My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 144


__ADS_3

Vano dan Farrel sampai di mansion Vano, Vano segera masuk ke dalam untuk memberikan pesanan Vanya, di ikuti Farrel di belakangnya.


"Lo tunggu di meja makan aja, gw mau ngasih ini dulu buat bini gw." ucap Vano yang di angguki Farrel.


Vano pun segera naik ke atas menuju kamarnya dan Vanya berada.


"Sayang..." pangil Vano saat membuka pintu kamar.


"Kamu di mana?" tanya Vano agak berteriak agar Vanya mendengar suaranya.


"Aku di kamar mandi Van." jawab Vanya yang mendengar Vano tengah mencari dirinya.


Vano pun segera berjalan menuju kamar mandi untuk menemui Vanya dan memberikan pesanan Vanya tadi.


Tok tok tok.


"Yank, ini pesanan kamu." ucap Vano.


"Iya tunggu bentar." jawab Vanya dari dalam kamar mandi.


Dengan sabar Vano menunggu Vanya di depan pintu kamar mandi sambil menenteng kantong plastik tadi.


Ceklek.


Vanya membuka pintu kamar mandi, dan dengan segera Vano memberikan pesanan Vanya.


"Ini." memberikannya pada Vanya yang hanya menyembulkan kepalanya saja di pintu.


"Makasih cayang." jawab Vanya dan menutup pintu kamar mandi lagi.


"Yank aku tunggu di bawah ya, kasian kak Farrel gak ada yang nemenin." teriak Vano.


"Iya." balas Vanya tak kalah kencang dari Vano.


Vano pun kembali ke bawah untuk menemui Farrel.


"Mana princess gw?" tanya Farrel.


"Masih di kamar mandi." jawab Vano mendudukkan dirinya di samping Farrel.


"Ooh."


Mereka ngobrol tipis tipis membahas perusahaan orang tua mereka yang mereka bantu dikit dikit, hingga Vanya datang nyamperin mereka.


"Kita langsung makan aja yuk, keburu dingin nanti." ajak Vanya.


Vano dan Farrel pun beranjak mengikuti Vanya menuju meja makan. Di sana sudah tertata rapi berbagai macam masakan ada tumis kangkung kesukaan Vano, ayam rica rica, telur balado, oseng cumi dan sambal bawang sebagai pelengkap.


"Kamu mau sama apa Van?" tanya Vanya yang mengambilkan Vano makanan.


"Semuanya aku mau, tapi tumis kangkung nya yang banyak soalnya aku suka." jawab Vano.


"Kakak gak princess ambilin?" tanya Farrel menawarkan diri untuk di layani Vanya.

__ADS_1


"Situ punya tangan kan." jeles Vano.


"Nah lo juga punya tangan kan, ngapain minta di ambilin princess." balas Farrel.


"Dih mana ada, orang gw gak ada nyuruh bini gw buat ngambilin makanan kok. Itu mah inisiatif bini gw sendiri, mangkanya nikah biar ada yang ngelayani kalau lo makan, apa lagi kalau ngelayani waktu malam hari di kamar." ucap frontal Vano.


"Vano..." tekan Vanya agar Vano diam.


"Hehehe kak Farrel yang mulai." bela Vano pada dirinya sendiri.


"Lah kok gw." tak terima Farrel.


"Udah kalian berdua ini ribut mulu, sini piring kakak biar banyak ambilin." tawar Vanya.


Dengan senang hati Farrel memberikan piringnya, apalagi sambil mengejek Vano, beuhh rasa mantap...


"Udah sekarang makan, jangan ada yang ngomong satu katapun." tegas Vanya setelah selesai mengambil Vano, Farrel dan juga dirinya sendiri makanan.


"Tapi yank..."


"Vano..." tekan Vanya tajam.


Akhirnya mereka pun makan dengan tenang tanpa ada yang bersuara.


"Kakak gak mau nginap di sini aja?" tanya Vanya saat melihat Farrel ingin berpamitan.


"Enggak, nanti malah yang ada mama pusing nyari aku." tolak Farrel.


"Waalaikum salam." jawab kompak Vanya dan Vano.


"Kita naik yuk." ajak Vano.


"Yuk." mereka pun naik ke kamar mereka dengan tangan yang masih setia berpegangan dengan erat.


Sayang aku boleh tanya sesuatu gak sama kamu?" tanya Vano setelah mereka duduk di atas ranjang bersiap untuk tidur.


"Mau ngomong apa sih, tinggal ngomong aja ngapain pakek ijin." jawab Vanya.


"Beneran ya, nanti kamu gak boleh sedih atau pun murung." peringat Vano.


"Iya, udah kamu mau ngomong apa, jangan bikin aku penasaran deh." paksa Vanya agar Vano cepat ngomong.


"Jadi gini, waktu itu, waktu kamu yang hampir ke tabrak oleh Tante Fen, kamu kok kayak takut gitu lihat muka Tante Fen. Apa ada yang kamu sembunyikan selama ini dari kita semua?" tanya Vano yang membuat Vanya menundukkan kepalanya.


"Hei lihat aku, ini yang aku gak suka dari kamu. Kamu gampang sekali di tindas. Sini lihat aku." mengangkat dagu Vanya agar menatap Vano.


"Jujur sama aku, adakah yang kamu sembunyikan selama ini." Vanya diam saja masih tak mau menjawab.


"Kamu bilang sama aku biar fikiran kamu bisa plong. Siapa tahu juga kan aku bisa bantu." ucap Vano lagi berharap Vanya luluh.


"Aku, aku takut sama Tante Fen." ucap Vanya.


"Kenapa takut, takut sama wajah nya atau kelakuannya?" tanya Vano lagi.

__ADS_1


"Takut sama keduanya, wajahnya serem keluhannya malah lebih serem."


"Dulu waktu aku di culik, aku gak di kasih makan ataupun minum. Bahkan aku gak boleh tidur sama sekali. Jika aku tertidur, aku akan di siram sama air es." jelas Vanya sambil mengingat masa masa dirinya waktu di culik dulu.


"Terus?" Vano minta Vanya untuk melanjutkan ceritanya.


"Pernah aku tertidur karena saking ngantuknya, trus aku di siram pakai air es tapi aku gak bangun. Akhirnya Tante Fen murka dan mencambuki punggung ku sampai meninggalkan bekas. Dia dulu juga pernah menjambak rambutku lalu memotongnya dengan gunting yang tumpul sehingga membuat kepalaku tertarik tarik oleh rambut yang nyangkut di gunting." jelas Vanya lagi yang membuat hati Vano bergemuruh menahan emosi.


"Awas kau Tante Fen gw abisin Lo." batin Vano.


"Apakah karena itu juga tangan kamu sampai gemetar kemaren?" tanya Vano sambil membawa Vanya ke dalam pelukannya.


Vanya mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada Vano karena dia sudah menemukan kenyamanan yang dia cari selama ini.


"Besok sepulang sekolah kita ke psikiater ya buat periksa trauma kamu itu." ajak Vano sambil mengelus surai lembut nan panjang rambut Vanya.


"Aku gak gila, ngapain ke psikiater." sela Vanya memandang Vano.


"Tidak harus gila bila kita ingin ke psikiater, mumpung belum terlalu parah lebih baik di periksa dulu, siapa tau kan nanti kamu bisa sembuh." rayu Vano agar Vanya mau mengikuti sarannya.


"Aku gak papa kok, nih buktinya aku biasa aja." kekeh Vanya tetap tidak mau.


"Iya sekarang kamu gak apa apa, tapi nanti saat kamu ketemu sama Tante Fen rasa trauma kamu akan muncul dengan sendirinya."


"Tapi aku beneran gak gila Van." kekeh Vanya.


"Iya kamu gak gila, tapi kamu trauma." balas Vano.


"Udah pokoknya kita besok ke psikiater." mutlak Vano tak mau di bantah.


"Terserah kamu lah, asal kamu yang nemenin aku mau." ujar Vanya yang akhirnya setuju.


"Nah gitu dong itu baru istrinya Vano." puji Vano.


"Ya udah sekarang kita tidur, kamu lepas b** kamu." perintah Vano.


"Lah mau ngapain?"


"Udah nurut aja, ini demi kedamaian negri."


Vanya pun akhirnya melepaskan b** nya di bantu Vano, dan setelah itu Vanya segera berbaring di samping Vano.


"Kamu mau apa?"Tanya Vanya saat melihat Vano melepaskan kaos yang dia kenakan.


"Ada deh." jawab Vano dan segera berbaring di samping Vanya tapi posisinya agak ke bawah, lebih tepatnya di itu Vanya.


"Van..." cegah Vanya pada Vano yang mau membuka kancing baju tidur Vanya.


"Aku kan kangen yank sama mereka, udah kamu tidur aja, aku gak bakal ganggu kamu kok." ucap Vano dan melancarkan aksinya.


Iya gak ganggu Vanya, tapi kegiatan Vano itu yang membuat Vanya malah gak bisa tidur.


...***...

__ADS_1


__ADS_2