya, soalnya badan kakak udah gerah banget mau mandi." tanpa menunggu persetujuan Vino, Farrel berlari kecil memasuki rumah keluarga William meninggalkan Vino yang masih nangkring di samping mobil dengan mainan yang baru dia beli.
"Iiih kok Vino di tinggal sih, awas aja nanti Vino kerjain." decak Vino kesal.
"Pak satpam bantuin bawa mainan Vino ke dalam." teriak Vino meminta bantuan pada satpam yang kebetulan lewat.
"Siap den, mana yang perlu pak satpam bawa?" tanya pak satpam.
"Itu semuanya yang ada di dalam mobil." menunjuk beberapa kantong belanjaan yang ada di bagasi mobil.
"Baik den." pak satpam pun membawa beberapa kantong belanjaan dengan kedua tangannya, karena saking banyaknya jadi tangan tidak muat.
"Den ini yang lain nanti pak satpam bawain lagi ya, soalnya tangan bapak udah gak muat."
"Terserah pak satpam aja, Vino mau masuk dulu."
Vino memasuki rumah di ikuti pak satpam di belakangnya.
"Assalamualaikum mama Vino pulang." teriak Vino saat memasuki rumah.
__ADS_1
"Waalaikum salam, Vino udah pulang? Dimana kak Vano?" sambut Vanya yang kebetulan baru keluar dari dapur setelah membantu memasak.
"Lah bukannya kak Vano udah masuk dari tadi ya." jawab Vino.
"Ooh mungkin udah di kamar, ya udah kak Vanya ke atas dulu ya, kamu langsung mandi supaya badan kamu gak lengket."
'Cari gara gara ahh!!' batin Vino tersenyum licik saat terlintas sebuah ide di otak nakalnya.
"Ehh kakak cantik tunggu dulu deh, Vino mau ngomongin sesuatu." cegah Vino pada Vanya yang akan menaiki tangga.
"Mau ngomong apa Vin?" berbalik badan menghadap Vino.
"Vino mau bilang sama kak Vanya, kalau tadi waktu di taman kak Vano ada main pelukan sama cewek." adu Vino yang mengada gada.
"Maksud kamu?"
"Iya tadi tuh kak Vano lari duluan gitu, trus waktu Vino kejar masak kak Vano pelukan sama cewek lain sih, kan jahat banget." raut wajahnya di buat semeyakinkan mungkin.
"Masak sih, bohong palingan kamu." tak percaya Vanya dengan omongan Vino.
"Mana coba?" tantang Vanya.
"Nanti kakak liat saja baju bekas kak Vano joging tadi pasti ada lipstik sam bau parfum cewek."
"Masak sih?"
"Iiihh beneran kak, ya udah Vino mau ke atas dulu." Vino buru buru naik ke lantai dua agak berlari supaya cepat sampai di sana.
Vino menengok ke belakang sepertinya kak Vanya masih bengong memikirkan ucapan Vino tadi, dan Vino pun memanfaatkan momen itu untuk menyusup masuk ke dalam kamar kakaknya.
Vino mengendap endap di kamar Vano layaknya maling yang takut ketahuan si pemilik rumah. Vino berjalan ke meja rias Vanya yang terdapat berbagai macam merk kosmetik yang Vino yang ngerti apa aja macamnya.
"Iiiss kok banyak banget, trus ini mana yang namanya lipstik?" bingung Vino menatap berbagai macam kosmetik di depannya.
__ADS_1
"Oh iya Vino ingat, dulu waktu ikut mama ke mall kayaknya lipstik itu yang bentuknya kecil panjang." lanjut Vino dan memilih milih dimana lipstik yang di cari.
"Loh ini kok banyak banget." bingung Vino lagi karena ada banyak benda yang bentuknya hampir sama.
"Ini hitam, ini pink, ini coklat.... nah ini pasti lipstik kan warnanya merah." Vino mengambil barang yang dia maksud dan membukanya.
"Wah benar ini, sekarang emmm... apalagi ya?" berfikir sebentar.
"Oh iya parfum."
"Vino harus cari parfum cewek yang masih baru dan gak pernah kak Vanya pakai nih." ide Vino dengan cepat melakukan kegiatan sebelum Vanya kembali.
"Nah ini." kebetulan di kamar Vano ini terdapat banyak macam parfum baru yang belum sempat Vanya dan Vano buka lantaran mereka jarang ada di sini. Parfum itu dulu pemberian hadiah waktu mereka menikah dan semuanya di tinggal di kamar Vano ini.
Setelah mendapat apa yang dia inginkan, Vino segera menyusup masuk ke dalam kamar mandi yang masih terdapat Vano di dalamnya.
"Bismillah ya Allah bantu Vino ya Allah, semoga saja kak Vano lagi buang air besar." doa jelek Vino.
Vino masuk dan secara kebetulan posisi Vano sekarang sedang mandi di bawah guyuran shower di dalam bilik yang terbuat dari kaca sehingga Vano tak menyadari keberadaan Vino.
Vino segera mengambil baju yang tadi Vano kenakan dan menyemprotkan parfum sedikit agar tidak terlalu mencolok, dan yang paling lucu adalah, Vino memakai lipstik itu di bibirnya dengan setebal tebalnya setelah itu dia mencium baju Vano yang di bagian hampir dekat dengan leher Vino.
'Yes selesai, Vino harus cepat cepat keluar dari sini, sebelum kak Vanya datang.' batin Vino, tapi Vino sudah telat. Saat dia keluar dari kamar mandi terdengar suara kenop pintu yang di putar seperti akan ada orang masuk, dengan panik Vino berlari memasuki walk in closed yang kebetulan berada di samping kamar mandi.
"Haduh gimana ini, tolongin Vino ya Allah." panik Vino di dalam walk in closed.
Tak tak tak.
Vino mendengar suara derap langkah kaki yang mendekat ke arah walk in closed yang Vino yakini itu adalah suara langkah kaki Vanya.
"Aduh gimana ini." panik Vino melihat ke segala untuk mencari tempat persembunyian.
Ceklek.
__ADS_1
...***...