
Malam ini Vano akan memberikan kejutan buat Vanya, dia sudah menyiapkan makanan yang mewah di pinggiran pantai. Selain untuk memberikan Vanya suprise, hari ini juga adalah anniversary pernikahan mereka berdua. Vano sudah menyiapkan kado yang mungkin bakal Vanya suka.
"Sayang udah belum?" tanya Vano seperti biasa, dia kali ini tengah menunggu Vanya berdandan.
"Iya bentar." balas Vanya.
"Ada acara apa sih sampai sampai kamu suruh aku pakai gaun kayak gini." omel Vanya.
Pasalnya Vano menyuruh dirinya untuk memakai gaun berwarna hitam yang sudah Vano siapkan untuknya.
"Ada deh, nanti kamu juga akan tahu." balas Vano.
"Iih kamu mah main rahasia rahasia-an."
"Udah ayo berangkat nanti keburu malam." ajak Vano.
Mereka berdua pun pergi menaiki mobil Alphard dan ada mang Udin yang bertugas sebagai sopirnya.
Dalam perjalanan Vanya di buat bingung, pasalnya mobil yang mereka tumpangi ini melaju sudah hampir satu jam tapi tidak sampai sampai juga.
"Kita mau kemana sih Van?" tanya Vanya.
"Rahasia, bentar lagi sampai kamu yang sabar." balas Vano yang menurut Vanya itu sangatlah menyebalkan.
"Iiihh, awas aja nanti kalau tempatnya gak berkesan, aku marah sama kamu."
"Aku yakin kamu nanti juga bakalan suka, bahkan nanti kamu gak akan berhenti mengucapkan makasih sama aku." balas Vano pede.
"Masak?"
"Iya."
Vanya tak lagi berbicara, dia kesal dengan Vano. Tiba tiba saja mobil berhenti di jalanan yang menurut Vanya sangat sepi.
"Loh kok berhenti, apakah ini sudah sampai?" tanya Vanya sekaligus takut.
"Belum dikit lagi sampai." jawab Vano.
"Terus ini kenapa berhenti, jangan bilang kalau kamu mau culik aku." tuduh Vanya.
"Hus kalau ngomong, kalau aku mau culik kamu ngapain aku suruh kamu pakai baju kayak gitu."
"Terus kamu mau ngapain ajak aku ketempat sepi kayak gini."
"Sini kamu matanya aku tutup dulu." perintah Vano.
"Enggak, gak mau. Nanti yang ada kamu apa apain aku lagi." tolak Vanya.
"Ya Allah sayang, beneran loh aku gak bakal apa apain kamu percaya deh." ucap Vano meyakinkan Vanya.
"Ya udah tapi jangan kenceng kenceng."
"Iya sayang." greget Vano.
Vanya pun segera berbalik membelakangi Vano, dan Vano pun memasangkan penutup mata yang sudah dia bawa dari rumah.
"Ini berapa?" tanya Vano memastikan Vanya bisa melihat atau tidak, seperti anak kecil aja.
__ADS_1
"Gak tahu." jawab Vanya.
"Bagus, ayo mang kita lanjutkan lagi perjalanannya." perintah Vano.
Mobil pun melaju menuju tempat yang sudah Vano siapkan, Vanya menajamkan pendengarannya, samar samar dia bisa mendengar ada deburan ombak, tapi itu entah benar atau tidak.
Mobil berhenti dan Vano turun duluan dari mobil.
"Ayok yank." ajak Vano.
Vano membantu Vanya untuk turun dari mobil karena mata Vanya yang tertutup jadi mempersulit pergerakan Vanya.
"Kita di pantai ya?" tanya Vanya saat mendengar deburan ombak sangat jelas di telinganya.
"Udah ayo nanti kamu juga bakalan tahu." balas Vano.
Meskipun agak kesal tapi Vanya tetap menuruti perintah Vano. Vano membawa Vanya entah kemana Vanya juga tidak tahu, setelah berjalan beberapa saat akhirnya Vano menghentikan langkahnya.
"Aku buka penutup mata kamu, tapi kamu jangan buka dulu mata kamu sampai hitungan ke tiga." pesan Vano.
Vanya mengganguk sebagai balasan ucapan Vano.
"Tiga, dua...." Vano menghitung mundur setelah dia melepaskan penutup mata Vanya.
"Satu."
Perlahan Vanya membuka matanya, terlihat di hadapan Vanya ada meja makan yang sudah di hiasi lilin. Serta tak lupa ada berbagai macam makanan yang sudah tersaji di sana, dan bisa di pastikan itu makanan kesukaan Vanya semua.
"Ini kamu semua yang siapin?" tanya Vanya tidak percaya.
"Bukan ini aja, coba kamu liat ke belakang." pinta Vano.
Banyak kembang api yang menyala dengan berbagai warna. Salah satu kembang api yang meledak di udara menampilkan tulisan happy anniversary, itu terlihat sangat indah Vanya sampai gak bisa menahan air matanya.
"Makasih, kamu sudah mengingat tanggal pernikahan kita." terharu Vanya, Vanya aja tidak ingat jika hari ini adalah anniversary pernikahan mereka.
"Masih ada lagi." ucap Vano.
Dari arah pinggir pantai muncullah teman teman Vanya dan Vano yang membawa kue serta balon yang berbentuk tulisan happy anniversary. Vanya pun menangis melihat itu, ini bukan tangisan kesedihan melainkan ini adalah tangisan kebahagiaan.
"Makasih." ucap Vanya berhambur ke dalam pelukan Vano.
"Aku gak tahu lagi mau bilang apa, intinya aku terharu banget." ucap Vanya.
"Jangan nangis dong, kan kita hari ini mau happy happy masak nangis." balas Vano.
"Tapi kamu yang bikin aku nangis."
"Ya udah aku minta maaf."
"Hei tiup lilinnya dulu, keburu habis nih lilinnya." ucap Lucas menghancurkan kemesraan Vano dan Vanya aja.
"Lo tuh gak bisa apa lihat orang romantis dikit." kesal Vano.
"Oh tidak bisa, selama ada Lucas di situ gak bakal ada momen momen romantis romantisan." balas Lucas.
"Dah nih cepet tiup lilinnya." lanjut Lucas.
__ADS_1
Vanya dan Vano pun meniup lilin secara bersama, dan setelah itu mereka saling menyuapi kue satu sama lain.
"Happy anniversary sayang." ujar Vano memandang Vanya penuh cinta.
"Happy anniversary too sayangku." balas Vanya.
Cup.
Vanya mengecup bibir Vanya tapi tak lama karena ada Lucas yang menahan mereka.
"Heh udah gak usah cium ciuman, lagi bulan puasa gak baik buat yang baca." cegah Lucas.
"Happy anniversary buat kalian berdua, semoga langgeng sampai surga nanti." ucap selamat Fira pada Vanya dan Vano.
"Happy anniversary sayang, semoga selalu langgeng ya." ujar Sonya sambil memeluk Vanya.
"Makasih buat kalian semua yang sudah rela mau merayakan anniversary aku sama Vano." ucap Vanya berterima kasih.
"Gimana gak rela, orang sama laki lo kita di paksa." balas Lucas.
"Enggak usah di dengerin yank, dia cuma iri sama kita. Kan dia jomblo." balas Vano agar Vanya tidak termakan oleh omongan Lucas.
"Halah gaya lo."
"Ya udah kita duluan pulang ya, kalian nikmati masa masa berdua kalian sebelum nanti ada orang ketiga." ucap Farrel membuat semuanya menatap Farrel dengan tajam.
"Benerkan orang ke tiga, itu." tunjuk Farrel pada perut Vanya yang besar.
"Ooh gw kira lo nyumpahin pernikahan gw, untung aja leher lo belum gw tebas." balas Vano.
"Kalian aja yang berfikir terlalu jauh." balas Farrel.
"Kita pulang dulu bro, sekali lagi selamat buat kalian berdua." pamit Galang dan segera pergi dari sana setelah mendapatkan anggukan dari Vano. Galang pergi membawa Sonya juga.
Dan yang lainnya pun ikutan pergi meninggalkan Vano dan Vanya berdua di sana.
"Yuk kita makan dulu, setelah itu aku akan memberikan hadiah buat kamu." ajak Vano.
"Masih ada lagi?" tanya Vanya tak habis pikir dengan Vano.
"Iya dong, pokoknya hari ini hari yang spesial buat kamu." balas Vano.
"Dapat uang dari mana kamu, kok aku gak ada laporan kamu narik uang banyak." curiga Vanya.
"Hehehe utang sama papa." cengir Vano.
"Astaghfirullah hallazim Vano, kan kamu bisa minta sama aku." tak habis pikir Vanya.
"Kalau minta sama kamu nanti ketahuan dong." balas Vano.
"Ya kan kamu bisa pakai alasan yang lain."
"Udah gak papa, lagian papa ku sendiri juga."
"Udah ayo kita makan nanti keburu dingin." ajak Vano.
Mereka berdua pun makan dengan saling menyuapi satu sama lain, layaknya ABG lagi ngedate. Mereka menikmati momen momen mereka saat ini, tak lupa Vano sudah menyewa seseorang buat mengabaikan momen ini. Agar nanti saat mereka sudah tua, mereka bisa melihatnya lagi.
__ADS_1
...***...