My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 165


__ADS_3

"Mamp*s gw." sepertinya Vano ada salah dalam bercerita tadi.


"Kamu tahu aku sering nangis, tapi kenapa kamu gak nenangin aku?" tanya Vanya lagi.


"Anu yank, kan-kan aku dulu..."


Srot srot.


Vano menghentikan ucapannya saat mendengar suara yang menjijikkan yang datangnya dari Sisil.


"Eeuyy. Jorok lo Sil." jijik Sonya yang melihat Sisil buang ingus di dasi seragamnya, padahal di meja ada tisu.


"Lo kenapa Sil?" tanya Vanya yang baru menyadari kalau Sisil nangis.


"Hiks hiks... gw hiks gw sedih hiks denger cerita hiks Vano hiks." jawab Sisil sambil sesenggukan.


"Ya ampun Sil, lo tenangin diri dulu ya. Gw udah gak papa kok, nih buktinya gw ada sama Lo." Vanya menenangkan Sisil.


"Hiks hiks, iy-an hiks."


"Soal cerita Vano tadi, gw mau tanya Van. Apakah si Vano masih sering buat lo nangis?" tanya Sonya pada Vanya mengabaikan Sisil.


Vanya memandang Vano sebentar sedangkan Vano harinya bersyukur banyak banyak karena istrinya lupa akan pertanyaannya yang tadi.


"Makasih Sil, Soy, berkat kalian gw gak jadi dapat amukan dari singa betina." batin Vano.


"Kenapa diam Van, Vano masih sering BB buat kamu nangis ya. Cepet Van bilang sama gw, biar gw tebas kepala Vano." lanjut Sonya karena Vanya diam saja.


"Sembarang lo kalau ngomong, gw udah sadar ya, gw udah gak pernah bikin istri gw nangis." sanggah Vano tak terima bilang sering buat Vanya nangis.


"Lo diam deh, gw tanyanya sama Vanya bukan sama Lo." balas Sonya.


"Kamu tenang aja Soy, sekarang Vano udah gak bikin aku nangis lagi kok. Malahan dia bucin banget." ucap Vanya agar perdebatan suaminya dengan Sonya tidak berlanjut.


"Ooh baguslah kalau gitu." balas Sonya.


Mereka saling diam dengan pemikiran masing-masing. Vanya merasa ada yang terlewat, tapi dia tidak tahu apa itu. Sedangkan Vano hatinya benar benar happy karena tidak jadi mendapatkan amukan Vanya.


"Ehh, jadi ini mansion kalian?" tanya Sonya tiba tiba.


"Iya, tapi lebih tepatnya ini punya Vano sih, kan Vano yang beli." jawab Vanya.


"Enggak kok, ini punya Vanya, orang mansion ini aku buat atas nama dia." balas Vano yang membuat Vanya menatap serius ke arahnya.


"Kamu jangan becanda deh Van?"


"Aku serius sayang."


"Emang lo gak tahu Van, kalau mansion ini atas nama Lo?" tanya Sonya di balas gelengan kepala oleh Vanya.

__ADS_1


"Aku buat ini khusus untuk kamu dan anak anak kita nanti. Karena aku bingung mau atas nama siapa jadi ya aku kasih nama kamu aja, sekaligus sebagai persembahan cinta aku sama kamu." jelas Vano.


Bruk.


Vanya yang mendengar itu pun bangkit dan memeluk tubuh Vano secara tiba-tiba. Untung saja Vano selalu siaga.


"Makasih Van, aku sayang banget sama kamu." ucap Vanya berada dalam pelukan Vano.


"Iya sama sama, aku juga sayang banget sama kamu."


Cup.


Balas Vano sambil memberikan kecupan di kening Vanya.


"Soy kita pulang aja yuk, di sini udaranya panas banget." ucap Sisil yang sedari tadi diam saja sehabis nangis.


"Bener kata lo Sil, ya udah ayo." setuju Sonya dan bangkit dari sofa.


"Ehh, kalian mau ke mana?" tanya Vanya sambil melepaskan dirinya dari Vano.


"Kita mau pulang aja Van, kan kita di sini hanya ngontrak doang, kalau bisa sih sekalian pindah ke mars." jawab Sonya.


"Bener Van, udaranya di sini panas banget gw mau cari yang adem adem." timbal Sisil.


Tok tok tok.


Ceklek.


"Permisi tuan, nyonya, maaf saya menganggu sebentar." ucap Sri.


"Iya Sri gak apa apa, sini masuk." jawab Vanya, sedangkan Vano kembali menetralkan wajahnya menjadi datar dan berwibawa.


"Ini minumannya tuan, sekalian tadi saya bawain camilan juga." ucap Sri pada Vano.


"Hmm, taruh saja di meja." jawab Vano datar.


Sri pun meletakkan beberapa camilan dan minuman untuk tuan dan nyonya serta teman teman nyonya-nya.


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan, nyonya." pamit Sri.


"Hmm/makasih Sri." jawab Vano dan Vanya barengan.


Sedangkan Sonya dan Sisil tadi pun kembali duduk dan terkagum kagum lagi melihat ekspresi wajah Vano yang cool.


Sri pun pergi meninggalkan ruangan nongkrong itu setelah meletakkan pesanan tuannya.


Prok prok prok.


Tepuk tangan Sisil dan Sonya tiba tiba mengema di ruangan itu yang membuat Vanya dan Vano heran.

__ADS_1


"Kalian kenapa?" tanya Vanya.


"Kita gak kenapa napa kok, kita cuma salut saja sama Vano yang dalam sekejap bisa merubah raut wajahnya menjadi berwibawa di hadapan pelayan tadi." jawab Sonya yang di angguki Sisil.


"Ooh gitu, gw juga sebagai istrinya heran melihat itu, tapi lama kelamaan gw terbiasa melihat suami gw yang gampang berubah raut wajahnya."


"Sayang aku berubah gitu agar tidak di remehkan oleh anak buat sendiri, masak iya anak buahnya badan keker keker, ehh bos nya malah cengengesan cengengesan gak jelas."


"Iya dah terserah kamu aja."


"Oh iya sampai lupa, ayo di minum dulu minumannya." lanjut Vanya mempersilahkan kedua sahabatnya untuk minum.


Sonya dan Sisil pun mimun dan makan apa yang di suguhkan di hadapannya.


"Eemmm..." gumam Vanya seperti akan berbicara sesuatu.


"Kenapa sayang?" tanya Vano menatap Vanya.


Sisil dan Sonya pun ikutan menatap Vanya, menunggu apa yang akan keluar dari mulut Vanya.


"Kalian, kalian udah gak marah lagi kan sama gw?" tanya Vanya lirih.


Mereka semua diam mendengar pertanyaan Vanya.


"Kenapa kalian diam saja, kalian masih marah ya sama aku, maaf..." lirih Vanya lagi sambil menundukkan kepalanya.


"Maaf aku gak bermaksud buat bohongin kalian, tapi waktu itu aku dan Vano berfikir kalau belum saatnya orang lain tahu soal masalah ini, terlebih kita berdua juga masih sekolah." ucap Vanya lagi.


Sonya dan Sisil pun bangkit dan menghampiri Vanya. Vano yang mengerti dengan keadaan di sekitarnya pun bergeser ke samping tempat duduknya.


Grep.


Sonya dan Sisil saling duduk di samping Vanya dan memeluk Vanya yang ada di tengah tengahnya dengan erat.


"Kita udah maafin lo kok, maaf tadi gw sempet marah marah sama Lo. Seharusnya tadi gw tanyain baik baik kepada lo bisa lakuin hal itu dan gak bilang sama kita." ucap Sonya yang tanpa dia sadari dia menetapkan airnya.


"Iya Van, seharusnya kita yang minta maaf sama lo, karena kita gak pernah ada di saat lo di siksa Vano. Kita gak pernah ada di saat lo membutuhkan seseorang buat berbagi cerita." sambung Sisil yang ikutan menangis lagi.


"Hiks hiks, maafin gw hiks." ucap Vanya lagi.


"Kita udah besar, mulai sekarang jika di antara kita ada masalah kita harus cerita satu sama lain, jangan di sembunyikan." bijak Sonya.


"Sekali lagi gw minta maaf sama kalian hiks hiks." ucap Vanya lagi yang di angguki kedua temannya.


Mereka terus berpelukan, Vano yang menatap itu pun merasa terharu dan bangga, karena istrinya bisa mempunyai teman seperti mereka berdua. Vano jadi teringat akan kedua sahabatnya, dia berniat untuk menceritakan rahasianya kepada kedua temannya tentang pernikahan dia dan Vanya, tidak dengan dia yang menjadi mafia.


Vano bangkit dan keluar dari sana, memberikan waktu luang agar istrinya bisa bercerita dengan kedua temannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2