My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 93


__ADS_3

Dalam perjalanan mereka hanya diaiim dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Vanya sadar bahwa mobil yang di kendarai Vano tidak menuju rumah orang tuanya ataupun apartemen.


"Loh kita mau ke mana Van?" tanya Vanya.


Vano hanya diam saja, dia masih sebel mengingat Vanya yang memeluk mesra lengan laki-laki lain sedangkan dirinya gak pernah di peluk.


"Vano kita mau ke mana?" tanya Vanya lagi dan masih sama tidak mendapatkan jawaban apapun.


"Aku doain semoga budek beneran." gumam Vanya.


"Bisa diam gak?" ucap Vano yang membuat Vanya diam seketika.


Perjalanan terus berlanjut hingga mobil yang di kendarai Vano belok ke arah kompleks perumahan yang tak kalah mewah dari rumah mertuanya. Terlihat di ujung sana ada sebuah rumah yang lebih besar dari yang lainnya, oh itu bukan rumah lagi sih, tapi lebih ke mansion.


Vano memasukkan mobilnya ke dalam mansion mewah itu setelah gerbang di buka oleh satpam yang bekerja di sana. Vano menghentikan mobilnya di halaman luas mansion itu.


"Ini mansion siapa Van?" bingung Vanya.


Vano tidak menjawab, dia malah turun dan setelah itu dia membuka pintu mobil tepat di mana Vanya berada.


"Ayo keluar." ucap datar Vano.


Tanpa ba-bi-bu Vanya menurut keluar. Terlihat pemandangan taman yang luas serta ornamen mansion yang sangat indah dan mewah. Vanya sampai di buat kagum melihatnya.


Rumah mertuanya aja sudah besar dan mewah dan sekarang di depannya ada yang lebih besar dan mewah lagi.



Saat tengah menikmati keindahan mansion itu, Vanya di buat kaget oleh tarikan kasar lengan Vano.


"Auwww sakit Van lepas." ucap Vanya sambil terus mengikuti langkah besar Vano memasuki mansion.


Vano diam saja dan terus menarik lengan Vanya.


" Van lepas." ucap Vanya lagi dan berusaha melepaskan tangannya.


Melihat pemberontakan Vanya, Vano pun melepaskan tangan Vanya yang membuat Vanya bernafas lega. Tapi itu tidak berlangsung lama, Vano menaikkan Vanya dalam gendongannya yang membuat Vanya berteriak kaget.


"Aaaa. Vano apa yang kamu lakukan." ucap Vanya dan dengan refleks dia melingkarkan, tangannya di leher Vano.


"Berisik." ucap Vano dan berjalan menuju lift yang ada di dalam mansion, setelahnya Vano memencet tombol lantai 4.

__ADS_1


Vanya pun hanya diam saja, dia bingung ini mansion siapa? Trus kenapa sekarang mereka ada di sini? Trus juga ini kenapa dengan sikap Vano yang aneh ini. bingung Vanya.


Sampai di lantai 4 Vano berjalan menuju pintu sebuah kamar yang berada paling dekat sendiri dengan lift.


Vano berhenti di depan pintu yang membuat Vanya bingung dan menatap Vano.


"Buka." ucap singkat Vano.


"Apanya?" bingung Vanya.


"Pintunya Vanya sayang." jawab greget Vano yang membuat Vanya blusing.


"Malah bengong lagi, cepat buka berat tauk." ucap Vano lagi dan berhasil menyadarkan Vanya.


Vanya membuka pintu kamar itu dan wahhh.



Kamar yang besar dengan ranjang yang berada di tengah-tengah dan perpaduan warna yang sangat elegan membuat Vanya takjub melihatnya.


"Gak usah norak." ucap Vano saat mengetahui bahwa Vanya tengah mengagumi kamar yang dia desain sendiri.


Vano mendudukkan paksa Vanya di atas sofa singel yang ada di samping ranjang yang membuat Vanya mengadu kesakitan.


"Enggak."


Vano mendekatkan tubuhnya ke tubuh Vanya yang duduk di sofa. Semakin dekat hingga kurang beberapa centi lagi bibir Vano akan menyentuh bibir Vanya, tapi Vanya malah memalingkan wajahnya dari wajah Vano.


Vano yang melihat itu pun tersenyum penuh arti.


"Kenapa?" tanya Vano menatap Vanya intens.


Vanya kembali menatap Vano yang wajahnya sudah agak jauh dari wajah Vanya.


"Apanya?" tanya balik Vanya.


"Kenapa takut aku dekati, sedangkan lelaki itu malah kamu peluk peluk dengan mesra." ucap Vano.


"Maksud kamu?"


"Kamu takut aku dekati, sedangkan lelaki itu kamu peluk. Aku ini suami kamu, sedangkan dia."

__ADS_1


"Aku hmppp..." Vano mencium dan mel*mat bibir Vanya dengan ciuman yang menuntut yang membuat Vanya kualahan dan berusaha tetap merapatkan bibirnya.


Vano tak tinggal diam, dia menggigit bibir bawah Vanya yang membuat Vanya mengeluh dan momen itu di manfaatkan Vano untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Vanya. Vano mengabsen setiap jengkal tanpa ada yang terlewat apapun itu yang terdapat di dalam mulut Vanya.


Lama kelamaan ciuman dan l*matan Vano berubah menjadi lembut dan itu berhasil membuat Vanya terlena dan mengikuti insting yang ada di dalam tubuhnya untuk membalas ciuman Vano.


"Emmmhh." lengkuh Vanya di tengah tengah ciuman itu yang membuat Vano semakin semangat.


Vano mendorong Vanya ke belakang untuk bersandar di sandaran sofa, tanpa di sengaja tangan Vanya memencet tombol remote yang tergeletak di sofa tersebut dan berhasil membuat televisi yang ada di depan mereka menyala. Tapi mereka tak menghiraukan itu, mereka tetap melanjutkan kegiatan itu hingga Vano mendengar berita dalam televisi itu dan membuatnya melepaskan ciumannya.


" Di temukan oleh warga setempat seorang mayat yang tergeletak di jalan, di duga oleh warga orang itu mengalami kecelakaan tunggal, tapi polisi masih menyelidiki kasus ini. Terdapat motor dan helm yang sudah hancur dan handphone yang di duga milik korban. Polisi berusaha mencari bukti serta mencoba menghubungi pihak keluarga melalui ponsel korban.". berita yang ada di dalam televisi.


"Handphone." ucap Vano melepaskan ciumannya.


"Huh huh huh..." Vanya mengatur pernafasannya yang hampir habis karena ciuman tadi.


Sedangkan Vano dia jadi teringat sesuatu, dia belum menghapus pesan yang ada di handphone punya Damar.


"Mamp*s gw." seperti tidak terjadi apa apa Vano pergi meninggalkan Vanya sendiri di dalam kamar.


Vano keluar dari kamar menuju ruang kerjanya yang ada di samping kamar utama.


"Aduh Vanya kenapa lo tadi balas ciuman Vano sih, mana habis ciuman di tinggal pergi lagi. Di kira ja**ng apa." ucap Vanya membenarkan rambut serta pakaiannya yang sudah kusut.


"Apaan coba tadi marah marah gak jelas sampai tanganku lecet."


"Ini juga kamar siapa lagi."


Vanya melihat keadaan kamar hingga pandangannya jatuh pada bingkai foto yang berada di dinding kamar. Dalam bingkai foto itu terdapat foto dirinya dan Vano dalam acara pernikahan mereka waktu itu, tanpa Vanya sadari Vanya tersenyum melihat itu.


"Ooh jadi ini kamarku sama Vano." ucap Vanya.


Vanya berjalan menyelusuri kamar hingga membawa dia ke ruangan yang terdapat dalam kamarnya.


Vanya masuk dan di sana terdapat berjejer lemari serta laci yang terdapat di tengah tengah.



Walk in closed ini terlihat sangat mewah, Vanya berjalan membuka salah satu lemari yang ada di sana dan terpampang lah pakai yang membuat Vanya malu dan tertawa sendiri membayangkan bagaimana jika dirinya memakai itu.


Vanya pun mengambil satu, dia ingin mencobanya, karena seumur umur Vanya belum pernah memakai pakaian seperti itu.

__ADS_1


...***...


Makasih buat kalian yang udah kasih hadiah dan vote ke karya ini 🥰🥰🥰


__ADS_2