
"Lemes bestie gak di kasih minum sama ayank." ucap Vino yang kebanyakan nonton toktok.
"JIAHHKK..."seru Farrel dan Vano barengan.
"Van keknya adik lo kebanyakan liat ** deh." ujar Farrel ambigung.
"Heh, sembarangan lo kalau ngomong. Mata adik gw masih suci kali." balas Vano.
"Otak lo kok ngeres sih, maksud gw ** itu toktok bukan itu." jelas Farrel.
"Ooh tiktok, mangkanya kalau ngomong tuh yang jelas jangan di singkat singkat."
"Kok lo nyalahin gw, emang otak lo aja yang isinya begituan."
"Iiih kakak, Vino haus. Kalian ngomongin apa sih ** ** gitu, Vino gak ngerti."omel Vino yang merasa di abaikan.
"Udah mending kamu gak usah ngerti aja, dari pada nanti ribet." ujar Vano.
"Ya udah kalian berdua tunggu sini dulu, biar gw beliin minum Vino. Lo mau juga gak Van?"
"Ya mau lah, gw juga haus kali." jawab Vano.
"Ya udah gw pergi dulu."
"Kak Farrel jangan lupa sekalian beliin Vino jajan." ucap Vino yang di acungin jempol oleh Farrel.
"Kakak heran deh sama kamu, emang uang yang papa kasih masih kurang, kok kamu kek seneng gitu kalau dapat geratisan." ucap Vano saat Farrel sudah tak terlihat lagi.
"Ya gak lah, malah uang yang papa kasih tuh lebih lebih. Tapi Vino lebih suka kalau dapat geratisan karena rasanya beda."
"Dih, emang apa bedah. Orang yang buat aja sama pabriknya bahkan alat juga bahannya aja sama."
"Iiiss kakak mah gak tahu rasanya dapat gratisan, orang kakak yang biasanya malah gratisan ke temen temen kakak." ucap Vino yang benar adanya, memang Vano yang lebih suka traktir temennya dari pada dapat traktiran.
"Ya biarin, orang kakak punya duit. Sekalian kan kakak itu shodaqoh pada mereka."
__ADS_1
"Ooh gitu, ya udah kakak shodaqoh saja sama Vino, biar uang Vino makin banyak."
"Dih, mata duitan."
"Biarin wlee." ledek Vino yang membuat Vano berdecak kesal.
"Cih." Vano tak lagi merespon ucapan Vino, nanti yang ada malah makin panjang sepanjang sungai Amazon.
"Nih minuman nya." Farrel datang membawa kantung plastik yang berisi air mineral serta beberapa jajanan untuk Vino.
"Wahh, makasih kakak Farrel yang ganteng, kak Farrel baik banget deh, kan Vino jadi sayang." puji Vino yang menurut Vano sangat lebay.
"Cih, lebay. Cuma di beliin gituan doang aja muji segitunya." sindir Vano tapi tak menatap pada Vino.
"Bilang aja iri, karena cuma di beliin minum." ledek Vino.
"Dih, siapa juga yang iri. Sorry ya seorang Geovano Alexander William gak pernah iri pada siapapun, lagian cuma jajanan gitu doang gw juga mampu beli sendiri." sombong Vano.
"Udah gw mau lari dulu, Rel lo yang urus adik gw karena lo yang ajak dia." lanjut Vano setelah menghabiskan minuman nya.
"Vino kamu di sini dulu gak apa apa kan, soalnya kakak mau nyusul kakak kamu." ucap Farrel pada Vino yang tengah asik memakan jajanan pemberiannya.
"Kak Farrel mau lari lagi?" tanya Vino sok polos, padahal mah dia udah ngerti dengan maksud Farrel ingin menyusul Vano.
"Iya kakak kan mau olahraga, karena kamu katanya capek jadi kamu di sini dulu nanti setelah selesai kak Farrel samperin kamu ke sini." terang Farrel.
"Vino di sini sendiri?" tanya Vino lagi melihat sekitar.
"Enggak kamu gak sendiri, kan di sini rame." ujar Farrel lagi stok kesabaran Farrel masih banyak sepertinya.
"Tapi kan Vino gak kenal sama mereka semua." balas Vino.
"Ya kan yang penting kamu gak sendiri."
"Nanti kalau Vino di culik gimana, trus nanti Vino di jual." takut Vino membayangkan yang tidak tidak.
__ADS_1
"Enggak mungkin Vino, di sini banyak orang dewasa, nanti kalau ada orang yang mendekati Vino, Vino teriak minta tolong."
"Nanti kalau gak ada yang mau peduli sama Vino gimana."balas Vino lagi yang tak kehabisan ide.
"Ya, ya... kan di sini banyak cctv jadi kamu gak perlu khawatir di culik lagi, penculik tuh takut kalau ada cctv." Farrel sudah bingung mau ngasih pengertian seperti apa pada Vino, anak ini bukan anak sembarangan.
"Tapi nanti kalau penculiknya pintar trus mereka matiin cctv nya gimana."
Haduh Vino bikin Farrel greget aja, padahal kan gak mungkin ada yang bisa nyulik Vino, orang Vino nya aja punya bodyguard secara sembunyi-sembunyi dan Farrel tahu itu.
"Please kak Farrel mohon, Vino di sini sebentar ya, cuma sebentar aja. Kamu gak kasian sama kak Farrel, kak Farrel kan habis sakit jadi harus banyak banyak olahraga biar tubuh kak Farrel tuh sehat." bujuk Farrel dengan memelas.
Vino diam mencerna ucapan Farrel, dia memikirkan sesuatu agar tidak di tinggal sendirian di sini, enak aja mereka enak enak lari masak Vino bengong sendirian di sini, kan gak banget. Trus bagaimana nanti kalau ada cewek cewek di sekolahan Vino trus mereka liat Vino bengong di tengah taman sendirian pasti nanti mereka bakal menertawakan Vino. pikir Vino.
"Emm bagaimana kalau kak Farrel anterin Vino ke mobil aja, kan aman kalau Vino ada di dalam mobil." ide Vino yang masuk akal.
"Oke kak Farrel anterin kamu ke mobil, tapi kunci mobilnya kan ada di kak Vano."
"Kakak tenang aja, tadi waktu kak Vano lari kunci mobilnya jatuh jadi Vino ambil deh." mengeluarkan kunci mobil.
"Ya udah kalau gitu ayo." mau mengandeng tangan Vino untuk menuntun nya.
"Aduh kak, Vino kan capek. Vino minta gendong ya." pinta Vino dengan muka polosnya yang bikin orang gemes.
"Hah." kaget Farrel.
Fia gak salah dengar kan. Dia juga capek habis lari, tadi juga habis jalan lumayan jauh untuk membeli minuman untuk Vino, dan sekarang Vino malah minta gendong. Pantes aja Vano tadi kek kesel banget gitu sama adiknya, ternyata oh ternyata. pikir Farrel.
"Kenapa kak Farrel gak mau ya." Pura pura sedih.
"Ehh, enggak kok. Ya udah ayo naik kakak gendong di belakang." akhirnya mau tak mau Farrel pun mengendong Vino sampai mobil, mana tengah taman dengan tempat parkir jaraknya lumayan jauh lagi.
'Gak papa Rel, dari pada lo gak jadi lari.' batin Farrel sedih.
Sementara yang di gendong, Vino malah enak enakkan bersandar di bahu tegap Farrel, menikmati gendongan Farrel.
__ADS_1
...***...