My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 134


__ADS_3

'Eemmm, itu...anu....' bingung Vanya harus memberikan alasan apa.


'Itu kamar baru kamu kan yank?' sahut Vano.


'Ahh iya, bener itu kata Vano. Kamar gw habis di renovasi jadi ya berubah gini.' jelas Vanya.


Vanya pun merasa lega karena Vano telah membantunya tadi.


'Ooh kamar lo.' jawab barengan Sonya dan Sisil.


'Ehh udah dulu ya, gw mau beresin berkas berkas perusahaan, numpuk banget ini.' pamit Vano, karena dia takut teman temannya akan banyak tanya nanti.


'Gw juga mau lanjut ngegame, Lang cepet lo log in.' pamit Rangga juga.


'Oke siap.' jawab Galang.


'Ooh jadi kamu online trus gak bales chat aku itu kamu lagi ngegame.' sela Sisil dengan nada yang tak enak.


'Hehehe iya, jangan marah dong, kamu kan tahu ini itu udah jadi hobi aku. Jadi ngertiin aku ya, lagian kamu juga kan biasanya sibuk sama pacar pacar kamu.' jawab Rangga.


'Lo di selingkuhin Ngga?' tanya Galang setelah mendengar ucapan Rangga tentang pacar pacar Sisil.


'Bukan di selingkuhin, tapi lebih tepatnya gw yang jadi selingkuhannya.' jawab Rangga.


'Seriusan lo, kok lo mau sih.'


'Orang udah cinta,mau gimana lagi.' jawab santai Rangga lagi seolah tidak merasa sakit hati.


'Emang sejelek apa sih pacar Sisil sampai sampai dia harus selingkuh sama lo yang menelannya gini.' meledek Rangga.


'Oh jangan salah, pacar pacar gw tuh ganteng ganteng gak ada obat. Kalau gak percaya tanya aja sama Vanya, iya gak Van?' sela Sisil tak terima pacarnya di katain jelek.


'Lo tahu Van, kalau Sisil punya pacar selain Rangga?' tanya Galang pada Vanya.


'Iya tahu.' jawab Vanya.


Vano pun hanya menyimak saja obrolan mereka karena dia sudah tahu siapa pacar pacar Sisil itu. Bahkan dia juga bisa di bilang selingkuhan Vanya.


'Wah parah nih, jangan jangan Vano juga selingkuhan lo lagi.' tuduh Galang.


'Lah emang iya.' jawab Vanya lagi.


'Van lo denger gak apa kata cewek lo barusan, lo di jadikan selingkuhan nya Van. Lo jangan mau dong, di luar masih banyak cewek jomblo yang mau setia sama lo. Van lo denger gw ngomong gak sih?' Cerocos Galang yang membuat Vano segera mencari sesuatu di laptopnya dan segera mengarahkan nya ke handphone yang sedang melakukan panggilan video.


'Noh pacarnya Sisil ama cewek gw, bahkan kayaknya pacarnya Sonya juga. Udah lo diam jangan banyak omong, ganggu gw kerja aja. Gw pamit dulu, BYE." setelah mengatakan itu Vano pun menutup sambungan video call.

__ADS_1


Vano menunjukkan deretan foto foto artis Korea yang di dapat dari g**gle.


'Gw juga pamit duluan, BYE.' pamit Vanya juga.


'Kita juga yuk sil.' ajak Sonya.


'Hayuk lah, babay para cogan.'


'Yah, kok pada pergi sih.' ucap Galang.


'Ya udah yok kita log in aja.' ajak Rangga.


Tut.


Galang mematikan sambungan telepon sepihak.


"Yah yah, kok mati sih. Dasar anak buah Vano." racau Rangga kesal.


-


"Sayang..." pangil Vanya manja saat dia memasuki ruang kerja Vano.


Mendengar ada yang memanggilnya, Vano pun mendongakkan kepalanya, Vano pun tersenyum manis melihat keadaan istrinya.


Dengan senang hati Vanya pun menghampiri Vano dan segera memeluk Vano sambil duduk di pangkuan Vano.


"Kenapa hmm?" tanya Vano lagi.


"Gak papa cuma mau ke sini aja, di kamar sepi gak ada temennya." jawab Vanya sambil jari jarinya menari nari di dada bidang Vano.


"Sayang jangan nakal deh tangannya, nanti aku garap kamu protes." menghentikan tangan Vanya.


"Emang kenapa sih, orang cuma gini doang." mengulanginya lagi.


"Aku laki laki normal yank, jadi jangan salahkan aku jika nanti kamu aku makan, orang kamu sendiri yang mulai."


"Iiihh mes*m." menutup mulut Vano.


Vano pun menarik tangan Vanya agar melepaskan bibirnya, karena Vano mau ngomong.


"Mes*m mes*m gini juga suami kamu."


"Aku heran deh, perasaan dulu kamu gak gini gini banget waktu amnesia, kok setelah ingatan kamu kembali kamu jadi mes*m gini?" heran Vanya.


"Kamu gak tahu aja dulu aku sering nahan diri agar tidak memakan kamu, kalau sekarang mah bebas mau bercocok tanam kapan pun di mana pun."

__ADS_1


"Ya tapi gak di sembarang tempat juga kali."


"Loh emang siapa yang bilang di sembarang tempat, perasaan aku gak ada bilang gitu?"


"Itu tadi kamu bilang kapan pun dan di mana pun."


"Maksud aku tuh, di mana pun asal tempatnya tertutup dan nyaman, seperti di hotel, apartemen atau di mana gitu asal bukan di tempat yang terbuka. Masak iya kita ngelakuin hal begituan di depan umum, kan gak mungkin."


"Tauk ahh, udah sana kerja lagi. Sini pinjam handphone kamu, aku mau nonton drakor." mengadakan tangannya.


"Kamu ambil aja sendiri di saku celana."


Tanpa berpikir yang aneh aneh Vanya segera merogoh saku celana Vano untuk mengambil handphone Vano.


"Yank." pekik Vano saat tangan Vanya tidak sengaja menyenggol itunya.


"Hehehe maaf sengaja."


"Awas ya nanti kalau aku sudah selesai kerjanya." ancam Vano.


Vanya pun tak merespon ucapan Vano, dia tengah fokus memilih drakor on going yang akan dia tonton sekarang sambil menemani Vano kerja, dengan posisi yang masih sama seperti tadi, yaitu duduk di pangkuan Vano.


"Ya ampun song kang." histeris Vanya sambil mengerak gerakan kakinya karena geli sendiri melihat adegan di layar HP itu.


Vano yang merasa kurang nyaman pun menghentikan kerjaannya dan fokus menatap Vanya. Tak sengaja Vano menatap ponsel miliknya yang ada di tangan Vanya, Vano tersenyum karena tahu apa penyebab Vanya tidak bisa diam kakinya, karena Vanya melihat adegan ciuman panas di dalam adegan drakor itu.


"Kenapa hmm, mau?" ucap Vano dengan suara deep voice nya.


"Ehh." kaget Vanya dan menatap wajah Vano yang sudah berubah tidak seperti tadi. Vanya yang menyadari Vano melihat ponsel yang ada di tangannya pun segera mematikan ponsel itu karena Vanya merasa malu sudah ketahuan melihat adegan begituan.


"Kenapa di matiin hmm?"


"Itu anu, anu.... aku mau ke kamar dulu." Vanya akan beranjak bangun, tapi Vano segera menahannya.


"Mau kemana hmm, dia sudah bangun loh." ucap Vano penuh dengan kasualnya yang membuat Vanya merinding sendiri.


Vanya merasakan di bawah dia ada sesuatu yang aneh, dan Vanya tahu apa itu.


"Tanggung jawab baby..." bisik Vano yang membuat darah Vanya semakin berdesir.


Vano mengangkat Vanya menuju sofa yang ada di dalam ruang kerjanya dan selanjutnya... kalian tahulah mereka ngapain.


...***...


Maaf ya hari ini cuma satu part aja, otak saya lagi gak jalan 😂 doain besok ada ide banyak supaya bisa up banyak banyak 😁

__ADS_1


__ADS_2