
"Aaa... hmmtt.."
Vano segera membekap mulut Vanya agar tidak berteriak.
"Hei ini aku." bisik Vano.
Vanya pun menoleh ke samping dan wajah ganteng suaminya lah yang dia lihat.
"Hmmtt..." Vanya meminta agar Vano melepaskan tangannya.
"Hehehe maaf lupa." cengir Vano.
"Hufft...engap tauk."
"Ya habisnya kalau kamu teriak nanti mereka bisa dengar."
"Kok kamu salahin aku, salah kamu sendiri ngapain coba tiba tiba peluk aku dari belakang kan aku takut." omel Vanya.
"Ya kan tadi aku niatnya mau kasih kejutan gitu buat kamu, kan tadi katanya kangen."
"Siapa juga yang kangen." Vanya malu, ingin rasanya dia tengelam di lautan saja.
"Dih, pakek gak mau ngaku lagi." sambil mencolek dagu Vanya.
"Iiiss apaan sih."
"Eemm...ayang nya Vano ngambek nih." goda Vano.
"Udah deh jangan godain aku, sekarang kamu jelasin kenapa kamu kok bisa sampai di kamar ini?" Vanya mengalihkan pembicaraan, karena malu ketangkap basah tengah merindukan Vano.
"Ceritanya panjang nanti aja kalau masalahnya sudah selesai aku ceritain. Kamu gak di apa apain kan sama mereka?" tanya Vano meneliti tubuh Vanya dari atas sampai bawah.
"Enggak, orang aku dari tadi pura pura pingsan jadi ya aman." jawab Vanya.
"Syukurlah kalau gitu, aku takut banget kalau sampai kamu kenapa napa."
"Terus sekarang aku harus ngapain?" tanya Vanya.
"Kamu diam dulu di sini, nunggu Farrel dan yang lainnya datang. Mereka masih dalam perjalanan menuju ke sini." jawab Vano sambil memainkan rambut istrinya.
"Iisss tangan kamu ini gatel banget deh, diem napa." Vanya mencekal tangan Vano.
"Aku kangen banget tahu sama kamu." manja Vano memeluk Vanya.
"Bayi mode on." sidir Vanya tak Vano hiraukan.
__ADS_1
Vano malah naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya dengan erat seperti anak kecil yang gak mau di tinggal ibunya. Dan dengan senang hati Vanya meladeni sikap Vano yang seperti ini.
Mereka gak lupa kan, kalau mereka berada dalam kandang musuh🙄
-
Farrel dkk sudah mendekati mansion Marvel, tapi tiba-tiba ponsel Farrel berbunyi ada pesan masuk.
"Ehh tolong lihatin ponsel gw dong, kayaknya ada pesan deh." pinta Farrel pada Lucas.
Lucas pun segera mengambil dan melihat isi pesan yang ada di ponsel Farrel.
Ponakan bibi tersayang, lihat nih adik kesayangannya kamu ada di tangan bibi.
Isi pesan itu di sertai sebuah foto Vanya yang di letakkan di atas ranjang dengan kondisi tidak sadar.
"Sh*ttt..." umpat Lucas yang membaca dan melihat keadaan Vanya.
"Kenapa? Apa isi pesannya?" tanya Farrel beruntun.
"Nih lo baca sendiri." menyodorkan ponsel Farrel kepada pemiliknya.
Citttt....
Seketika Farrel mengerem mendadak mobil taksi itu hingga menimbulkan bekas di aspal jalan.
Farrel tak peduli dengan ucapan Lucas dan Fira, dia segera mengambil ponselnya dari tangan Lucas dan segera menelfon bibinya.
Untung saja sekarang mereka sudah berada di jalan yang sepi jadi aman jika berhenti di tengah jalan.
'Halo Farrel ponakan tante tersayang, gimana kabarnya? Wah pasti lagi gak baik baik aja ya...' Sapa Fen Wang yang ingin rasanya Farrel rebek mulutnya.
'Di mana Vanya?' tanya Farrel tanpa basa basi.
'Sabar dong, ponakan tante itu harus sabar. Gimana kalau kita ketemuan dulu?'
'Saya gak suka basa basi, cepat bilang di mana Vanya atau anda akan tahu akibatnya.'
'Oouuh...bibi atut, enaknya adik kamu di apain ya... Disiram air keras ke wajahnya kayaknya bagus tuh biar wajahnya makin kinclong.'
'Anda jangan berani macam-macam ya, cepat katakan di mana Vanya.' Suara Farrel semakin berbeda dari yang tadi, sepertinya Farrel sudah di kuasai oleh amarah.
'Ok ok, Bibi bakal kasih Vanya ke kamu asal kamu mau ketemuan sama bibi.' tawar Fen Wang.
'Ya udah kirim lokasinya sekarang, saya langsung berangkat ke sana.' final Farrel akhirnya menyetujui permintaan bibinya yang gila itu.
__ADS_1
'Nah gitu dong dari tadi. Bibi kirim alamatnya lewat pesan, babay... ponakan ganteng..'
Tut.
Farrel menutup telefon terlebih dahulu.
"Sabar Rel, lo jangan kepancing emosi. Kita harus tetap tenang dalam menghadapi situasi seperti ini." ucap Fira yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Farrel dengan bibinya.
Farrel menoleh sebentar, memandang wajah Fira, entah kenapa hal itu sedikit membuat Farrel merasa tenang.
"Hmm, thanks." balas Farrel.
"Terus sekarang gimana, kita lanjut ke tempat Vano tadi atau temuin bibi lo dulu?" tanya Lucas.
"Mendingan lo telfon Vano dulu, biar kita gak salah ambil jalan lagi." usul Fira.
"Nah bener tuh." timpal Farrel.
"Ya udah gw coba telfon Vano, semoga saja dia on." Lucas pun mencoba menghubungi Vano kembali.
Tut..Tut..Tut...
Gak di angkat juga, tapi Lucas tidak menyerah begitu saja, dia terus berusaha menghubungi Vano. Tapi tiba-tiba dia mendapatkan pesan dari Vano.
Heh, jangan telfon gw, nanti gw ketahuan.
Lucas pun segera membalas pesan Vano dengan menceritakan apa yang barusan terjadi.
Farrel tetap samperin bibinya aja di temani Fira sama beberapa anak buah, jangan banyak banyak karena di sini lebih membutuhkan banyak orang. Sedangkan Lucas lo pergi ke tempat yang gw share lok tadi, bawa semua anak buah ke sini. Dan kalian gak usah khawatir kalau di ancam mereka, karena Vanya sudah aman bersama gw jadi kalian tenang aja.
Oh iya satu lagi, kalau Farrel masih mau main main sama bibinya lo ajak anak buah bibi lo buat berantem. Tapi kalau lo ingin cepat selesai masalah ini, sampai sana langsung saja lo suntikin ramuan yang gw buat ke bibi lo, biar dia menyiksa dirinya sendiri.
Isi pesan yang Vano tulis, entah tangannya pegal atau enggak sehabis ngetik itu semua.
"Ya udah kita pisah di sini, lo bawa mobil ini biar gw sama Fira naik di mobil belakang." ucap Farrel setelah membaca pesan Vano.
"Oke, kalian berdua hati hati, dan jangan lupa jaga hati biar gak ada yang namanya cinlok." balas Lucas dengan akhiran mengejek, karena Lucas merasakan ada aura yang berbeda dari keduanya.
"Maksud lo?" tanya Fira tidak mengerti, sedangkan Lucas yang mengerti apa maksud dari Lucas pun segera keluar dari dalam mobil.
"Ya udah yok kita pergi sekarang, Lucas lo juga hati hati." ucap Farrel sebelum Lucas menjawab pertanyaan Fira.
"Ciahhh menghindar dia." decak Lucas setelah Farrel dan Fira keluar.
Lucas pun segera pindah ke bagian kemudi dan segera pergi menuju tempat Vano di ikuti banyak mobil di belakangnya yang tak lain adalah anggota WD.
__ADS_1
...***...