
Sekarang sekitar pukul setengah dua dini hari tapi Vanya tidak bisa tidur sama sekali. Alhasil Fira pun jadi ikutan begadang.
Bukannya di dalam kamar, mereka berdua tengah berada di ruang tamu. Sepertinya Vanya merasa ada tanda tanda suaminya akan pulang, jadi dia memilih mengajak Fira untuk duduk di ruang tamu.
"Van kita ke kamar aja yuk, di sini dingin loh gak baik buat kamu." ajak Fira.
"Kakak ke kamar aja kalau kedinginan, aku masih mau di sini." tolak Vanya.
"Hufft...Ya udah lah terserah kamu aja, aku mau buat minuman kamu mau minum apa?"
"Eeemmm... sepertinya coklat hangat enak buat menemani kita malam ini."
"Ya udah aku buatin dulu, kamu tunggu di sini ya jangan ke mana mana."
Fira pun beranjak menuju dapur untuk membuat minuman serta mengambil camilan untuk dirinya sendiri dan juga Vanya.
"Assalamualaikum..." ucap dua orang barengan yang suaranya sangat Vanya hafal.
Siapa lagi kalau bukan Vano dan Farrel yang baru saja pulang. Farrel memapah Vano memasuki rumah. Sedangkan tadi Lucas juga memilih untuk pulang ke apartemennya, karena dia sudah merasa lelah.
"VANO." kaget Vanya saat menoleh ke arah pintu.
Vanya pun segera berlari menuju Vano dan...
Grep.
"Hiks hiks hiks..." tangis haru Vanya dalam pelukan Vano.
"Hei kok nangis sih, aku udah di sini jadi gak usah nangis ya." bujuk Vano menepuk nepuk punggung Vanya.
"Hiks hiks aku takut kehilangan kamu hiks hiks." ucap Vanya di sela sela tangisnya.
"Aku gak papa kok, udah ya jangan nangis lagi kasian nanti babynya."
Vanya mengendurkan pelukannya dan menatap wajah Vano yang penuh lebam.
"Pasti sakit ya." ucap Vanya menyentuh sudut bibir Vano yang lebam.
"Enggak kok, semua rasa sakit ini hilang saat aku melihat kalian baik baik saja." balas Vano menggenggam tangan Vanya yang menyentuh pipinya.
"Ayo aku obati." ajak Vanya akan menyeret Vano tapi di tahan oleh Vano.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Vanya bingung.
"Kaki aku masih susah di buat jalan, jadi aku harus dipapah kak Farrel dulu." jawab Vano.
Sedangkan Farrel yang sedari tadi menyaksikan drama antara kedua orang di depannya pun merasa ingin sekali cepat cepat ketemu Fira untuk melepas rindu.
"Kaki kamu sakit?" refleks Vanya jongkok dan memegang kaki Vano.
"Udah ayo kita ke kamar aja, ini cuma efek dari keseleo waktu itu." ujar Vano menyuruh Vanya agar berdiri.
"Kak tolong anterin gw ke kamar dong." pinta Vano yang tak ada sopan santunnya pakai Lo Gw.
Tanpa mengatakan apapun Farrel langsung memapah Vano ke lantai atas di mana kamar Vanya berada dengan Vanya yang mengikuti di belakangnya.
Sebenarnya Vano agak kesulitan saat menaiki tangga, tapi mau gimana lagi dia harus terbiasa dengan ini agar kakinya tidak terlalu manja.
"Loh kalian udah pulang." ucap Fira saat kembali dari dapur dan melihat Farrel yang tengah memapah Vano di tengah tengah tangga.
"Sayang, itu pasti buat aku ya." ucap Farrel dan melepaskan tangan Vano yang tengah dia bantu menaiki tangga sehingga membuat Vano hampir saja jatuh dari tangga.
"VANO." teriak Vanya refleks dia langsung menahan tubuh Vano yang ada di tangga atasnya.
"Kak Farrel gimana sih, gimana nanti kalau Vano jatuh." omel Vanya.
Farrel pun kembali memegang tangan Vano dan membantunya menaiki tangga lagi. Dan Fira pun jadi mengikuti mereka juga sambil membawa nampan yang berisi dua gelas coklat panas dan camilan.
Sampai di kamar Vanya, Vano duduk di atas ranjang sambil bersandar di kepala ranjang.
"Nih coklat panas kamu." ucap Fira meletakkan coklat panas di atas meja samping tempat tidur.
"Punyaku mana yank?" tanya Farrel.
"Nih kamu minum aja punya ku, biar nanti aku buat lagi." jawab Fira.
Dengan senang hati Farrel menerimanya karena dia juga merasa tubuhnya kedinginan.
"Kamu mau minum juga?" tanya Vanya di jawab anggukan oleh Vano.
Vanya pun membantu Vano untuk minum coklat panas miliknya yang di buatkan Fira tadi hingga tinggal setengah gelas.
"Kita berdua pergi ke kamar dulu, nanti kalau ada apa-apa kamu panggil kakak aja. Soal kaki Vano besok pagi aja kita cari tukang urut, kalau malam gini susah." ucap Farrel.
__ADS_1
"Iya kak, makasih udah selamatin Vano." balas Vanya.
"Itu sudah menjadi kewajiban ku untuk menjaga kalian." balas Farrel mengelus rambut Vanya.
"Ya udah kalau gitu aku gak jadi tidur di sini ya, kan sudah ada Vano." ucap Fira.
"Iya kak, makasih juga karena tadi udah nemenin aku." balas Vanya.
"Iya sama sama." balas Fira.
"Kak makasih." ucap Vano mengabaikan rasa gengsinya.
"Iya santai aja kali, kita kan keluarga jadi harus saling tolong menolong." balas Farrel.
"Ya udah kalau gitu kita pergi dulu."lanjut Farrel.
Setelah mengatakan itu Farrel dan Fira pun pergi meninggalkan kamar Vanya menuju kamar mereka sendiri.
"Kamu mau aku lap tubuh kamu sama air hangat gak, biar seger?" tanya Vanya pada Vano.
"Boleh." jawab Vano sambil tersenyum.
Vanya pun segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengelap tubuh Vano, dan setelah itu dia juga membantu Vano memakai pakaian gantinya hingga sekarang kondisi Vano sudah terlihat rapi tidak seperti tadi.
"Dah selesai. Tinggal di obatin deh."seru Vanya saat melihat penampilan Vano sudah perfek memakai pakaian tidur.
"Jangan kenceng kenceng sakit." ucap Vano saat Vanya memberikan alkohol pada luka memar Vano.
"Iya, tadi katanya gak sakit."
"Ya kan beda yank."
"Bedanya apa?"
"Ya kan yang ini lagi di kasih obat, jadi ya makin terasa lukanya."
"Ya udah kamu merem dulu, itu di sudut mata kamu juga ada." ucap Vanya.
Dengan telaten Vanya mengobati luka luka Vano hingga hampir jam tiga pagi baru selesai. Setelah selesai Vanya membaringkan tubuhnya dalam pelukan Vano, dengan tangan Vano yang satu sebagai bantal dan yang satunya lagi mengelus perut Vanya.
...***...
__ADS_1
Maaf ya akhir akhir ini update cuma pendek pendek, soalnya waktu bagi bagi🙏😁