
Pagi harinya Vanya dan Vano sudah bersiap untuk pergi ke sekolah, tapi pagi ini Vanya meminta agar Vano bawa motor saja, karena Vanya merasa udah lama juga dia gak naik motor.
"Kita naik mobil aja ya." ujar Vano berusaha menegosiasi agar Vanya membatalkan kemauannya.
"Iiih kamu kok gitu sih, aku tuh mau naik motor. Aku kangen kita boncengan naik motor, trus aku peluk pinggang kamu." balas Vanya.
Mendengar apa yang Vanya ucapan, Vano pun setuju. Kan enak tuh di peluk dari belakang. pikir Vano.
"Ya udah ayo..."
Akhirnya mereka pun berangkat ke sekolah menaiki motor gede milik Vano yang berwarna hitam.
Vanya melingkarkan tangannya di pinggang Vano dan dengan senang hati Vano membiarkan hal itu. Malahan Vano seneng, apalagi di punggungnya rasanya ada yang tertekan dan itu rasanya sangat empuk sekali. Vano rasa milik Vanya makin besar, mungkin akibat perbuatannya setiap malam. pikir Vano sambil terkekeh.
"Kamu kenapa kok senyum senyum gitu?" tanya Vanya dengan suara yang keras agar Vano mendengarnya.
"Hah, enggak kok, kamu salah liat kali." jawab Vano karena ketahuan Vanya.
"Enggak kok aku liat sendiri di kaca spion."
"Oh itu anu..."
"Apa?"
"PD punya mu terasa banget." jujur Vano.
"Ha,." cengoh Vanya karena ucapan Vano tidak terlalu jelas di pendengarannya.
"PD mu itu lo tertekan." ulang Vano.
"Ha, apa? Yang keras dong kalau ngomong." ucap Vanya yang masih tidak terlalu jelas mendengar ucapan Vano.
"Ya kali yank aku harus teriak teriak ngomong kayak gitu, yang ada orang orang akan heboh." gumam Vano.
"Ha,." cengoh Vanya lagi.
Dahlah semua cewek emang gitu kalau di ajak ngobrol waktu naik motor, pasti ha he ho mulu.
"Enggak, udah abaikan aja." ujar Vano.
"Ya udah." cuek Vanya, toh menurut Vanya tak penting juga.
Mereka pun terus melanjutkan perjalanan dengan saling diam, Vano yang fokus mengendarai motor dan Vanya yang menikmati udara pagi kota Jakarta sambil bersandar di punggung Vano.
-
__ADS_1
Mereka sampai di sekolah dan seperti biasa, mereka menjadi sorotan semua siswa yang ada di sana. Tapi mereka mah bodo amat, asal tidak menggangu ya biarlah.
Mereka turun dari motor Vano, dan dengan so sweet nya Vano melepaskan helm yang Vanya kenakan sehingga membuat para cewek cewek yang ada di sana menjerit histeris.
"Aaaa.... mau juga dong di lepasin helm nya sama Vano."
"Gw juga mau."
"Heh kalian gak usah mimpi, jangan kan di lepasin helm nya, di bonceng Vano aja itu gak mungkin. Jadi gak usah ngayal."
"Aduh Vano so sweet banget sih, kan meleleh hati eneng."
"Dih, gitu doang gw juga bisa." ucap siswa laki-laki yang iri dengan Vano karena bisa berdekatan dengan Vanya yang notabenenya adalah salah satu murid yang paling cantik di sekolah ini.
Dan bla bla bla...
"Yuk aku antar ke kelas kamu." ajak Vano tak menghiraukan kicauan para murid.
"Iih gak usah, aku bisa jalan sendiri." tolak Vanya.
"Aku gak terima penolakan, udah ayo." mengandeng tangan Vanya mesra.
Mau tak mau Vanya pun harus mengikuti kemauan Vano, toh sebenarnya gak merugikan dirinya juga. Palingan cuma malu aja karena jadi perhatian orang orang.
-
"Seriusan lo?" tanya murid satunya.
"Iya, dan katanya lagi tadi dia kesini di antar sama orang tuanya." imbuh si tukang gosip.
"Wah pasti ada apa apa nih." balas yang lain.
"Udah kamu gak perlu khawatir, kalau nanti dia cari gara gara sama kamu, kamu bilang sama aku biar aku beresin." ujar Vano.
Ya, mereka sudah berada di dalam kalas Vanya, tapi saat Vanya mau meletakkan tasnya, ehh malah denger gosip. Jadi ya Vanya diam sebentar fokus mendengarkan gosip itu.
"Tapi gimana nanti kalau aku kena masalah gara gara di rumah sakit waktu itu, bagaimana pun kamu menghapus rekaman cctv tapi kan Cindy ada bukti luka di pipinya." takut Vanya.
"Kamu gak usah takut ya, udah kamu fokus belajar aja jangan hiraukan yang lain." ujar Vano menengkan Vanya.
"Hai Van." sapa Sonya dan Sisil yang sepertinya baru sampai.
"Hai juga Sil, Soy." balas sapa Vanya.
"Berhubung kalian udah di sini aku nitip Vanya ya, jagain dari si Cindy soalnya katanya dia udah mulai masuk sekolah. Gw takut dia berbuat sesuatu ke Vanya." pinta Vano.
__ADS_1
"Seriusan lo bilang, apa tadi si Tante udah masuk?" tanya Sonya memastikan.
"Iya, mangkanya gw nitip Vanya sama kalian."
"Dih, dikira aku barang apa, di titip titipin." protes Vanya.
"Iya kamu itu memang barang yang sangat berharga buat aku, dan harus aku jaga semampu aku. Bahkan dengan nyawa ku sekalian."
"Gombal." salting Vanya.
"Lo tenang aja, kita bakalan jaga si Vanya dari Tante Tante itu, ya gak Sil?"
"Yoi."
"Ya udah aku pergi dulu ya,"
Eemmuah.
"Babay sayang." Vano berlalu pergi begitu saja tanpa merasa bersalah karena telah membuat Vanya blusing.
"Cieee..." sorak anak anak yang berada di kelas yang membuat Vanya semakin malu.
"Aduh pagi pagi mata gw udah ternodai aja." ucap Sonya sambil menutup matanya.
"Apaan sih kalian." ucap Vano dengan pipinya yang masih memerah.
"Cieee... pipinya merah." goda Sisil.
"Apaan sih lo, udah ahh gw mau ke gerbang dulu." Vanya pergi dengan buru buru sebelum anak anak yang ada di kelas menyorakinya lagi.
"Yah pergi dia, yok Sil kita susul. Kan tadi sama si Vano suruh jaga Vanya." ajak Sonya.
"Gas." balas Sisil.
Mereka pun segera pergi menyusul Vanya yang sudah pergi duluan.
-
Sementara dia ruang kepala sekolah tengah ribut dengan kedatangan orang tua Cindy yang menuntut pihak sekolah agar menghukum Vanya karena sudah melukai Cindy.
"Pokoknya saya gak mau tahu ya pak, bapak harus kasih hukuman buat Vanya karena dia telah melukai anak saya." tuntut mama Cindy sambil marah marah.
"Sabar buk, kita bisa bicarakan masalah ini baik baik." tenang pak Anang selaku kepala sekolah.
"Gak bisa gitu dong pak, saya sudah bersabar dari kemaren menunggu si pelaku buat minta maaf sama keluarga saya, tapi mana, dia gak ada datang menemui saya. Wajah anak saya sudah luka kayak gini, perawatan wajah anak saya ini mahal loh pak, gaji bapak aja belum tentu bisa buat perawatan anak saya." marah marah mamanya Cindy.
__ADS_1
"Baiklah Bu, bentar saya panggilkan yang bersangkutan dulu biar lebih jelas." ucap pak Anang tak mau ambil pusing.
"Rasain lo, lo pikir bisa lepas dari gw setelah menghapus rekaman cctv di rumah sakit. Meskipun gak bisa bawa masalah ini ke hukum, setidaknya gw bisa buat lo keluar dari sekolahan ini." batin licik Cindy yang duduk di tengah tengah orang tuanya.