
Pagi hari di kediaman keluarga Wijaya tengah rame karena kedatangan Farrel dan juga Fira yang akan ikut melakukan sarapan pagi bersama.
Sekarang mereka semua tengah menyantap makanan yang di masak langsung oleh mama Vani dengan sangat lahap, apalagi Vano dan Fira. Mereka berdua sangat menyukai masakan mama Vani hingga sampai bisa nambah beberapa kali.
Meskipun Vano tak lagi manja dan menyuruh ini itu kepada Vanya, tapi Vano tetap sering ngidam. Dan dia akan berusaha untuk mencari apa yang dia inginkan sendiri selama masih bisa dia dapatkan sendiri.
"Habis ini kalian mau ke mana? Farrel kamu gak ke kantor kan?" tanya papa Wijaya setelah selesai makan.
"Kalau Vanya sih maunya ke mall." jawab Vanya.
"Enggak pa, kan sekarang weekend jadi Farrel gak kemana mana, emang kenapa pa?" balas Farrel.
"Enggak apa apa, papa cuma tanya aja." jawab papa Wijaya.
"Kamu seriusan yank mau ke mall?" tanya Vano memastikan.
"Iya, aku mau belanja perlengkapan buat baby. Kan udah tujuh bulan, bukannya itu sudah bolehkan ma?"
"Iya sayang itu sudah boleh." balas mama Vani.
"Ya udah nanti kita agak siangan pergi ke mall." setuju Vano.
"Makasih sayang, aku ajak temen temen ya...."
"Iya sekalian kita jalan jalan." balas Vano.
Vanya pun segera memberikan kabar untuk temen temennya kalau dia mengajak mereka pergi ke mall.
"Oh iya, kak Fira ikut kan?" tanya Vanya pada Fira.
"Iya kakak ikut." jawab Fira.
"Loh yank," protes Farrel.
"Apa, emang kamu bisa nolak permintaan princess kamu?" sela Fira.
"Ya udah deh, aku bisa apa kalau udah kayak gini." pasrah Farrel.
"Mama mau ikut juga gak?" tanya Vanya.
"Sepertinya enggak dulu deh, soalnya mama masih mau bersih bersih.", tolak mama Vani.
"Ya udah gak papa ma,"
"Aku ke atas dulu ya mau ganti baju." pamit Fira, dan setelah mendapatkan anggukan dari orang orang yang ada di sana Fira pun segera pergi ke kamar Farrel di ikuti Farrel yang setia mengekor di belakangnya.
__ADS_1
"Kamu gak mau ganti baju juga yank?" tanya Vano pasalnya saat ini Vanya masih memakai baju tidur.
Tadi setelah bangun sebenarnya Vano sudah menyuruh Vanya buat mandi dulu sebelum tidur, ehh si bumil malah marah marah bilangnya Vano gak suka kalau dirinya kumel belum mandi.
"Iya habis ini kalau kak Fira udah turun." balas Vanya.
"Loh kenapa nunggu kak Fira turun, bukannya malah lebih bagus kita saling siap siap agar nanti waktunya gak terbuang banyak banyak."
"Ya itu terserah aku dong, kan aku yang mau mandi."
"Iya dah terserah ibu negara, saya sebagai pelayan mah bisa apa."
"Sip." mengangkat ibu jarinya dan mempersembahkannya untuk Vano.
"Kalian ini ada ada aja deh, mama jadi seneng kalau kalian ada di sini rumah jadi kelihatan rame." ucap mama Vani.
"Mama gak perlu sedih gitu, Vanya janji nanti Vanya akan lebih sering sering lagi ngajak Vano main ke sini." balas Vanya.
"Iya mama percaya sama kamu."
"Dari kemaren mama mulu yang di ajak ngobrol, kamu gak kangen sama papa?" sahut papa Wijaya membuat Vanya tersadar kalau dia belum memeluk papanya itu sedari kemaren.
"Kangen juga dong." balas Vanya beranjak mendekati papanya dan langsung berhambur ke dalam pelukan papa Wijaya.
"Iya dong kan Vanya udah nikah." balas Vanya.
"Papa minta maaf ya selama kamu hidup dengan papa kamu gak pernah merasakan kebahagiaan." ujar papa Wijaya.
"Papa ngomong apa sih," melonggarkan pelukannya dan menatap wajah papa Wijaya. "Vanya tuh bahagia banget jadi anak papa, Vanya sangat bersyukur karena papa mendidik Vanya dengan keras hingga Vanya bisa seperti sekarang ini. Papa gak perlu merasa bersalah, Vanya tahu kok kalau papa melakukan semuanya itu demi kebaikan Vanya. Jadi papa gak usah sedih ya...."
Cup.
"Makasih sayang kamu sudah mau memaafkan papa, papa janji gak akan ngulangi lagi."
"Iiih papa... kan Vanya masih bau." protes Vanya, lantaran papa Wijaya mencium dirinya di saat dirinya belum mandi.
"Makanya mandi biar gak bau." sahut Vano yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara anak dan bapak.
"Apaan sih nyahut aja, dan kayak bensin."
"Ngapain bensin di bawa bawa kan dia gak salah."
"Iya bensin gak salah yang salah kamu." balas Vanya membuat Vano diam seketika.
Memang ya kalau ngomong sama cewek itu gak bakalan bisa menang.
__ADS_1
"Kenapa diem, gak bisa jawab?" tantang Vanya.
"Pa, ma Vano mau ke kamar dulu." pamit Vano dan segera pergi dari sana sebelum istrinya itu menyerang dirinya lagi.
"Iiih kalah kok kabur, dasar cemen." ledek Vanya.
"Kamu ini ada ada aja deh, masak suami sendiri di gituin." tak habis pikir mama Vani.
"Ta mumpung suami sendiri ma, makanya Vanya kayak gitu. Kalau suami orang mah udah ada Vanya udah di gebukin sama istrinya." balas Vanya.
"Udah sana susulin suami kamu, sekalian mandi yang bersih biar wangi." suruh papa Wijaya.
"Papa ngatain Vanya bau?"
"Enggak, kan kalau kita habis mandi itu pasti wangi." kilah papa Wijaya.
"Oke kali ini Vanya maafin, tapi tidak untuk lain kali." balas Vanya dan segera beranjak pergi menyusul Vano ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Dengan agak kesulitan Vanya hati hati menaiki anak tangga satu persatu yang ada di rumah orang tuanya. Kalau dulu Vanya bisa berlarian naik turun tangga, maka sekarang tidak lagi bisa dia lakukan. Selain susah karena membawa perut yang berat, penglihatan Vanya pada satu persatu anak tangga yang akan di pijak pun terganggu lantaran ada perut yang sudah membuncit yang selalu dia bawa ke mana pun dia pergi.
-
"Kamu ikut kan?" tanya Sonya pada Galang.
Saat ini mereka berdua sedang berada di rumah Sonya, Galang mengantarkan pesanan Sonya berupa roti kempit alias pembalut.
Pagi pagi sekali Galang mendapatkan telepon dari Sonya yang memintanya untuk membelikan dirinya pembalut. Sonya lagi datang bulan dan kebetulan stok pembalut di rumahnya lagi kosong. Biasanya dia akan meminta mamanya untuk membantunya membelikan pembalut, tapi karena mamanya lagi pergi ke luar kota maka Sonya meminta bantuan Galang.
"Maaf yank untuk kali ini aku gak bisa ikut, soalnya ada kepentingan yang sangat mendesak." tolak Galang.
"Oh, ya udah gak papa." balas Sonya dingin.
"Kamu gak marah kan?"
"Ngapain aku harus marah, aku ngerti kok kalau kamu itu orang yang sangat sangat sibuk."
"Aku janji sama kamu setelah semua urusan ku selesai aku akan ajak kamu jalan jalan, keluar negri sekalipun."
"Aku gak butuh janji Lang, aku butuhnya bukti." balas Sonya dan berlalu meninggalkan Galang di ruang tamu rumahnya sendiri.
"Oh iya," Sonya berbalik menghadap Galang. "Kamu udah tahu kan pintu keluarnya." ucap Sonya, setelah mendapatkan anggukan dari Galang Sonya berlalu pergi meninggalkan Galang.
Galang pun segera pergi meninggalkan rumah Sonya karena sudah di usir oleh sang pemilik rumah, sebenarnya Galang tadi mau tetap du sana, tapi apa boleh buat, seseorang tengah menunggunya di sana dan menanti akan kedatangannya.
...***...
__ADS_1