
Mereka berdua duduk di sofa yang di tunjuk pegawai tadi. Setelah beberapa saat pemilik salon itu datang di ikuti pegawai yang tadi.
"Fara." Panggil pemilik salon.
"Hai San." sapa mama Fara pada pemilik salon yang bernama Sandra.
"Apa kabar kamu, lama loh kita gak ketemu setelah reuni tahun lalu."
"Kabar aku baik, kalau kamu gimana?" tanya balik mama Fara.
"Aku juga baik. Oh iya siapa itu di samping kamu cantik banget." melihat ke arah Vanya yang sedari tadi diam.
"Oh iya aku lupa, kenalin ini menantu aku. Sayang kenalin ini teman mama waktu SMA dulu." mama Fara memperkenalkan Tante Sandra kepada Vanya.
"Halo Tante salam kenal saya Vanya." ucap Vanya sopan sambil mencium punggung tangan Tante Sandra.
"Iya salam kenal juga. Aduh kamu ini selain cantik juga sopan banget sih, mau gak jadi anak Tante." memuji Vanya.
"Tante berlebihan deh, Vanya tidak sebaik itu."
"Tau nih kamu, main rebut anak orang aja. Ini anak tersayang nomor dua aku loh setelah Vino." sangah mama Fara.
"Loh loh loh, kok setelah Vino, emang Vano nya enggak di sayang?" tanya Tante Sandra.
"Enggak, anak itu udah aku buang sekarang aku udah ada gantinya."
Hahahaha..
Tawa mama Fara dan Sandra yang entah menertawakan apa Vanya juga bingung.
"Kamu itu ada ada saja, masak anak ganteng gitu di buang." ucap Tante Sandra yang tidak habis pikir dengan candaan mama Fara.
"Oh iya ada apa nih kok nemuin aku di sini, siapa yang mau nyalon?" tanya Tante Sandra.
"Oh iya sampai lupa aku kalau tadi ke sini niatnya mau nyalon. Kamu sih ngajak ngobrol mulu."
"Ini aku mau potong rambut sama potong kuku." ucap mama Fara.
"Ok, kalau kamu mau apa anak cantik?" tanya Tante Sandra pada Vanya.
"Eemm aku mau kerimbat saja Tan." jawab Vanya.
"Ya sudah ayo ke sini." ajak Tante Sandra pada mama Fara dan Vanya.
Vanya dan mama Fara pun mengikuti kemana perginya Tante Sandra.
Setelah dari salon mereka mampir ke cafe yang ada di dalam mall untuk makan malam.
"Kamu mau pesan apa sayang?" tanya mama Fara.
"Vanya mau spaghetti aja deh ma sama minumnya jus jeruk." ucap Vanya dan segera di catat oleh waiters.
"Saya samain juga mbak." ucap mama Fara.
"Silahkan di tunggu sebentar buk, mbak." waiters itu pun pergi untuk menyiapkan pesanan mama Fara dan Vanya.
"Ma, lusa Vanya boleh gak nginap di rumah Vanya." izin Vanya sambil menunggu pesanannya datang.
__ADS_1
"Rumah?" tanya mama Fara bingung yang di maksud rumah oleh Vanya.
"Rumah orang tua Vanya ma, kan udah lama juga Vanya tidak tidur di sana." jelas Vanya.
"Yah, padahal mama masih kangen banget loh sama kamu." sedu mama Fara.
"Jangan sedih gitu dong ma kan Vanya jadi gak tega ninggalin mama. Vanya janji nanti setelah Vano pulang Vanya akan menginap di rumah mama lagi." janji Vanya agar mama mertuanya tidak jadi sedih.
"Ya udah deh kalau itu udah jadi keputusan kamu, tapi beneran janji ya nanti kalau Vano udah pulang kamu nginap di rumah mama lagi."
"Iya mama ku sayang, Vanya janji. Jangan sedih gitu dong mukanya ma, muka mama gak pantes tau buat sedih gitu. Pantesnya tuh buat muka yang ceria dan bahagia." hibur Vanya.
"Kamu bisa aja bikin mama gak jadi sedih." sambil tersenyum ke arah Vanya.
"Ya harus bisa dong, udah mama jangan sedih lagi kan besok Vanya juga masih nginap di rumah mama jadi besok kita harus jalan jalan dan habisin uang papa."
"Haha benar kamu, tapi mama bingung gimana cara habisin uang papa soalnya dari dulu mama belanja mulu gak habis habis."
"Wah enak dong kalau gitu ma. Ehh mama tau gak papa dapat uang itu dari mana?" gurau Vanya.
"Enggak tahu, yang mama tahu dompet mama udah penuh aja sama black card."
"Wah jangan jangan papa..." ucap Vanya menggantung dengan mendramatisir.
"Ngepet.." mama Fara melanjutkan ucapan Vanya dengan memelotot kan matanya.
Vanya juga sama memasang wajah serius dan mengangguk anggukkan kepalanya.
Hahaha...
Tawa mereka mengakhiri obrolan receh yang unfaedah.
"Hahaha.. mama parah banget masak papa di bilangin ngepet sih kan kasian papanya."
"Lagian kamu ini ada ada saja tanya nya."
"pasti sekarang kuping papa panas deh ma karena kita omongin."
"Bener banget kamu."
Mereka pun terus berlanjut ngobrol sampai pesanan mereka datang.
-
"Kok kuping papa panas ya." keluh papa William sambil mengusap kupingnya yang memerah.
"Wah pasti itu ada yang ngomongin papa." kompor Vano.
"Kamu benar tapi siapa yang berani ngomongin papa di belakang papa."
"Siapa lagi kalau bukan istri Om." Lucas nimbrung obrolan anak dan bapak itu.
"Bener tuh kata Lucas pa, pasti mama yang ngomongin papa kalau gak siapa lagi." kompor Vano lagi.
"Awas aja nanti kalau papa pulang." dengan senyum devilnya papa William berucap.
"Mau di apain Om?" tanya Lucas penasaran.
__ADS_1
"kepo deh kamu, mangkanya nikah." jawab papa William dengan nada mengejek.
"Lah apa hubungannya sama nikah?" cengoh Lucas sedangkan Vano hanya diam saja karena dia sudah mengerti apa yang akan papanya lakukan nanti.
"Ya mangkanya kamu nikah dulu biar tahu."
"Om aneh deh."
"Kamu yang aneh, cowok kok gak doyan cewek."
"Om .."
"Apa?"
"Om kok ngeselin sih."
"Masa..."
"Tauk ahh sebel Lucasnya." ngambek Lucas dengan muka sok imut.
"Idih muka lo biasa aja, jyjyk gw liatnya."Vano menoyor muka Lucas yang duduk di sampingnya.
"Sakit beg*" omel Lucas.
"Udah deh kalian ini ribut mulu kayak Vino." ucap papa William.
"Idih kan Om yang mulai." bela Lucas tak mau di salahkan.
"Lah kok om, Om dari tadi diam aja loh."
"Diam dari mananya." gumam Vano.
"Kamu ngomong apa Van?" tanya papa William karena samar samar dia mendengar Vano ngomong.
"Enggak Vano gak ngomong apa apa kok papa salah dengar kali. Udah yok Luc kita latihan aja."ajak Vano dan segera beranjak untuk latihan dari pada harus meladeni ucapan papanya.
"Babay Om sayang, Lucas pergi dulu jangan kangen ya." ucap Lucas dengan nada yang menjijikkan menurut papa William.
"Udah sana jijik Om dengernya." usir papa William.
"Idih gak usah ngusir juga kali Lucas juga bakalan pergi."
Lucas pun pergi menyusul Vano untuk melanjutkan latihan tadi setelah mengistirahatkan tubuhnya.
"Hufft... gak anak gak keponakan sama aja ngeselinnya." gumam papa William.
...***...
Ya ingin tahu visual Lucas ini aku kasih liat semoga kalian suka.
Si ganteng dengan sifat aneh dia miliki menjadi ciri khas seorang Lucas.
*Untuk para readers yang udah ngasih vote, hadiah, like dan komennya aku ucapkan terimakasih banyak. Dan untuk semua yang masih setia membaca cerita aku masih ya, semoga tetap suka dengan karya aku yang amburadul iniππ
__ADS_1
Lanjutin votenya jangan kasih kendor π*