My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 103


__ADS_3

"Aku masukin ya yank." mohon Vano.


Vanya pun mengangguk. Dengan semangat 45 Vano pun berusaha memasuki Vanya dan...


Tok tok tok.


"****."


Umpat Vano, tapi Vano tk menghiraukan itu dia tetap ingin melanjutkan kegiatannya tapi segera di tahan oleh Vanya.


"By ada orang, cepat bukain pintu nya." menahan tubuh Vano yang ada di atasnya.


Tok tok tok.


Ketukan pintu itu pun terdengar lagi.


"Tapi sayang, aku udah gak tahan." memelas Vano.


"Nanti lagi ya, sekarang kamu liat dulu siapa itu yang ada di depan."


"Hufft.." dengan kesal Vano pun beranjak mencari celana bokser miliknya setelah memakai nya dia pun membuka pintu kamar.


Tok tok tok.


"Iya bentar." jawab Vano.


Ceklek.


"Ada apa?" judes Vano saat melihat siapa yang ada di depan pintu.


"Gak ada apa apa sih, gw cuma di suruh mama buat ngajakin kalian makan malam." jawab Farrel dengan santai, dia tak tahu aja kalau dia telah mengganggu kesenangan Vano.


"Iya ntar gw sama Vanya nyusul ke bawah." jawab Vano dan akan menutup pintu kembali tapi di tahan oleh Farrel.


"Ehh tunggu tunggu, kok lo cuma pakai celana kolor sih, lo abis ngapain?" tanya Farrel kepo.


"Bajak sawah."


Blang.


Setelah menjawab itu Vano menutup pintu kamar dengan kerasnya yang bikin Farrel kaget.


"Astaghfirullah." kaget Farrel.


"Bajak sawah? Emang di kamar Vanya ada sawah, kok gw baru tahu ya." cengoh Farrel belum menyadari apa yang Vano maksud.


"Bajak sawah." gumam Farrel sambil menuruni anak tangga, hingga sebuah kesimpulan muncul di otaknya yang pintar itu.


"Oh gw tahu." mengangkat jari telunjuknya seperti bocil yang mendapat ide brilian.


"Tapi....." lanjut Farrel.


Hahaha...

__ADS_1


Tawa Farrel pecah setelah mengingat ekspresi tak suka Vano tadi saat berbicara dengannya tadi.


"Hahaha pasti gw tadi gangguin mereka yang lagi bikin ponakan." tawa senang Farrel.


"Fix gw harus mendapatkan gelar nih karena udah berhasil gagalin sepasang suami istri yang mau bercinta."


"Tapi lucu juga ekspresi Vano tadi, kayak kesal kesal gimana gitu."


"Hahaha." Farrel terus berbicara sendiri sambil tertawa gak jelas di anak tangga hingga membuat para pekerja rumah itu terheran heran.


"Farrel ngapain kamu ngakak ngakak gak jelas gitu, perasaan gak ada yang lucu." ucap mama Vani dari lantai bawah yang berhasil menghentikan tawa Farrel.


"Hehehe engak ada apa apa kok ma, Farrel cuma teringat akan film yang barusan Farrel tonton aja." jawab Farrel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena sudah tertangkap mama Vani bahwa dia tertawa sendiri.


"Emang film apa kok sampai kamu tertawa gitu?" tanya mama Vani kepo.


"Biasalah ma film barat, ceritanya tuh sepasang kekasih yang mau bercinta dan lagi di fase fase panas ehh malah ada yang ganggu, kan lucu banget ma." menghampiri mama Vani.


"Ada ada aja kamu ini, mana ada kayak gitu lucu." pergi meninggalkan Farrel menuju dapur untuk mengambil masakan buat di tata di meja makan.


"Ih itu lucu banget lo ma, sini Farrel bantu." menyusul mama Vani.


-


Sementara di kamar, Vano kembali ke dalam kamar dengan muka cemberut. Dia melihat Vanya sudah memakai pakaian dengan rapi.


"Sayang kok udah pakai baju sih?" menghampiri Vanya.


"Kan kita di suruh ke bawah Van buat makan."


"Nanti aja ya." Vanya berusaha memberikan pengertian buat Vano.


"Tapi aku masih mau sayang."


"Nanti ya." mengelus rahang Vano.


Cup.


"Nanti ya, kan sekarang kita lagi gak di rumah jadi gak bisa sesuka hati melakukan itu." membujuk Vano.


"Ya udah ayo kita pulang aja."


"Loh gak bisa gitu dong, kan katanya mau nginep di sini."


"Terserahlah." gambek Vano, Vano berjalan meninggalkan Vanya menuju kamar mandi untuk mendinginkan tubuh serta otaknya.


"Bayi besarnya ngambek." sambil menggelengkan kepalanya tak habis fikir dengan tingkah Vano.


-


Selesai makan malam Vano ingin pergi ke kamar tapi di cegah oleh Farrel. Farrel mengajak Vano ngobrol ngobrol ringan dengan papa Wijaya di ruang televisi.


"Kenapa muka lo kok sepet gitu Van?" tanya Farrel pura pura gak tahu.

__ADS_1


"Gak." jawab Vano judes.


"Lah kok ngamok." pancing Farrel.


"Lo..." bersiap menghantam Farrel.


"Udah udah kalian ini, katanya dulu teman. Sekarang kok ribut terus." lerai papa Wijaya.


"Farrel tuh pa."


"Kok gw, emang gw ngapain?" tak terima di salahkan.


"Emang lo kok." garang Vano.


"Vano, kok manggil kakaknya gitu, gak boleh." ucap mama Vani yang menghampiri mereka sambil membawa nampan yang berisi minuman serta camilan.


"Habisnya kak Farrel yang mulai." sungut Vano.


"Mulai apanya sih, perasaan gw dari tadi gak ngapa-ngapain." bela Farrel.


"Udah lah kalian berantem saja, papa yang jadi wasitnya." ucap papa Wijaya yang tak di hiraukan oleh Vano dan Farrel.


"Cih dasar anak muda." gumam papa Wijaya, dia pun menyeruput kopi yang di buatkan istrinya sambil menonton drama antara anak dan menantunya.


"Emang Farrel buat salah apa sih sampai sampai kamu kesel gitu?" tanya mama Vani lembut.


"Kak Farrel tuh tadi ganggu Vano sama Vanya yang lagi mau bercin....."


"Emmppp." ucapan Vano terputus karena Vanya yang datang tiba-tiba dari dapur dan menyumpat mulutnya dengan tangan Vanya.


"Apaan sih yank." ucap Vano setelah melepaskan tangan Vanya yang ada di mulutnya.


"Kamu yang apa apaan, bisa bisanya ngomong kayak gitu di depan orang orang." omel Vanya.


Vano pun terdiam menyadari bahwa dia tadi hampir saja keceplosan, tapi itu sudah terlambat karena papa Wijaya dan mama Vani sudah mengetahui apa yang membuat Vano kesal ke Farrel.


"Ooh jadi tadi waktu di tangga kamu tertawa itu gara gara kamu berhasil ganggu Vano dan Vanya rel, bukan karena kamu liat film." ucap mama Vani yang membuat semua orang menoleh ke arah nya dan setelah itu melihat ke arah Farrel yang cengengesan.


"Hehehe otak mama cepat tanggap banget sih kalau soal begituan." ucap Farrel.


"Gimana Van rasanya, pasti enak dong waktu tinggal clup doang ehh ada yang ganggu?" goda papa Wijaya.


"Apaan sih papa." jawab Vano malu malu.


"Papa dulu juga sering kayak kamu, dan kamu tahu gak siapa yang ganggu papa?" di jawab gelengan oleh Vano.


"Ya istri mu lah siapa lagi." jawab papa Wijaya.


"Hahaha berarti ini karma buat kalian." tawa Farrel mengejek.


"Kalau ini karma, trus berarti nanti lo juga dapat karmanya juga dong. Gw doa in semoga malam pertama lo dengan istri lo nanti ada yang ganggu." doa Vano.


"Yuk yank kita ke kamar aja." menyeret Vanya pergi meninggalkan orang orang yang menurut Vano sangat rese.

__ADS_1


...***...


__ADS_2