My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 101


__ADS_3

Vano turun duluan dari mobil dan setelah itu dia membukakan pintu mobil untuk Vanya. Mungkin itu sekarang sudah menjadi hobi baru Vano, membukakan pintu mobil untuk istri tercinta nya.


"Silahkan tuan putri."


"Apaan sih gak lucu." ucap Vanya untuk menutupi kesaltingan nya.


"Orang aku gak ngelucu." balas Vano.


Vanya tak menghiraukan Vano, dia berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah kedua orang tuanya di ikuti Vano di belakangnya.


"Assalamualaikum Vanya datang." teriakkan mengelegar Vanya saat memasuki rumah.


"Gak mama gak istri sama aja, suka bikin gendang telinga mau jebol, untuk sayang." gumam Vano tidak di dengar Vanya.


"Waalaikum salam." jawab mama Vani menghampiri mereka berdua.


"Ma." Vanya salim dan mencium pipi mama Vani di ikuti Vano.


"Kok gak bilang bilang sih kalau mau ke sini, kan mama bisa siapin masakan kesukaan kalian."


"Vanya tuh ma yang ngajak nya dadakan, jadi Vano gak sempat hubungi mama tadi." menuduh Vanya.


"Lah kok aku." cengoh Vanya.


"Emang iya kan, tadi siapa hayo yang ngajak ke sini?"


"Aku." jawab Vanya linglung.


"Berarti siapa yang salah?" tambah Vano lagi.


"Aku." jawab Vanya lagi.


"Tuh kan ma, Vanya tuh yang ngajak."


"Udah udah, kalian ini." lerai mama Vani.


"Ehh anak sama menantu papa datang." ucap papa Wijaya mengalihkan perhatian mereka semua ke arah tangga di mana papa Wijaya baru turun.


"Papa... Vanya kangen tauk." manja Vanya menghampiri papa Wijaya setelah itu dia memeluknya.


Ingat ya, meskipun papa Wijaya dan mama Vani memperlakukan Vanya kadang tidak baik, tapi Vanya tetap menyayangi mereka dan kalau lama tak ketemu pasti bakal kangen. Karena bagaimanapun juga mereka adalah orang tua yang sudah melahirkan dan mendidiknya selama ini.


"Aduh anak papa manja banget sih, perasaan kemaren pagi masih ketemu deh kok udah kangen aja." membalas pelukan Vanya.


"Kan Vanya kangen, emang gak boleh ya..." melepas pelukannya sambil mengerucutkan bibirnya layaknya bebek.


"Oh tentu boleh dong, udah bibirnya gak usah monyong gitu, mau papa kuncir?" mencubit pipi Vanya gemas.


"Auw, sakit tauk." mengelus pipinya yang memerah.


Sementara Vano menahan dirinya agar tak melakukan hal yang memalukan. Dia cemburu melihat Vanya berpelukan dengan papa Wijaya. Ingat Vano dia itu mertua kamu. batin Vano menenangkan pikirannya.

__ADS_1


"Kakak mana?" tanya Vanya.


"Kakakmu lagi di kamar, mama suruh istirahat tadi." jawab mama Vani.


"Ooh ya udah Vanya mau nyamperin kakak dulu." menaiki tangga meninggalkan Vano.


"Lah kok aku di tinggal." cengoh Vano.


"Udah sana kamu susulin, kamu belum kenalan dengan Farrel kan?" ucap papa Wijaya yang di angguki Vano.


"Ya udah Vano permisi ke atas dulu ma, pa." pamit Vano.


-


"Kakak." teriak Vanya saat membuka pintu kamar Farrel yang berada di sebelah kamar Vanya.


"Gak usah teriak princess, kakak gak budek." ucap Farrel.


"Hehehe." cengir Vanya berjalan menghampiri Farrel yang tengah duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya.


"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Farrel mengelus rambut Vanya yang tengah duduk di sampingnya.


"Sayang kok aku di tinggal sih." Belum sempat Vanya menjawab, Vano sudah nyelonong masuk kamar Farrel tanpa permisi.


"Oh iya lupa." menepuk jidatnya sendiri.


Vano berjalan menghampiri Vanya dan Farrel dengan hati yang bergemuruh menahan cemburu, karena tangan Farrel yang bertengger di kepala istrinya.


"Gak suami gak istri sama aja, suka nyelonong ke kamar orang tanpa izin." sindir Farrel tapi di anggap bodo amat oleh Vanya dan Vano.


"Kak kenalin ini suami Vanya namanya Vano." Vanya memperkenalkan Vano pada Farrel.


Farrel mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Vano.


"Farrel."


"Vano." balas Vano.


"Gimana Van, masih suka ikut balapan lagi gak?" tanya Farrel yang membuat Vano mengeryit bingung.


"Dari mana lo tahu kalau gw suka balapan?" tanya Vano sinis.


"Gak usah sinis gitu mukanya, lo lupa sama gw." Vano mengelengkan kepalanya lupa.


"Gw Farrel, dulu gw sebelum kecelakaan suka nongkrong sama pebalap lainnya di cafe star setelah perlombaan. Dan dulu gw paling sering duduk semeja sama lo dan Galang kalau gak salah." jelas Farrel.


Vano diam mengingat sesuatu, masa masa di mana dia masih sering ikut balapan di sirkuit satu tahun yang lalu.


"Lo kak Dean." kaget Vano.


Vano memanggil Farrel dengan sebutan Dean, karena dalam dunia balap Farrel terkena dengan nama Dean, maka dari itu saat tadi mereka berkenalan Vano tak mengenali Farrel. Toh udah lama juga mereka tidak bertemu.

__ADS_1


"Iya nama gw Roka Farrel Dean Wang atau lebih kalian kenal dengan kak Dean, tapi dalam dunia keseharian gw lebih suka di pangil Farrel." jawab Farrel.


Bruk.


"Kak Dean kemana aja, kenapa setelah balapan waktu itu kak Dean ngilag bagai di telan bumi."


Tanpa Vanya duga, ternyata Vano sedekat itu dengan kakaknya. Apalagi ini sampai memeluk Farrel dengan eratnya, berarti kan dulu mereka sangat dekat.


"Jangan panggil Dean kalau di sini, pangil gw Farrel aja. Dan soal kemana gw selama ini, itu nanti saja kapan kapan gw jelasin." membalas pelukan Vano ala laki laki.


"Kok jadi kayak teletabis sih, Vanya mau dong ikut pelukan." bersiap memeluk mereka berdua.


"NO." tolak Vano mentah mentah, Vano segera melepaskan pelukannya dengan Farrel dan menatap tajam pada Vanya.


"Padahal kan aku pengen ikut." mengerucutkan bibirnya.


"Kalau mau ikut pelukan sama aku aja jangan sama kak Dean." sikap posesif Vano keluar.


"Lah emang kenapa kalau pelukan sama gw?" ucap Farrel.


"Ya gak boleh pokoknya, Vanya hanya milik gw seorang." jawab Vano.


"Enak aja, princess itu milik gw." bantah Farrel.


"Dia istri gw."


"Dia adek gw."


Adu mulut Vano dan Farrel membuat Vanya pusing sendiri.


"Udah lah terserah kalian saja, aku mau keluar bantu bantu mama." tanpa persetujuan dari Farrel dan Vano, Vanya keluar dari kamar Farrel tanpa menutup pintunya kembali.


"Tuh kan, gara gara lo sih princess jadi pergi kan." tuduh Farrel pada Vano.


"Kok gw, bukannya Lo." balik menuduh Farrel.


"Kan lo yang mulai."


"Farrel, Vano ke ruang kerja papa sekarang." ajak papa Wijaya menghentikan adu mulut Vano dan Farrel.


"Iya pa." jawab kompak keduanya.


Papa Wijaya pun pergi dari sana menuju ruang kerjanya.


Sedangkan Farrel dan Vano mereka saling melemparkan tatapan permusuhan, dan setelahnya mereka pergi mengikuti papa Wijaya dengan Vano yang berjalan di depan di ikuti Farrel yang ingin mendahului Vano.


Vano tak mau kalah, dia berjalan lebih cepat lagi agar Farrel tak dapat menyalip dirinya. Begitu pula Farrel, dia menambahkan kecepatannya lagi agar bisa menuntut Vano.


Dan terjadilah aksi kejar-kejaran di dalam rumah keluarga Wijaya yang pelakunya adalah Vano dan Farrel.


...***...

__ADS_1


Maaf ya author jarang up, author lagi rada sibuk bantu bantu saudara yang lagi ada kegiatan 😁🙏.


Masih buat yang selalu setia menunggu My Ketos My Lady update 🥰


__ADS_2