My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 189


__ADS_3

Kriiiing....


Suara jam beker di meja nakas sampai tempat tidur.


"Emmmhh." lengkuh Vanya dan mematikan alarm tersebut.


"Jam berapa sih?" serak Vanya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul enak tepat.


"Hah, udah jam enam. Map*s nih gw bisa telat." Vanya segera bangun dan di melihat penampilannya yang masih memakai jubah mandi.


"Van bangun Van, kita harus berangkat pagi." ucap Vanya membangunkan Vano.


"Eemmhh..." lengkuh Vano merenggangkan otot ototnya.


"Kamu mandi di kamar lain ya biar cepet." ucap Vanya dan setelah itu dia melesat ke kamar mandi.


"Ganggu orang tidur aja." omel Vano pada jam beker yang ada di sana.


Vano pun segera beranjak keluar dari kamar menuju kamar sebelah untuk membersihkan diri sesuai perintah nyonya besar.


Vano mandi dengan keadaan yang belum sepenuhnya sadar, tapi saat sesudah mandi dan kembali ke kamar dia baru menyadari sesuatu setelah melihat Vanya yang sudah rapi dengan seragam sekolah.


"Loh, kamu mau kemana yank?" tanya Vano mendekat pada Vanya yang tengah berada di depan meja rias.


"Ya menurut kamu aku mau ke mana? Orang pakai seragam sekolah ya pasti mau sekolah lah." jawab Vanya sewot.


"Gak, gada sekolah sekolahan. Kamu tetap stay di rumah, orang lagi sakit kok sekolah." larang Vano.


"Aku udah gak papa Van, aku mau pergi ke sekolah. Gak mungkin juga aku ijin, kan hari ini acara Porseni dan aku sebagai ketua OSIS harus hadir dalam acara ini."


"Tapi aku gak ngijinin kamu buat pergi ke sekolah."


"Van, plis...kamu gak usah khawatir sama aku, aku gak bakalan capek capekan hari ini. Aku hanya akan menghadiri Porseni saja dan duduk manis di bangku panitia."


"Yakin?"


"Iya Vano sayang, udah sana kamu ganti baju ini udah siang soalnya." perintah Vanya mengambilkan satu pasang seragam sekolah Vano.


Vano memakai seragam yang Vanya berikan di hadapan Vanya langsung, bahkan Vanya sampai melotot melihat aksi Vano. Sebenarnya dia udah sering sih lihat Vano begini, tapi dia belum biasa aja.


"Pakein." manja Vano menyodorkan dasinya.


"Sini agak nunduk dikit." ujar Vanya karena tubuh Vano yang lebih tinggi dari Vanya.


"Dah selesai." seru Vanya.


"Makasih ayang, emuah." Vano memberikan kecupan di bibir Vanya.


"Dah yuk berangkat." ajak Vanya mengambil tasnya juga tas Vano.


"Kita sarapan dulu ya." ajak Vano saat melewati ruang makan.

__ADS_1


"Nanti aja ya di kantin, soalnya ini waktunya sudah mepet banget." tolak Vanya.


"Ya udah ayo." ngalah Vano.


Mereka berdua pergi meninggalkan mansion mewah milik mereka dan menuju sekolah. Vano mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tapi itu bukan kemauan Vano sendiri melainkan kemauan Vanya. Katanya sudah telat waktunya. Jadi Vano mah ayo ayo aja kalau di ajak kebut kebutan mah.


"Aku langsung ke ruangan OSIS dulu ya, bye babe. Emuah." setelah memberikan kecupan di pipi Vano Vanya segera keluar dan berlari meninggalkan Vano.


"Loh kok main pergi aja, katanya tadi mau sarapan dulu." ucap Vano.


Vano pun segera keluar dari mobil untuk menyusul Vanya, tapi saat dalam perjalanan menuju ruang OSIS dia bertemu dengan kedua temannya dan mengajak Vano untuk pemanasan latihan basket. Mau tak mau Vano pun mengikuti kedua temannya dan melupakan Vanya yang belum sarapan.


-


"Sorry gw telat, gimana semuanya udah siap kan?" ucap Vanya saat baru memasuki ruangan OSIS.


"Santai aja kali, iya semuanya sudah siap." jawab Sera.


"Hufft... syukurlah kalau gitu." lega Vano.


"Permisi." ucap seorang siswa perempuan di depan pintu ruangan OSIS.


"Silahkan, ada yang bisa kami bantu?" tanya Sera ramah.


"Vanya nya ada gak?" tanya siswa itu.


"Ada. Van lo di cariin tuh." Sera memangil Vanya yang tengah duduk membelakangi pintu.


"Oh iya bentar." Vanya mengambil tasnya.


"Gaes gw pergi dulu ya, soalnya gw harus ikut main sebagai perwakilan kelas." pamit Vanya pada semua anggota OSIS yang ada di sana.


"Ya udah sana, lagian bukan cuma lo aja kok anggota OSIS yang ikut main." balas Sera.


"Ya udah gw pergi dulu." Vanya pun pergi mengikuti siswa yang tadi memangilnya.


Vanya melupakan kesepakatannya tadi saat di mansion bareng Vano.


-


'Halo Ki, semuanya sudah siap belum?' tanya Cindy melalui sambungan telepon.


'Halo, iya semuanya sudah siap.' jawab Kia.


Kia sekarang tengah berada di dalam bilik kamar mandi untuk menerima telepon dari Cindy.


'Lo perlu bantuan gw gak?' tanya Cindy.


'Enggak usah, semuanya pasti bakalan beres di tangan gw sama Tasya.' jawab Kia.


'Ya udah kalau gitu, kalian harus hati-hati dalam bertindak. Jangan sampai rencana ini gagal dan kalian berdua kena masalah sama seperti gw.' peringat Cindy pada temannya.

__ADS_1


'Siap lo tinggal tunggu kabar baiknya aja.'


'Ya udah gw matiin dulu, bye.'


'Bye.'


"Gw harus hati-hati nih." gumam Kia setelah sambungan telepon terputus.


Kia segera keluar dari bilik kamar mandi untuk menemui Tasya dan menjelaskan apa yang harus Tasya lakuin nanti saat pertandingan.


"Gimana lo ngerti kan?" tanya Kia setelah ngomong panjang lebar pada Tasya.


"Jadi nanti gw harus pura pura jatuh di sengol si Sonya gitu?" ucap Tasya keras.


"Jangan di omongin juga dod*l nanti ketahuan sama yang lain." greget Kia pada Tasya.


"Hehehe iya maaf." cengengesan Tasya.


"Ya udah lah, asal lo udah ngerti aja. Ya udah yok kita ke lapangan."


"Yok."


Mereka berdua pun pergi menuju lapangan tempat akan di selenggarakan upacara pembukaan Porseni.


-


"Kamu nanti harus bisa celakai Vano dalam pertandingan basket nanti." ucap mister X pada seseorang melalui sambungan telepon.


"Siap mister." jawab orang itu.


"Dan ingat, apapun yang kamu lakukan nanti jangan sampai meninggalkan jejak sama sekali."


"Baik mister."


Tut.


Sambungan terputus dan orang itu pun segera pergi menyusul yang lain ke lapangan.


-


"Van lo udah siap kan?" tanya Sonya.


"Udah, yuk kita ke lapangan." jawab Vanya berdiri setelah berganti sepatu.


Mereka berdua pun pergi ke lapangan untuk mengikuti acara upacara pembukaan Porseni.


Ucapan pembukaan Porseni berjalan dengan lancar sekarang mereka tengah berada dalam tempat masing-masing di cabang olahraga dan seni yang akan mereka ikuti.


Bakset cowok bermain di lapangan sebelah basket cewek, kebetulan di sekolah ini punya dua lapangan basket yang saling berdampingan. Jadi kebanyakan penonton banyak yang stay menonton basket dari pada olah raga atau seni yang lain. Karena dalam grup basket banyak cewek cantik serta cowok ganteng yang main.


...***...

__ADS_1


__ADS_2