My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 108


__ADS_3

Vano dan Vanya kembali pulang ke mansion milik mereka berdua setelah pulang dari restoran tadi.


Vanya tengah memasak makanan buat makan malam, sedangkan Vano entah sedang melakukan apa di ruang kerjanya.


drrtt drrtt drrtt.


Dering telepon handphone Vano berbunyi, Vano pun segera mengangkat panggilan itu.


"Halo." sapa Vano.


"Halo Van, lo ada di rumah gak?" tanya si penelfon yang tak lain adalah Farrel.


"Iya gw ada di rumah, emang kenapa?"


"Gw mau ngomongin sesuatu sama lo, gw ke sana sekarang."


"Oke, gw tunggu."


Tut.


Vano pun kembali fokus ke berkas berkas yang ada di meja kerjanya sambil menunggu kedatangan Farrel.


Tok tok tok.


"Masuk." suruh Vano.


Vanya pun membuka pintu ruangan itu dengan nampan yang ada di tangannya.


"Sayang." ucap Vano setelah melihat siapa yang masuk.


"Ini aku buatin kamu teh untuk menemani kerja kamu." meletakkan secangkir teh di atas meja kerja Vano.


"Makasih yank." dengan segera Vano pun menyeruput teh yang di buatkan oleh istri tercintanya.


"Eemmm racikan kamu selalu pas di mulut." puji Vano.


"Bisa aja kamu, orang cuma buat teh semua orang juga bisa."


"Tapi ini beda dari yang lain yank. Mungkin kamu meraciknya pakai cinta jadi makin mantap rasanya."


"Udah lah aku mau ke dapur dulu lanjutin masak, semangat kamu kerjanya biar bisa beliin aku jajan." canda Vanya.


"Tanpa aku kerja juga aku masih bisa buat beliin kamu jajan kok." jawab Vano.


"Oh iya nanti kalau kak Farrel udah sampai tolong kamu suruh langsung ke sini ya." lanjut Vano.


"Emang kak Farrel mau ke sini, ngapain?" tanya Vanya.


"Ada urusan kerjaan dikit sama aku." jawab Vano.


"Ooh gitu, ya udah aku ke bawah dulu." Vanya pun pergi keluar meninggalkan Vano yang kembali fokus dengan pekerjaan yang sempat tertunda tadi.


-


"Assalamualaikum orang tampan sejagat raya datang." ucap Farrel saat memasuki mansion mewah adiknya.


"Waalaikum salam." jawab Vanya yang mendengar salam kakaknya.


"Wah princess lagi ngapain nih?" tanya Farrel menghampiri Vanya yang ada di dapur.


"Ini lagi masak buat makan malam, nanti kakak makan di sini ya." jawab Vanya.


"Siap, Emang di mansion segede ini gak ada pembantu apa kok princess yang masak?" tanya Farrel melihat sekeliling mansion.

__ADS_1


"Ada kok, banyak malah. Tapi Vanya suka aja masak sendiri, lagian Vano juga lebih suka masakan Vanya dari pada masakan bibi."


"Ooh gitu. Oh ya Vano nya mana?" tanya Farrel.


"Vano ada di ruang kerja nya, tadi katanya kalau kakak udah sampai di suruh langsung ke sana aja."


"Ya udah kalau gitu, di mana ruang kerja Vano biar kakak langsung ke sana."


"Kakak naik aja ke lantai 2 nanti ruangan paling pojok sendiri itu ruang kerja Vano." jelas Vanya.


"Ya udah kakak ke atas dulu ya."


Farrel pun naik ke lantai di mana yang Vanya jelaskan tadi. Setelah sampai di depan pintu ruangan itu Farrel tak lupa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tok tok tok.


"Masuk." jawab orang di dalam.


Mendengar itu Farrel pun membuka pintu dan segera masuk menghampiri Vano.


"Van." sapa Farrel.


"Lo udah datang kak, gw kira siapa tadi." Vano berdiri menghampiri Farrel.


"Gimana udah enakan?" tanya Vano perhatian akan keadaan Farrel yang baru keluar dari rumah sakit sambil mempersilahkan Farrel untuk duduk di kursi depan meja kerjanya.


"Seperti yang lo liat, badan gw udah baikan." jawab Farrel sambil duduk.


"Apa yang mau lo omongin sama gw?" tanya Vano.


"Ikut gw ke mobil." ajak Farrel.


Vano dan Farrel pun keluar menuju halaman depan di mana mobil Farrel terparkir.


Vano membuka kardus itu dan ekspresi Vano seketika berubah datar.


"Siapa yang kirim ini?" tanya Vano.


"Di lihat dari pesan yang di tulis di foto itu sepertinya pelakunya adalah bibi aku." jawab Farrel menyenderkan kepalanya di sandaran mobil.


"Trus apa yang akan lo lakuin sekarang?"


"Untuk kali ini gw mau gabung dulu di mafia bokap lo, setelah itu kita pikirkan nanti apa yang akan kita lakukan, sekaligus gw mau lihat apa yang akan mereka rencanakan." jawab Farrel.


"Bagus gw setuju sama Lo, jangan gegabah dulu dalam menghadapi musuh, kita harus merencanakan nya matang matang." menepuk pundak Farrel yang ada di sebelahnya.


"Kapan gw bisa mulai latihan?" menoleh ke Vano.


"Entar gw tanya papa dulu, markas yang di indo udah siap di pakai apa belum."


"Gw tunggu kabarnya."


"Ya udah yok masuk, sebelum Vanya curiga nanti." ajak Vano.


-


Malam harinya setelah kepulangan Farrel sehabis makan malam tadi, sekarang Vanya tengah belajar dan Vano yang ngegame sambil tengkurap di ranjang.


"Uuh capek banget." Vanya meregangkan otot-otot tubuhnya sehabis belajar.


Vanya menatap Vano yang masih asik dengan game di handphonenya.


"Gak capek apa tuh mata?" tanya Vanya menyindir Vano.

__ADS_1


"Bentar yank ini mau menang." jawab Vano yang merasa tersindir.


"Hufft..." Vanya menghela nafasnya dan berjalan menghampiri Vano.


Vanya duduk di sebelah Vano, dia memperhatikan pergerakan jari tangan Vano yang bergerak dengan lihai di layar ponsel milik Vano.


"By." pangil Vanya.


"Hmm." tetap bermain game.


"By..." rengek Vanya.


"Kenapa sih hmm?" tanpa menatap ke arah Vanya.


"Iiiss." decak Vanya.


Entah mengapa Vanya ingin bermanja-manja dengan Vano, mungkin efek dari tamu bulanannya.


Melihat Vano yang masih tengkurap Vanya pun mempunyai ide untuk menganggu Vano.


Vanya naik ke atas ranjang, setelah itu dia ikutan tengkurap tapi tidak di ranjang melainkan di atas punggung Vano sambil memeluk Vano dari belakang.


"Yank..." pangil Vano merasa terganggu pergerakan tangannya.


"Hmm." dehem Vanya sambil menambah pukulannya semakin erat dan meletakkan dagunya di pundak Vano.


Nafas Vanya pun mengenai leher Vano yang membuat kefokusan Vano pada game berkurang.


Dengan gerakan cepat Vano memutar keadaan, sekarang Vanya yang berada di bawah kukungan Vano.


"Kenapa sih hmm, kok manja banget kayaknya." tanya Vano lembut.


"Gak tahu mau manja manjaan aja sama kamu." jawab Vanya mengelus jakun Vano di lehernya yang menonjol naik turun.


"Bilang dong dari tadi, sini aku manja."


"Game kamu gimana?" pura pura gak enak karena menganggu Vano, padahal mah atinya seneng banget.


"Apa sih yang gak buat kamu, game bisa main lagi kapan kapan. Tapi kamu mau di manja itu momen yang langka." gombal Vano.


Blus


Pipi Vanya merah merona karena blusing dengan gombalan Vano.


"Kenapa ini pipi merah merah hmm?" tanya Vano pura pura tak tahu kalau istrinya tengah blusing.


"Apaan sih kamu." malu Vanya menenggelamkan wajahnya di dada bidang Vano.


"Cie malu nih anaknya." goda Vano yang mendapat cubitan di perutnya dari Vanya.


"Auw sakit yank." keluh Vano.


"Biarin." memeluk Vano dengan erat.


"Kapan selesainya?"


"Kan masih kemaren malam dapet nya." jawab Vanya yang mengerti akan maksud pertanyaan Vano.


"Emang biasanya berapa lama?"


"Eemmm paling dikit sih lima hari biasanya." jawab Vanya.


"What."

__ADS_1


...***...


__ADS_2