My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 270


__ADS_3

"Woy gw dah selesai nih, cepat ambil piringnya." teriak Vanya memangil orang itu setelah dia menyelesaikan acara makannya.


Orang itu pun masuk dan tanpa mengatakan apa apa langsung keluar membawa piring kotor bekas Vanya makan. Orang itu lupa untuk mengembalikan ikatan di tangan Vanya, sehingga sekarang tangan Vanya tak lagi di ikat.


"Yes gw bebas." seru Vanya senang.


Vanya pun segera membuka ikatan tali yang ada di badannya dan setelah itu dia menunduk untuk membuka ikatan tali yang ada di kakinya, meskipun agak kesusahan lantaran pandangannya kehalang oleh perutnya yang membuncit, tapi itu tak jadi halangan buat Vanya, Vanya tetap berusaha hingga pengikat kakinya terbuka.


"Hufft... akhirnya." lega Vanya setelah tubuhnya terbebas dari ikatan tali yang membelenggu.


Vanya beranjak mengambil senter yang tadi dia lihat, dengan agak kesusahan lantaran minim cahaya yang menyinari gudang itu.


"Semoga saja bisa." gumam Vanya saat akan menghidupkan senter itu.


"Alhamdulillah." syukur Vanya karena senter itu masih bisa di gunakan.


Vanya menyenteri seluruh dalam gudang untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa dia gunakan untuk kabur dari sana.


-


Sementara itu Vano mendapatkan kabar dari orang suruhannya kalau Vanya berada di villa puncak. Mengetahui itu Vano segera mengabari orang orang yang akan ikut andil dalam mencari Vanya. Vano mengajak mereka ketemuan di markas.


Vano pun segera pergi menuju markas untuk menyiapkan semuanya dalam pencarian Vanya kali ini.


-


"Rangga kemana sih kok gak bisa di hubungi." kesal Sisil lantaran dia kesusahan menghubungi Rangga.


Padahal Sisil tadi berniat untuk meminta Rangga mengantarnya ke toko buku untuk membeli buku yang dia butuhkan buat belajar.


"Gw pergi sendiri aja deh." lanjut Sisil dan bersiap pergi ke toko buku.


Sisil mengendarai mobilnya menuju toko buku dengan seorang diri. Hingga saat di lampu merah Sisil melihat Rangga juga ada di sana. Sisil yang penasaran pun memutuskan untuk mengikuti Rangga hingga sampai dia lupa kalau dia harus membeli buku.


-


"Semuanya udah siap kan?" tanya Vano.


Mereka semua pun memeriksa barang bawaan mereka ada yang tertinggal atau enggak.


"Siap." balas semua anggota WD yang akan ikut dalam pencarian Vanya.


Kali ini Vano membawa ratusan anak buah untuk berjaga jaga. Karena Vano yakin di tempat Vanya di sekap di sana di kelilingi oleh banyak anak buah Aaron.


"Kalau gitu kita berangkat sekarang." Perintah Vano.

__ADS_1


Mereka semua pun masuk ke dalam mobil masing-masing, ada juga yang menggunakan helikopter untuk melihat keadaan lewat udara.


"Lo tahu dari mana Van kalau Vanya ada di sana?" tanya Lucas kepo.


"Gw suruh seseorang untuk mengikuti orang yang menyekap Vanya." balas Vano.


"Orang yang menyekap Vanya? Bukannya orang itu udah kita tangkap ya?" heran Lucas.


"Udah nanti aja ngomongnya, kita pergi sekarang." balas Vano dan masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Farrel.


Mereka semua pun pergi menuju villa yang ada di puncak, di mana di sana ada Vanya yang tengah di sekap.


-


Kurang lebih satu jam mereka menempuh perjalanan menuju puncak hingga akhirnya mereka sampai di sana. Vano meletakkan mobilnya jauh dari villa agar tidak tercium kedatangannya oleh musuh. Vano juga menyuruh anggota WD yang lain untuk parkir di lain tempat agar tidak terlalu mencolok.


"Gimana Van rencana lo?" tanya Farrel.


"Kakak lewat pintu belakang, dan lo lewat pintu depan. Sedangkan gw akan masuk lewat jendela untuk langsung mencari Vanya. Nanti kalian bermain main aja dulu sampai gw bisa tahu di mana keberadaan Vanya di dalam. Kalau sudah kalian tebas aja langsung." jelas Vano.


"Anggota yang lain juga udah gw sebar mengelilingi villa, mereka menyamar jadi tukang kebun teh. Jadi nanti kita gak akan terlalu keteteran saat tiba tiba musuh datang dengan jumlah banyak." tambah Vano lagi.


"Ya udah kita tunggu apa lagi, ayo." ajak Lucas semangat.


Mereka semua pun berjalan menuju villa lewat jalan yang jarang orang lewati. Setelah sampai di gerbang villa, mereka segera menyebar dengan formasi yang sudah Vano buat.


-


Tak tak tak.


Suara langkah kaki beberapa orang.


Ceklek.


Pintu terbuka dan masuklah satu orang yang biasa Vanya pangil. Dan setelah itu ada seorang lagi yang masuk, tapi dia menggunakan jubah warna hitam serta penutup kepala, jadi Vanya tidak dapat melihat wajahnya.


"Siapa kamu?" tanya Vanya.


"Kamu gak perlu tahu siapa saya, yang pasti di sini saya yang akan menjemput ajal kamu." balas orang yang memakai jubah itu.


"Ada salah apa aku sama kamu, sampai sampai kamu culik aku?" tanya Vanya lagi.


"Bukan anda yang punya salah, tapi suamimu lah yang punya salah." balas orang itu.


Vanya merasa suara orang itu terasa sangat familiar di telinganya.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa kamu, kenapa suara kamu terdengar tidak asing di telingaku?" tanya Vanya lagi dan lagi tak putus saja.


"Roy, tutup mulut dia, dasar banyak tanya." perintah orang yang memakai jubah itu pada anak buahnya yang ternyata bernama Roy.


"Baik tuan." Roy pun menggambil lakban yang sudah di sediakan di sana beserta gunting juga.


"Hah, ternyata di situ ada gunting kenapa gw dari tadi gak tahu." pikir Vanya.


"Tunggu tunggu, kamu gak bisa main lakban mulut aku dong. Gimana nanti kalau lakban itu beracun terus nanti aku mati, kamu gak bisa bunuh aku dong?" ucap Vanya berusaha bernegosiasi.


"Kenapa suaramu itu sangat jelek sekali, Roy tutup mulut dia." perintah orang itu lagi.


"Ehh, jangan dong. Kasian bayi aku nanti gak bisa bernafas." ucap Vanya lagi.


"Halah kamu banyak bac*t." ucap orang itu dan mengambil lakban yang ada di tangan Roy.


"Tunggu tunggu." ucap Vanya refleks sampai tangannya yang tadi pura pura dia ikat terlepas menahan tangan orang itu.


"Oooh rupanya ada yang mau mencoba kabur dari sini." ucap orang itu.


"Bu-bukan begitu, ini tadi aku habis makan terus sama Roy lupa gak di ikat lagi." ucap Vanya membuka rahasia yang Roy sembunyikan kepada orang itu.


"Roy." pangil orang itu.


"I-iya bos." gugup Roy takut.


"Benarkah yang dia bilang?"


"Be-benar bos." jawab Roy dengan tubuh yang sudah bergetar.


"Cih, siapa yang nyuruh kamu ngasih makan dia, Hah?" marah orang itu pada Roy.


"Ga-gak ada bos."


"Kamu memang harus di hukum." melihat sekitar dan pandangannya jatuh pada sebuah balok kayu yang ada di sebelah Vanya.


Bug bug bug.


Orang itu memukul punggung Roy beberapa kali hingga membuat Roy jatuh ke tanah.


"Udah stop." teriak Vanya yang merasa kasian pada Roy.


Orang itu pun berbalik dan memandang Vanya, dia lupa membenarkan penutup kepalanya yang terbuka akibat dari memukuli Roy.


"Ra-Rangga."

__ADS_1


...***...


__ADS_2