
DOR...
Suara tembakan yang memekakkan telinga membuat orang yang ada di sekitar sana berteriak ketakutan.
Sementara Vano dan Vanya sekarang sedang tengkurap di atas pasir putih pantai dengan posisi Vanya yang ada di bawah Vano.
"Sayang kamuamu gak apa apa kan?" Tanya Vano khawatir setelah membantu Vanya untuk duduk.
Vanya menggangukkan kepala tanpa mengucapkan sepatah kata pun karena dia masih syok dan takut mengingat kejadian tadi.
"Udah kamu gak usah takut ya, ada aku di sini." Memeluk Vanya agar Vanya merasa lebih tenang.
"Kita pulang yuk, di sini tidak aman buat kita." Ajak Vano yang di setujui Vanya.
Mereka pun kembali ke villa, mungkin karena merasa ketakutan dan syok membuat Vanya merasa lelah dan akhirnya sekarang tertidur.
Vano keluar kamar menuju balkon kamarnya untuk menghubungi anak buahnya yang sudah pasti tadi mengejar si pelaku.
"Halo." Sapa Vano dengan nada datar yang membuat orang di seberang sana takut.
"Halo tuan." Jawab anak buah Vano berusaha menetralkan ketakutannya agar tidak di ketahui oleh Vano, tapi dia salah sebenarnya Vano sudah tahu dari mulai mendengar suaranya, tapi Vano tidak bilang itu.
"Gimana?"
"Kami berhasil menangkapnya tuan, maafkan atas keteledoran kami tadi."
"Hmm, kalian bawa dia ke markas yang akan papa resmikan lusa, tunggu aku di sana." Perintah Vano.
"Baik tuan."
Tut.
"Berani beraninya mereka main main sama gw." Geram Vano sambil mengertakkan giginya.
Vano masuk kembali ke dalam kamar dan segera membersihkan tubuhnya yang sudah kotor terkena pasir pantai.
Setelah selesai dia pergi menyusul Vanya ke atas ranjang dan tidur sambil memeluk tubuh Vanya.
Flashback on:
Saat Vano dan Vanya tengah menikmati pemandangan indah luasnya laut, tiba tiba pendengaran Vano menangkap ada suara pelatuk pistol yang siap untuk meluncurkan pelurunya. Dengan pengelihatan serta ketajaman pendengaran yang dia punya Vano menyelusuri dari mana arah suara itu tanpa Vanya ketahui.
Ini salah satu ilmu yang Vano dapat waktu di Italia, yaitu mempertajam pendengaran dan kewaspadaan.
Vano mendengar suara tembakan itu yang ternyata di langkahkan ke arah Vanya dengan cepat Vano menarik Vanya dalam pelukan serta berguling ke pasir untuk menghindari tembakan itu.
"Aaaaaa." jeritan yang Vano dengar dari orang orang sekitar.
Beruntunglah Vano cepat tanggap dalam menghadapi masalah ini, kalau tidak entah lah apa yang akan terjadi pada Vanya selanjutnya.
__ADS_1
Flashback off.
-
Sementara di pantai sekarang lagi dalam masa penyelidikan oleh polisi dalang dari penembakan itu setelah mendapat laporan dari warga situ. Tapi percuma juga gak bakal bisa menemukan orang itu, karena orang itu sudah ada di tangan Vano.
-
Malam harinya setelah magrib setelah bangun tidur Vano memutuskan untuk mengajak Vanya pulang ke Jakarta demi keamanan Vanya juga dia ada urusan di Jakarta dengan pelaku penembakan itu.
Sekarang mereka berada dalam mobil setelah turun dari pesawat tadi.
"Kita mau ke mana Van, ini kan bukan jalan menuju mansion kita?" tanya Vanya dalam perjalanan.
"Kita ke rumah mama sama papa aja ya, di sana aman buat kamu. Aku juga gak tega ninggalin kamu sendirian di rumah nanti, kalau di rumah mama sama papa kan nanti kamu ada temennya, kamu juga nanti bisa main sama Vino." jelas Vano.
"Emang kamu mau ke mana?"
"Aku ada urusan sebentar sama papa dan kakakmu nanti."
"Kak Farrel?"
"Iya kak Farrel."jawab Vano.
Vanya pun diam saja setelah itu hingga mereka sampai di kediaman keluarga William.
"Hai Vino sayang." balas Vanya.
"Kok sayang sih." omel Vano tak terima.
Vanya tak menghiraukan omelan Vano, dia berjalan menghampiri mertuanya dan salim.
"Ma, pa." sapa Vanya sambil mencium punggung tangan mama Fara dan papa William.
"Wlee kak Vanya gak peduli sama kak Vano." ejek Vino pada Vano sambil menjulurkan lidahnya.
Vano juga tak menghiraukan ejekan adiknya, Vano berjalan melewati Vino yang posisinya ada paling depan dari mama papanya.
"Ma, pa." melakukan hal yang sama seperti Vanya.
"Kok kak Vano gak sapa Vino sih." merasa tak di harapkan.
"Ma, kok ada suara orang tapi kok gak ada wujudnya sih." ujar Vano bergidik geri sambil memegang tengkuknya merasa merinding.
"Iya ya Van, kok papa jadi ngeri ya. Kita masuk aja yuk." timpal papa William yang ikut ikutan menjahili anak bontot nya.
"KAKAK, PAPA." Teriak Vino cempreng yang berhasil memekakkan telinga orang yang berada di sana.
"Vino jangan teriak teriak, ini udah malam." tegur mama Fara.
__ADS_1
"Papa sama kak Vano tuh ma." mengerucutkan bibirnya kesal.
"Udah ayo kita masuk, kamu pasti lelah kan." ucap mama Fara sambil mengandeng tangan Vanya memasuki rumah mewah keluarga William di ikuti Vano dan papa William yang tengah membicarakan sesuatu, mereka meninggalkan Vino yang masih ada di luar sendirian.
"Iiihh, awas aja nanti bakal Vino balas." menghentak hentakkan kakinya di lantai.
Vino berlari mengejar langkah orang orang dewasa yang sudah berani meninggalkan dirinya seorang diri di teras.
"Sayang aku pamit pergi dulu ya sama papa, kamu di sini sama Vino dan mama." pamit Vano pada Vanya saat mereka sedang duduk bersantai di ruang televisi.
"Aku juga pamit ma, mau ada urusan sebentar dengan Vano." pamit papa William pada mama Fara.
"Iya kamu hati hati by." jawab Vanya pada Vano.
"Ma aku pamit dulu." pamit Vano pada mama Fara.
"Iya pokoknya kalian harus hati-hati dan saling menjaga satu sama lain." jawab mama Fara karena dia sudah tahu apa yang akan di lakukan anak serta suaminya itu.
"Ingat pa, papa sudah gak muda lagi jadi harus perhatikan kondisi papa sebelum bertindak." tambah mama Fara pada suaminya.
"Iya ma."
"Dan kamu Vino, kakak minta kamu bisa jaga mama sama kak Vanya ya." ujar Vano pada Vino.
"Siap kak, Vino bakal jaga mama dan kakak cantik. Tapi jangan lupa ini gak geratis, minimal satu buah mobil atau motor milik kak Vano kasih buat Vino." jawab Vino tak melupakan keuntungan yang dia inginkan.
"Iya nanti kakak kasih." jawab Vano meng-iyakan saja entah itu nanti dia kasih atau enggak, dari pada ribut kan buang buang waktu saja. Lagian Vino minta mobil emang dia udah bisa nyetir apa. pikir Vano.
"Ya udah kita berangkat dulu, Assalamualaikum." pamit keduanya.
"Waalaikum salam." jawab kompak Vanya, mama Fara dan Vino.
"Mereka mau ngapain sih ma?" tanya Vanya penasaran setelah Vano dan papa William keluar dari rumah.
"Mama juga gak tahu, mungkin ada urusan pekerjaan." bohong mama Fara.
"Ya udah yuk kak bantuin Vino mengerjakan PR buat lusa." ajak Vino.
"Yuk." semangat Vanya, dari pada gabut kan mending main di kamar Vino yang banyak mainannya.
"Kita ke atas dulu ma." pamit Vanya pada mama Fara.
"Iya semangat anak anak mama belajarnya."
...***...
Hhhhh kalian kena prank ya😂
Author juga gak mau kok kalau salah satu dari mereka ada yang masuk rumah sakit lagi, masih sayang uangnya buat bayar rumah sakit kan mahal sekarang.😂
__ADS_1