
"VANO..."
"Aduh ampun sayang ampuh." mohon Vano karena Vanya mencubit serta menggelitik perutnya.
"Rasain nih, makanya jadi orang tuh jangan ngeselin." terus menggelitik perut Vano.
"Yank nanti nabrak loh."
mendengar itu Vanya pun menghentikan aksinya, dia kembali duduk tenang seperti semula.
"Udah ya jangan kesel gitu mukanya, jelek loh." ucap Vano.
"Oh gitu, ya udah ngapain kamu masih mau sama aku kalau aku jelek, Hah?"
Tuh kan keluar lagi sungutnya.
"Ehh gak gitu maksud aku."
"Trus apa, kamu juga mau bilang aku gendutan gitu?"
"Enggak yank, enggak. Kamu kenapa sih dari kemaren hobinya marah marah mulu, lagi dapet ya?"
"Kalau iya kenapa, gak terima."
"Terima kok terima banget malah, udah ya jangan marah marah kita mau sekolah loh." ngalah Vano daripada nanti sampai sekolah tetap cemberut gitu mukanya kan gak lucu.
"Kamu yang bikin aku marah marah kayak gini."
"Iya iya, aku minta maaf ya."
"Hmm."
Setelah itu tak ada lagi pembicaraan sampai mereka sampai di sekolah.
-
Sementara di tempat Cindy, kehidupannya berubah drastis semenjak dirinya dan keluarganya jatuh miskin.
Kalau dulu Cindy mau beli apa apa tinggal minta sama orang tuanya, sekarang beda. Sekarang setiap malam hari Cindy bekerja di sebuah club malam untuk membiayai kehidupannya sehari-hari dan kedua orang tuanya.
Sore ini Cindy tengah menunggu kedua temannya yang mengajak dirinya ketemuan di sebuah cafe. Mereka katanya mau membicarakan sesuatu dengan Cindy.
"Hai Cin." Sapa Kia dan Tasya yang baru sampai di cafe tempat mereka bertiga janjian. Kia sama Tasya masih mengenakan seragam sekolah mereka, karena tadi sepulang sekolah mereka langsung berangkat ke cafe ini.
"Hai." balas Cindy.
__ADS_1
"Ada apa lo berdua ngajak gw ketemuan di sini?" tanya Cindy to the poin, karena dia tak mau membuang buang waktunya.
"Jadi gini, di sekolah kita akan mengadakan Porseni tahunan sekolah. Terus kita berdua ikut cabang basket, dan kebetulan juga si Vanya juga ikut cabang basket mewakili kelasnya. Kan otomatis kita nanti jadi lawan dong, nah yang mau gw tanya kan ke lo itu, apakah lo gak ada rencana gitu buat balas dendam sama Vanya?" jelas Kia.
"Eemmm... sepertinya itu ide yang bagus, tapi gimana caranya gw ke sana. Sedangkan gw sudah di larang masuk ke sekolah itu lagi." setuju Cindy.
"Kalau soal itu lo tenang aja, gw ama Tasya yang bakal lakuin sesuatu buat si Vanya."
"Lo seriusan mau lakuin hal itu buat gw?"
"Hmm, kita kan sahabat. Masak iya gw sama Tasya diem aja saat lo di perlakukan tak adil oleh Vanya dan yang lain."
"Thanks banget, kalian berdua emang sahabat yang paling baik buat gw." memeluk Kia dan Tasya.
"Sahabat kan harus selalu ada di saat suka dan duka." balas Kia.
"Kalian lagi ngomongin apa sih?" tanya Tasya.
"Udah lo diam aja, ntar lo tinggal tunggu perintah dari gw aja. Dari pada jelasin semuanya ke lo mending gw makan." ucap Kia.
"Tasya cantik, lo gak perlu tahu apa maksud kita tadi. Yang paling penting itu, lo nanti harus nurutin semua apa yang Kia katakan. Paham gak?" ujar Cindy.
"Iya paham." jawab Tasya.
"Bagus."
"Iya gak papa, gw ngerti kok." balas Cindy.
Mereka bertiga pun melanjutkan ngobrol ngobrol ringan sambil kangen kangenan. Kan jarang juga mereka ketemu, udah gak kayak dulu lagi yang setiap hari bertemu.
-
Waktu berlalu hingga tiba lah hari di mana akan di laksanakan nya acara Porseni.
Vanya bangun sangat pagi sekali, bahkan ini masih jam tiga pagi. Tapi Vanya bangun bukan karena ingin cepat cepat pergi ke sekolah atau apa, dia bangun sangat pagi karena kebangun perutnya yang merasa tidak enak.
Vanya bangun dan segera berlari ke kamar mandi dengan tubuh yang tak memakai pakaian, ingat tak memakai pakaian. Kalian tau lah apa kebiasaan Vano.
"Huek huek huek..." suara Vanya yang muntah muntah di kamar mandi, tapi itu tidak ada makanan yang keluar dari mulutnya. Yang keluar hanyalah cairan berwarna kuning dan baunya sangat tidak sedap.
"Sayang..." Vano mencari keberadaan Vanya karena saat Vano meraba tempat tidur di sebelahnya kosong.
"Yank kamu di mana?" Vano bangun dan mengenakan celana pendeknya.
"Huek huek huek..." Vano mendengar suara orang muntah muntah dari kamar mandi, Vano pun segera berlari ke kamar mandi untuk melihat siapa yang sedang muntah muntah.
__ADS_1
"Sayang." kaget Vano saat melihat kondisi Vanya yang sudah lemas dengan tubuh yang masih tak ter tutupi sehelai kain.
Vano segera mengambil jubah mandi yang kebetulan ada di sampingnya dan segera memakaikannya ke tubuh Vanya.
"Kamu kenapa hmm?" tanya Vano khawatir sambil memijat tengkuk Vanya.
"Huek huek huek..." Vanya masih saja muntah muntah, tapi yang keluar hanyalah cairan berwarna kuning saja.
Vano terus memijat tengkuk Vanya hingga Vanya merasa mual-mual nya sudah mereda.
"Gimana, masih mau muntah lagi?" tanya Vano di jawab gelengan kepala lemah oleh Vanya.
Vano segera mengangkat Vanya, membawanya kembali ke tempat tidur. Setelah itu Vano pergi mencari minyak ka*yu p*tih untuk di oleskan pada perut Vanya.
"Kita ke rumah sakit ya." ajak Vano karena dia sangat khawatir dengan kondisi Vanya sekarang, apalagi dengan wajah pucat istrinya itu.
Vanya mengelengkan kepalanya pertanda menolak ajakan Vano.
"Aku khawatir sama kamu, kamu mau ya aku bawa ke rumah sakit." ajak Vano lagi, tapi kali ini dengan nada yang lebih lembut.
"Gak perlu, aku cuma kurang istirahat aja. Palingan nanti setelah tidur juga mendingan." ucap Vanya menolak ajakan Vano.
"Tapi nanti gimana kalau ada yang serius?"
"Aku gak papa, aku cuma butuh istirahat aja." kekeh Vanya.
"Hufft... baiklah sekarang kamu tidur lagi, ini juga masih malam." ngalah Vano.
"Peluk." manja Vanya.
Vano naik ke tempat tidurnya lagi.
"Sini." merentangkan tangannya agar Vanya masuk ke dalam pelukannya.
"Makanya kalau aku bilang udah ya udah, jangan di terusin mainnya." ucap Vanya dalam pelukan Vano.
"Iya iya maaf, lain kali gak deh." minta maaf Vano sambil mengelus kepala Vanya agar Vanya merasa nyaman.
"Hmm."
"Udah ya, sekarang kamu tidur." ucap Vano.
Vano mengelus rambut Vanya dengan lembut penuh perhatian sehingga membuat Vanya merasa nyaman dan tertidur lagi dalam dekapan hangat Vano.
Vano yang melihat Vanya sudah tidur pun ikutan pergi menuju alam mimpinya, siapa tahu kan nanti dia ketemu istrinya di sana.
__ADS_1
...***...