My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 199


__ADS_3

"Seperti yang kamu lihat dulu, aku membuat tubuhnya lumpuh permanen sehingga dia tidak akan pernah sembuh." jawab Vano dengan raut wajah yang datar kembali.


Mendengar itu Vanya prihatin dengan keadaan Marvel, dia juga bertanya tanya kenapa Marvel sangat menginginkan dirinya. Padahal kan mereka tidak saling kenal. pikir Vanya.


"Kenapa, kamu mau tanya sama dia?" tanya Vano yang mengerti apa yang Vanya pikiran.


"Apakah boleh?" minta izin Vanya.


"Boleh dong, asal tidak ada kontak fisik sama sekali. Dan ada aku di samping kamu." jawab Vano yang membuat Vanya tersenyum.


"Makasih." balas Vanya.


Vanya pun berjalan mendekati Marvel dan duduk selonjoran di samping Marvel yang tengah berbaring di atas lantai tanpa alas karpet atau apapun.


"Vanya." kaget Marvel saat membuka matanya, pasalnya tadi dia tengah tidur dan kebangun gara gara merasa ada seseorang yang mendekati dirinya.


"Hai..." sapa Vanya.


Mendengar itu hati Marvel pun berbunga bunga dan merasa bersalah karena sudah menculik Vanya.


"Aku minta maaf karena sudah nyulik kamu dulu." ucap Marvel menatap Vanya.


"Iya udah aku maafin kok, oh iya aku mau tanya. Emang kita saling kenal ya, kok kamu bisa terobsesi buat nyulik aku?" tanya Vanya.


"Bukan saling kenal, tapi kita pernah ketemu sewaktu kamu kecil dulu. Waktu itu kamu ada di China, dan kamu nolongin aku yang waktu itu terjatuh dari sepeda di taman." jawab Marvel tak mau menutupi apapun, karena dia juga udah yakin kalau hidupnya tidak akan lama lagi.


Vanya diam dan memikirkan apa yang Marvel ucapkan barusan. Vanya perlahan mengingat masa masa di mana dirinya sering main dan tinggal di rumah Farrel tepatnya di negara China. waktu di sana memang dia lebih suka main di taman dari pada bermain di ruangan. Tapi Vanya tak mengingat hal yang Marvel ucapkan itu.


"Kamu ingat?" tanya Marvel berharap Vanya mengingatnya.


"Maaf tapi aku tidak mengingatnya." jawab Vanya tidak enak.


Marvel tersenyum masam mendengar itu, memang mereka hanya ketemu sekali itu pun hanya sebentar. Pantas bukan kalau Vanya tidak mengingatnya.


"Iya aku ngerti kok, memang kita dulu hanya ketemu sekali saja." balas Marvel.


"Van." pangil Marvel pada Vano yang berada di belakang Vanya.


"Hmm." jawab Vano.


"Gw minta sama lo, tolong lo jaga Vanya, buat bahagia Vanya, jangan pernah buat dia nangis." pinta Marvel pada Vano.


"Tanpa lo minta pun gw akan menjaga istri sama anak gw." ucap Vano keceplosan kalau Vanya akan punya anak.


"Kamu hamil?" tanya Marvel pada Vanya.

__ADS_1


"Alhamdulillah iya." jawab Vanya rada canggung.


Gimana sih rasanya di perhatikan langsung oleh dua cogan sekaligus.


"Wah, selamat buat kalian berdua. Semoga Vanya dan bayinya selalu sehat dan jauh dari mara bahaya." doa Marvel.


"Aamiin. Makasih doanya." sambung Vanya.


Vano? Hatinya sudah tidak karu karuan rasanya. Ingin sekali Vano langsung mengorok leher Marvel, tapi Vano takut nanti Vanya akan membunuhnya.


"Sebelum aku mati, aku mau wariskan semua harta kekayaan aku buat anak kamu. Boleh kan." ucap Marvel yang membuat Vanya dan Vano kaget.


"Gak usah, makasih. Harga gw masih banyak." tolak Vano mentah mentah.


"Kamu mau ya..." pinta Marvel pada Vanya tak menghiraukan ucapan Vano.


"Tapi itu terlalu berlebihan, mending kamu kasih ke keluarga kamu aja." tolak Vanya secara halus tidak seperti Vano.


"Tapi aku tidak punya keluarga." balas Marvel.


"Terserah kalian mau kalian apakah harta aku, yang pasti aku sudah memberikannya pada kalian. Kalian ambil kertas yang ada di saku celana aku dan berikan pada sekertaris aku yang ada di kantor biar dia yang mengurusnya. Van gw udah siap kalau lo mau bunuh gw sekarang." ucap Marvel yang membuat Vanya kaget tapi tidak dengan Vano.


"Jangan, kamu jangan ngomong gitu, aku yakin kamu pasti sembuh." ucapan Vanya membuat Vano memelototkan matanya.


"Yank." pangil Vano.


"Itu gak mungkin Van, obat itu gak ada obatnya." sela Marvel menolak permintaan Vanya.


"Tuh dengerin, orang dianya sendiri yang minta mati kok."


"Vano..." tekan Vanya.


"Iya iya terserah kamu mau apa. Nih gw kasih racun kalau kalau lo mau bunuh diri. Aku tunggu kamu di luar." Vano pergi setelah meletakkan racun di samping kepala Marvel.


"Kamu jangan dengerin omongan Vano ya, aku pergi dulu kapan kapan aku pasti akan ke sini lagi buat jengukin kamu." pamit Vanya di balas senyuman oleh Marvel.


Vanya keluar dari sana, dia lupa tidak mengambil racun yang Vano berikan pada Marvel tadi.


-


"Van." pangil Farrel yang baru datang bersama Fira.


"Hmm." jawab Vano.


"Mana Vanya, katanya lo ke sini sama dia?" tanya Farrel duduk di samping Vano.

__ADS_1


Sekarang mereka tengah berada di sebuah ruangan yang terdapat banyak sofa duduk. Vano menunggu Vanya di sana karena dia sudah malas plus cemburu melihat kedekatan Vanya dan Marvel.


"Tauk." cuek Vano.


Farrel menoleh ke Fira dan bertanya melalui isyarat tapi di balas dengan mengedihkan bahu oleh Fira.


"Kakak." teriak seseorang dari jauh yang tak lain adalah Vanya.


Vanya pun berlari menghampiri Farrel dan hal itu sukses membuat Vano, Farrel serta Fira khawatir.


"SAYANG/PRINCESS/VANYA JANGAN LARI." teriak Vano, Farrel dan Fira barengan hingga membuat Vanya memelankan langkahnya.


"Hehehehe lupa." cengir Vanya.


Vanya berjalan dengan hati hati menghampiri mereka dan duduk di tengah tengah antara Farrel dan Vano.


"Kakak..." manja Vanya.


"Kenapa hmm?" tanya Farrel.


"Enggak, cuma kangen aja." jawab Vanya memeluk lengan Farrel.


"Loh kok cuma Farrel, kamu gak kangen sama aku?" ucap Fira pura pura ngambek.


"Kangen juga dong."jawab Vanya dan menghampiri Fira setelah itu dia memeluk Fira.


"Gimana keadaan babynya?" tanya Fira sambil mengelus perut Vanya.


"Alhamdulillah sehat aunty." jawab Vanya menirukan suara anak kecil.


"Kamu gak ada yang di keluhkan kan saat ini?" tanya Fira perhatian.


"Eemmmm untuk sementara ini belum ada sih, cuma kadang sering pusing sama kalau pagi suka mual mual." jawab Vanya.


"Itu normal kok katanya, nanti seiring berjalannya waktu juga akan berhenti mual sama pusing pusing nya." ujar Fira.


"Ya semoga aja sih, masak iya aku harus gini terus selama sembilan bulan."


"Oh iya aku mau ngomong sesuatu sama kalian." ucap Farrel tiba tiba memotong pembicaraan Fira dan Vanya.


"Mau ngomong apa?" tanya Vano.


"Jadi gw sama Fira memutuskan untuk menikah tiga hari lagi." ujar Farrel membuat Vanya dan Vano kaget.


"Hah."

__ADS_1


...***...


Segitu dulu ya, kepala ku udah pusing 😂


__ADS_2