
Vano berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan. Saat Vano sampai di sana dia menjadi pusat perhatian keluarga dan jangan lupakan adik tersayangnya yang segera beranjak dari tempat duduknya dan segera berlari ke arahnya.
"KAK VANO."
Bruk.
Teriak Vino sambil menubruk tubuh Vano dengan kerasnya dan memeluk kakak ganteng yang kegantengannya tidak dapat mengalahkan Vino.
(Menurut Vino tapi😂)
"Hmm." jawab Vano sambil mengelus rambut adiknya hingga berantakan.
"Iisss, kakak nih lambut aku jadi lusak kan. Nanti pacal aku jadi ilfil tauk." cemberut Vino sambil membenarkan tatanan rambutnya.
"HAH PACAR." kaget semua orang dan segera menatap ke arah Vino tak terkecuali dengan Vano dia juga menatap ke arah adiknya dengan memelotot kan matanya.
Mereka kaget, mana mungkin anak sebesar semut udah punya pacar bagaimana bisa.
"Mama papa kakak, kalian semua kenapa sih?" tanya polos Vino.
"Kamu sehat kan dek?" tanya Vano pada adiknya.
"Ya sehat lah. Apalagi habis latihan taekwondo di temani pacal, BEUHH makin sehat aku." Jawab Vino dengan bahasa gaulnya.
"Vino kalau ngomong itu jangan sembarang sayang. Kamu itu masih kecil jadi mana tau kamu tentang pacaran." terang mama Fara kepada anak ajaibnya.
"Vino benelan punya pacal ma. Cantik malah, entar kalau udah besal mau Vino ajak nikah."
Dam it. Jawaban Vino malah membuat semua orang menatapnya dengan gak percaya.
"Emang kamu tau apa itu pacaran?" tanya Vanya dengan lembut.
"Ya tau lah kakak cantik. Pacalan itu hubungan 2 olang yang saling sayang. Benal kan pa?"
Papa William yang sedari tadi diam karena takut salah ngomong dan akan kembali kepadanya pun kaget saat anaknya tiba tiba bertanya kepadanya.
"Hah. Apa sayang?" tanya papa William karena tidak mendengar perkataan anaknya.
"Iiih papa gak dengelin Vino ngomong ya dali tadi." marah Vino sambil menghentakkan kakinya.
"Ppfftt..." papa Wijaya pun berusaha menahan tawanya karena takut terkena mental oleh bocil itu.
Papa William yang mengetahui bahwa besannya tengah menertawakannya pun melotot tajam.
"Papa dengerin kok apa yang Vino omongin, tapi barusan papa lagi mikirin uang jajan Vino mau papa tambah atau enggak." jawab papa William dengan mengiming-imingi Vino dengan uang.
"Wah beneran pa. Vino mau kok uang jajannya di tambah tapi nanti tambah nya yang banyak ya pa." Nah kan mempan Vino itu emang mata duitan, masak di iming-iming uang jajan saja langsung lupa kalau tadi sedang marah.
"Cihh. Masih kecil aja mata duitan apalagi kalau udah gede." sindir Vano sambil berlalu meninggalkan adiknya dan menuju meja makan.
__ADS_1
"Kakak bukan mata duitan, tapi ini namanya bisnis. Lamayan kan nanti buat modal pacaran." Jawab Vino dengan cadelnya.
"Rumayan sayang bukan lamayan." mama Vani yang sedari tadi diam pun ikut menimbrung.
"Nah itu maksudnya ma." jawab Vino.
Meskipun Vino hanya anak dari besannya tapi mama Vani dan papa Wijaya meminta agar Vino juga ikutan memangil mereka mama papa seperti kakaknya Vano.
"Huh. Bilang R gak bisa aja pakai acara pacaran segala." sindir Vano lagi kepada adiknya. Kapan lagi kan menjahili adiknya. pikir Vano.
"MAMA..." Rengek Vino mencari pembelaan dari mamanya.
"Vano kamu ini kalau gak ketemu nanyain di mana adiknya, kalau udah ketemu di jahilin mulu." ucap mama Fara geram dengan tingkah anak pertamanya yang suka sekali menjahili adiknya.
"Katanya udah pacaran tapi masih aja suka ngadu." Bukannya mendengarkan omongan mamanya Vano malah makin jail kepada adiknya.
"MAMA Huuwaaaa kak Vano jahat, Vino mau pulang." kebetulan Vino duduknya di sebelah Vano jadi memudahkan Vino untuk memukuli kakaknya.
Bug bug bug
Tidak puas dengan itu Vino memutuskan untuk turun dari kursi dan mengambil ancang-ancang mengeluarkan jurus yang baru saja dia dapat dari latihan taekwondo tadi siang.
Vano yang melihat itu pun hanya tersenyum simpul. Sedangkan yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik dan kakak itu.
Saat Vino akan melakukan serangannya dengan cepat Vano menangkis serangan itu.
"Kamu mau nyingkirin aku?"
"Vino udah kembali ketempat duduk kamu. Dan kamu Vano udah jangan usilin adiknya. Udah jadi suami masih saja gak berubah tingkahnya." ucap mama Fara dengan tegas.
"Tapi ma..." ucap Vino.
"Duduk Vino." suruh mama Fara.
"Pa..." masih gak mau nyerah, Vino mencari pembelaan dari papanya.
"Udah kamu duduk dan makan makanannya nanti uang jajan kamu papa tambah lagi." karena gak mau ambil pusing papa William akhirnya mengeluarkan jurus andalannya.
"Yes, uangku nambah banyak." ucap senang Vino sambil mengangkat tangannya ke udara.
"Wlekk." Vino mengejek kakaknya.
"Cihh. Bocil mata duitan." ucap Vano.
"Vano..."
"Iya ma..." jawab Vano patuh.
Vanya yang sedari tadi melihat adegan itu pun ada rasa iri di hatinya. Vanya iri karena Vano memiliki keluarga yang hangat, apalagi dengan keberadaan adiknya yang imut itu.
__ADS_1
'Seandainya kakak ada di sini pasti aku gak bakalan pernah merasa kesepian seperti saat ini.' ucap Vanya dalam hati.
Akhirnya acara makan pun berlangsung dengan lancar, meskipun sering terjadi keributan antara Vano dan Vino tapi itu lah yang membuat suasana makin rame.
-
Malam harinya setelah keluarga William pulang ke rumahnya keadaan rumah jadi sepi kembali karena mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Vanya memutuskan untuk kembali ke kamar karena dia harus belajar. Sedangkan Vano tengah bermain catur dengan mertuanya dan mama Vani yang tengah membaca majalah di ruang televisi.
-
Dikamar Vanya tengah fokus belajar tapi dia teringat dengan Dia. Vanya pun membuka laci dan mengambil sebuah buka yang di dalamnya terdapat foto Dia.
"Kak, Vanya kangen banget tauk." ucap Vanya sambil mengelus muka seseorang yang ada di foto itu.
"Doa in Vanya ya kak supaya bisa ikut olimpiade nanti agar Vanya bisa bertemu dengan kakak."
"Nanti kalau Vanya bertemu kakak, Vanya mau cerita banyak banyak tentang hidup Vanya tanpa kakak."
Vanya terus memandangi foto tersebut, setelah puas Vanya pun mengembalikan foto itu di tempat asalnya agar tidak ada yang tahu.
-
Di tempat Vano, dia sedang bertanding catur dengan mertuanya. Vano yang selalu menang membuat papa Wijaya tidak terima sehingga permainan terus berlanjut sampai nanti papa Wijaya menang. Tapi itu entah kapan.
"Yah kok papa kalah lagi sih Van, kamu pakai ilmu hitam ya?" tuduh papa Wijaya.
"Ya enggak lah pa, mana ada jaman sekarang yang kayak begitu begituan." jawab Vano.
"Iya juga sih." Jawab papa Wijaya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
'Enak aja main tuduh pakai ilmu hitam.' suara hati Vano.
"Ya udah ayo main lagi." ajak papa Wijaya.
"Main lagi pa?" tanya Vano dengan melotot.
Bagaimana tidak mereka sudah main berkali-kali tapi kata papa Wijaya main lagi dan main lagi.
"Iya lah, kan papa belum menang. Kenapa kamu gak mau ya?"
"Bukan begitu pa, tapi kan kita udah main dari tadi."
"Udah ayo gapapa sekali lagi."
'Harus ngalah nih, kalau tidak gak bakalan kelar nih permainannya.' pikir Vano.
"Baiklah pa."
__ADS_1
...***...