My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 162


__ADS_3

Fira bangkit dari posisi jongkoknya tadi sambil mengibaskan rambutnya yang tergerai hingga menampilkan leher jenjang miliknya.


"Tahi lalat itu." batin Farrel saat melihat ada tahi lalat di leher Fira.


"Gak, gak mungkin." batin Farrel lagi.


"Yuk." Fira mengajak Farrel untuk melanjutkan langkah mereka yang tertunda tadi, tapi tak mendapat pergerakan dari Farrel.


"Rel." pangil Fira tapi Farrel tak menjawabnya.


"Halo... Farrel..." pangil Fira lagi.


"Hah, iya apa?" linglung Farrel setelah kesadarannya telah kembali.


"Lo kenapa sih, ada yang lo pikirin ya?" tanya Fira.


"Oh enggak kok, gw cuma kepikiran rencana kita nanti aja, gimana nanti kalau gagal terus adik gw kenapa napa." kilah Farrel.


"Lo tenang aja, adik lo gak bakal kenapa napa, gw jamin itu." ujar Fira menengkan Farrel.


"Ya semoga saja."


"Ya udah yuk kita jalan." ajak Fira dan di angguki Farrel.


Mereka pun melakukan tugas mereka yaitu memasang cctv di sudut sudut tertentu yang belum terdapat cctv. Pikiran Farrel masih terus berkecamuk dengan apa yang dia lihat tadi, tapi Farrel terus menepi pikirannya itu agar fokus pada masalahnya dulu. Urusan itu nanti belakangan.


-


Vanya keluar dari sekolah menuju mobil yang di sopir pak Udin yang di perintahkan Vano untuk menjemput dirinya, karena Vano tidak bisa menjemputnya.


Dari kejauhan Sisil dan Sonya melihat Vanya yang memasuki mobil itu.


"Ehh itu siapa yang jemput Vanya, perasaan sopirnya Om Wijaya gak gitu deh mukanya." Heran Sisil.


"Ya mungkin aja sudah ganti Sil, kan sekarang kita udah jarang main ke rumah Vanya." balas Sonya yang berpositif tingking.


"Ehh Soy, lo ngerasa gak sih kalau akhir akhir ini Vanya tuh kayak aneh gitu. Coba lo ingat waktu gw ajak nonton di rumahnya, kenapa dia gak mau alasannya WiFi lagi eror, padahal kan mana mungkin rumah segede itu WiFi nya eror." curiga Sisil yang otaknya kebetulan lagi encer.


"Bener juga apa yang lo bilang, gw jadi teringat waktu kita Vc an sama Vanya yang katanya kamar Vanya habis di renovasi, kok gw gak percaya ya." sambung Sonya yang curiga juga.


"Kita ikuti yuk." ide Sisil.


"Ide yang bagus, ya udah ayo cepat."


Mereka pun buru buru masuk ke dalam mobil Sonya, dan Sonya sebagai pemegang kemudi pun segera melajukan mobilnya menuju arah ke mana mobil Vanya tadi pergi.


"Aduh yang mana tadi Sil mobilnya?" tanya Sonya bingung.


"Kayaknya yang itu deh, seingat ku tadi plat nomor polisi nya ada enamnya gitu." jawab Sisil.


"Yang ada nomor enamnya banyak Sisil." greget Sonya.


"Ya tapikan yang mobil Alphard hitam cuma itu." tunjuk Sisil pada mobil yang ada di depannya.

__ADS_1


"Oh iya bener Lo, tumben otak lo hari ini pinter banget." puji Sonya.


"Ya iyalah, Sisil mah selalu pinter." sombong Sisil.


"Hahaha iya in dah biar lo seneng." sahut Sonya.


Mereka pun terus mengikuti mobil yang Vanya naiki tapi dengan jarak yang tidak terlalu dekat agar Vanya tidak tahu, secara kan Vanya sudah hafal dengan mobilnya Sonya.


Sementara di posisi Vanya, dia tengah bertukar kabar dengan Vano via chat.


Van, kamu udah pulang belum?


^^^Belum ini masih mencarikan kamu sesuatu, setelah itu aku pulang.^^^


Ya udah aku tunggu di rumah ya.


^^^Iya sayang, kamu jangan ke mana mana tunggu aku pulang dulu.^^^


Siap bos.


Setelah itu tak ada lagi balasan dari Vano, mungkin dia tengah sibuk dengan pilihannya untuk membelikan Vanya apa. pikir Vanya.


"Pak kita langsung pulang aja ya." ucap Vanya pada pak Udin.


"Siap non." jawab pak Udin.


Mobil Vanya pun melaju menuju mansion miliknya dan Vano, tanpa Vanya ketahui bahwa di belakangnya ada kedua sahabatnya tengah mengikuti dirinya.


-


"Cepat dong Van, lama banget mikirnya." kesal Lucas yang sedari tadi menemani Vano keliling mall.


"Sabar napa, lo juga kasih gw ide dong mau beliin apa buat istri gw."omel Vano.


"Lah, lo kan suaminya, seharusnya lo tau dong kesukaan istri lo apa."


"Ya gw tau tuh, istri gw sukanya album." jawab Vano.


"Album?"


"Iya album, album batues." jawab Vano.


"Ya udah lo beliin aja tuh album."


"Mana ada, gw gak tahu mana yang istri gw belum punya."


"Kalian lagi ributin apa sih?" tanya Farrel yang baru datang bersama Fira.


"Kalian udah selesai?" tanya Vano.


"Iya udah." jawab Fira.


"Nah lo kan cewek, pasti tau dong kesukaan cewek itu apa." ucap Lucas pada Fira.

__ADS_1


"Emang kenapa?" tanya Fira heran.


"Noh si Vano mau pulang pakai bingung mau beliin istrinya apaan." tunjuk Lucas dengan dagunya mengarah pada Vano.


"Ooh kalau biasanya sih cewek tuh suka barang barang yang branded." sahut Fira.


"Nah bener tuh Van." sahut Lucas.


"Masalah nya barang barang Vanya tuh masih banyak yang baru." ucap Vano.


"Eeemmm.. kenapa gak kamu beliin perhiasan aja." ide Fira lagi.


"Nah kalau itu gw setuju." sahut Vano dan segera pergi meninggalkan teman temannya ke tempat perhiasan untuk membelikan Vanya perhiasan.


"Lah tuh anak, giliran udah dapat ide aja temennya di tinggal." cerocos Lucas yang melihat kepergian Vano.


Sedangkan Fira dan Farrel pun segera mengikuti langkah Vano tanpa mendengarkan ocehan Lucas.


"Lah kok gw di tinggal, woy tungguin gw." teriak Lucas dan segera mengejar Farrel dan Fira.


"Mau cari apa mas?" tanya pelayan di toko perhiasan.


"Bentar saya mau tanya temen saya dulu." jawab Vano.


Vano pun segera berbalik badan untuk bertanya pada Fira, tapi orang yang dia cari masih berjalan jauh menuju ke arah nya.


"Lah kok mereka lemot banget kayak siput." gumam Vano.


"Gimana Van, udah dapat belum?" tanya Farrel.


"Belum, gw bingung mau beliin Vanya apaan. Fir menurut lo gw harus beliin apaan?" tanya Vano pada Fira.


"Ya terserah lo sih, tapi kalau menurut gw sih kalung atau cincin gitu." jawab Fira.


Vano berbalik badan lagi dan memandang beberapa macam perhiasan di depannya, pandangan Vano jatuh pada sebuah cincin yang simpel dengan permata di tengahnya.


"Saya mau yang itu dong mbak." tunjuk Vano.


Pelayan toko itu pun segera mengambilkan apa yang Vano mau.


"Ini berapa mbak?" tanya Vano setelah melihat secara langsung di tangannya.


"Kalau yang itu permata nya asli jadi agak mahal."


"Ya udah mbak, tinggal sebutin berapa harganya." Vano mulai jengkel.


"350 juta mas." jawab pelayan tokoitu


Vano pun segera mengeluarkan black card dari dalam dompetnya dan segera menyerahkannya kepada pelayan toko itu yang sedang melotot menatap black card Vano.


"Nih mbak."


Pelayan toko itu pun segera menerima, setelah selesai Vano dkk pun segera meninggalkan mall dengan mengendarai kendaraan masing-masing menuju tempat tinggal mereka.

__ADS_1


...***...


Besok ada bonus visual mau gak nih 😂


__ADS_2