My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 117


__ADS_3

Vano dan papa William telah sampai di bangunan yang nampak dari luar sangat gelap dan seperti tak berpenghuni.


"Gimana markas yang papa buat bagus gak?" tanya papa William pada Vano yang ada di sisinya setelah keluar dari mobil.


"bagus sih, cuma kok kayak kecil banget." jawab Vano sambil mengamati bangunan di depannya.


"Kamu lihat aja nanti dalamnya. Oh iya si Farrel udah kamu kasih tahu kan?"


"Udah katanya masih di jalan, mungkin sebentar lagi juga sampai."


Oh iya Vano sudah bilang ke papanya kalau Farrel mau gabung ke mafia milik papanya, dan papa William pun menyetujui itu, bahkan papa William sangat senang ada yang tertarik dengan dunianya. Jadi nanti dia gak perlu memikirkan untuk mencari penerus.


Tin tin tin.


Suara klakson mobil yang berhenti di samping mobil Vano, dan keluarlah orangnya.


"Maaf Van, Om saya telat." ujar Farrel setelah keluar dari mobil hitam miliknya.


"Iya gapapa, udah yuk kita masuk." ajak papa William.


Mereka pun masuk dengan posisi papa William di tengah dan di sebelah kanan kirinya ada Vano dan Farrel. Saat sampai di depan pintu yang menjulang tinggi dengan otomatis pintu itu terbuka lebar.


"Wah gila pa, ini mah lebih besar dari pada yang di Itali." kagum Vano, ternyata ekspetasi nya tadi salah.


"Papa bilang tadi juga apa, gimana menurut kalian?"


"Ini mah bagus banget Om." jawab Farrel yang tak kalah terpesonanya dengan Vano.


"Bener kata Farrel ini bagus banget pa." timpal Vano.


"Ya udah yuk kita lihat siapa yang berani mau menyelakai menantu kesayangan papa, lihat lihat ruangannya nanti saja."


Mereka pun memasuki bangunan yang besar itu dengan di pinggir jalan yang mereka lewati ada banyak anak buah papa William yang tengah menunduk hormat kepada ketuanya.


"Di mana dia?" tanya papa William pada salah satu anak buahnya.


"Di ruang bawah tanah King."


Dengan berjalan tegas dan muka yang menyeramkan papa William berjalan menuju ruang bawah tanah di ikuti Vano dan Farrel yang menampilkan wajah tak kalah menyeramkan dari papa William.


"Mana dia?" tanya papa William lagi setelah sampai di ruangan bawah tanah yang kondisinya sangat gelap, hanya cahaya cahaya remang remang saja yang menyinari.


"Itu King." menunjuk ruangan yang bersel.


Papa William pun berjalan menuju ruang itu dengan isyarat mata dia menyuruh anak buahnya untuk membuka sel itu.


"Angkat kepalamu." suara tegas papa William pada orang yang tengah di rantai dengan posisi berdiri yang tengah menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Orang itu diam saja tak mau mengangkat kepalanya.


"Sekali lagi saya bilang, angkat kepalamu." Masih sama, orang itu tak mau mengangkat kepalanya.


Papa William pun geram dia mengambil tongkat baseball dan menodongkan ke bawah dagu pelaku itu dan dengan gerakan mengangkat perlahan sehingga wajah pelaku itu sekarang nampak di hadapan papa William, Farrel dan Vano.


"Siapa yang menyuruh mu?" tanya Vano dengan menatap tajam orang itu, bahkan rasanya Vano ingin mencabik-cabik kulit orang itu jika tak ada papanya di sana.


Bukannya menjawab atau takut, orang itu malah tersenyum meremehkan Vano.


Bug.


Karena kesal Vano pun memberikan pukulan di pipi pelaku itu dengan keras hingga membuat bibir pelaku itu mengeluarkan darah.


"Vano." suara tegas papa William melarang Vano menyerang pelaku itu.


"Farrel kamu tahan Vano." lanjut papa William.


Farrel pun segera menahan tubuh Vano agar tak kelepasan lagi.


"Saya tanya baik baik, siapa yang menyuruh kamu." tanya papa William lagi.


"Cuih." Bukannya menjawab pelaku itu malah membuang ludahnya tepat mengenai wajah papa William.


"Sial*n."


Bug.


"Aaah." jerit kesakitan pelaku itu, sepertinya tulang kakinya retak.


"Kamu bilang sendiri atau saya paksa mulut kamu biar bicara."


"Sampai kapan pun saya gak akan pernah bilang kepada anda siapa yang menyuruh saya." akhirnya pelaku itu mengeluarkan suara.


"Ooh gitu, baiklah jika itu mau anda." mundur beberapa langkah dari orang itu dan meletakkan tongkat baseball itu ketempat semula.


"Pengawal ambilkan tag berkat dan bawa kesini CEPAT." beberapa pengawal pun segera mengambilkan apa yang di minta oleh tuan mereka.


"Ini King." memberikan tag berkarat pada papa William.


Papa William pun berjalan mendekati pelaku itu sambil memutar mutarkan tag itu di atas tangannya.


"Sepertinya kuku kukumu udah panjang panjang, sini aku potongin." memegang tangan pelaku itu, mengamati jari jari pelaku itu.


Si pelaku pun was was, dia berpikir apa yang akan di lakukan oleh orang yang di depannya ini.


Sementara Vano yang berada dalam pegangan Farrel diam dengan tenang memperhatikan apa yang papanya lakukan begitupun Farrel. Mereka berdua memperhatikan apa yang akan papa William lakukan, buat pembelajaran kedepannya jika mereka menghadapi masalah yang seperti ini.

__ADS_1


Papa William mendekatkan tag itu ke jari telunjuk pelaku itu dan mengarahkan ke kuku yang panjang itu dan...


"Aaaahh." jerik kesakitan pelaku itu.


Bagaimana tidak papa William ternyata bukan hanya memotong kuku panjang pelaku itu, melainkan memotong sebagian dari jari telunjuknya juga.


"Hahaha kenapa sakit." tawa papa William.


Kretes.


Lagi papa William memotong jari tengah pelaku itu.


"Aaaah." teriakkan itu terdengar lagi, rasanya tubuhnya sudah tidak kuat lagi buat berdiri, tulang kaki sebelah yang sudah retak di tambah kedua jari telunjuk serta tengahnya yang di potong. Mau ambruk kelantai tapi gak bisa karena bagian tubuh atasnya di tali keatas sehingga membuat tubuhnya harus tetap berdiri.


"Wah bagus juga. Emm tapi jari satu ini menganggu keindahan saja."


Kretes.


Dengan santai papa William memotong jari manis pelaku itu hingga tinggal jari jempol dan kelingking saja yang masih utuh.


Orang itu sudah tak bisa lagi berbuat apa apa, dia salah mangsa. Dia kira orang yang ada di hadapannya ini hanyalah orang biasa tapi ternyata salah, orang yang ada di hadapannya ini sangat bahaya.


"Gimana Van, Rel keren gak karya papa?" menoleh kebelakang di mana keberadaan Vano dan Farrel berada.


"Kurang keren pa, tangan yang sebelah belum. Tangan itu lah tadi yang dia buat untuk melancarkan aksi tembakannya pada Vanya." jawab Vano memandang wajah papanya yang sudah banyak terciprat darah yang masih segar.


"Bagus juga ide kamu. Kamu ada ide gak Rel."


"Kalau aku sih kelamaan Om, kenapa gak langsung di tebas kepalanya saja, buang buang waktu aja Om." ide Farrel yang lebih sadis.


"Wow, itu bagus tapi bagi Om itu terlalu mudah buat dia." papa William pun menatap tangan sebelah punya pelaku yang jari jarinya masih utuh, dia mengambil tangan itu dan menempelkan pada tembok tempat bersandar pelaku itu dan....


Kretes kretes kretes.


Tiga jari sekaligus di potong secara bersamaan.


"Aaaa.." jeritan kesakitan pelaku itu.


"Mau ngaku atau jari kakimu juga aku tebas?" papa William memberikan pilihan pada pelaku itu.


"Saya di perintah oleh nyo- nyonya ...." menjeda ucapannya menatap Vano, Farrel dan papa William secara bergantian.


"Cepat jawab." bentak Vano karena orang itu sangat bertele tele.


"Nyo-nyonya Fen wang."


Bruak.

__ADS_1


...***...


entah mengapa mood saya akhir akhir ini jelek jadi ya gini mles ngetik 😂


__ADS_2