
Tin tin tin.
Suara klakson mobil yang saling bersahutan satu sama lain mengejar satu mobil sedan putih yang tengah membawa Vanya.
"Woy berhenti gak Lo." teriak Vano dari samping mobil itu dengan kaca mobil yang terbuka.
"Aduh gimana nih Cin, itu kan Vano." takut Kia.
"Udah lo tenang aja, lo fokus ke depan." balas Cindy.
Kia pun mendambakan kecepatan mobilnya dan begitu juga dengan Vano, dia juga menambahkan laju mobilnya untuk mengejar mobil Kia.
Tin tin tin.
Klakson Vano lagi tapi mobil itu tetap saja tak mau berhenti.
"Cih, nyusahin aja." decak Vano.
Vano pun mengamati jalanan yang tidak terlalu ramai, setelah itu dia mengambil kesempatan untuk menyalip mobil itu.
Brummm...
Suara mobil sport Vano yang melaju dengan kencangnya hingga bisa menyalip mobil Kia.
Ciitttt...
Suara ban mobil yang bergesekan dengan aspal jalan akibat Vano mengerem mobilnya. Mobil Vano sekarang berada di depan mobil Kia dengan arah memalang.
"Gawat Cin kita ke tangkap." ucap Kia.
Vano turun dari mobil dan menghampiri mobil Kia.
"Turun lo berdua." perintah Vano sambil mengetuk kaca jendela mobil.
Mau tak mau Kia pun menurunkan kaca jendela mobilnya dan bisa dia lihat wajah menyeramkan Vano yang siap menerkam mangsanya.
"Ehh Vano, ada apa nih kok hadang jalanan kita?" tanya Kia pura pura bego.
"Mana Vanya, cepat kembalikan pada kita." ucap Farrel yang tiba-tiba datang.
"Vanya? kita gak bawa Vanya kok. Lagian kurang kerjaan banget sampai sampai harus culik culik Vanya. Ya gak Ki?" kilah Cindy.
"Iya." balas Kia.
"Halah lo berdua gak usah ngeles, itu di belakang Vanya kan?" balas Sonya.
"Mana, orang di belakang gak ada orang kok." jawab Cindy sambil melihat jok belakang mobil yang tidak terdapat siapa siapa di sana.
"Gak mungkin, orang tadi gw lihat sendiri kok." kekeh Farrel.
__ADS_1
"Kalian salah lihat kali, tuh buktinya gak ada siapa siapa." tunjuk Cindy menunjukkan jok belakang mobil milik Kia.
Tanpa mengatakan apa apa tangan Vano langsung menyerobot masuk melalui kaca jendela dan membuka pintu mobil yang terkunci.
Setelah terbuka Vano langsung membuka pintu jok belakang dan menemukan Vanya yang tengah duduk berjongkok membelakangi Vano.
"Sayang." pangil Vano dan akan memegang pundak Vanya, tapi sebelum itu terjadi orang yang Vano pangil sudah membalikkan tubuhnya.
"Vano." seru orang itu yang tak lain adalah Tasya.
"Loh kok Tasya." kaget Farrel dan yang lainnya kecuali Vano.
"Tuh kan apa yang gw bilang, itu bukan Vanya." ujar Cindy.
"Udah gw duga." ucap Vano sambil tersenyum licik.
"Tapi ini kan memang baju yang Vanya pakai tadi." tunjuk Fira yakin.
"Iya itu memang baju Vanya, mereka sudah menggantinya." ucap Vano dingin.
"Menggantinya? Maksud kalian apa sih?" bingung Cindy.
"Halah lo gak usah sok gak tahu deh. Ini memang baju Vanya, orang ini baju limited edition yang baru Vano belikan beberapa hari yang lalu kok, dan di indo baju itu cuma ada satu." ucap Fira.
"Ya kan bisa aja ini baju KW." kilah Cindy lagi.
"Udah gak usah kalian ajak mereka bicara, mereka gak bakalan ngaku." ujar Vano.
"Ehh gak bisa gitu dong, lo gak bisa main asal tuduh gw gitu aja. Gw di sini cuma sebagai pengalih perhatian kalian. Lo gak ada naruh curiga gitu sama sahabat lo?" ucap Cindy menghentikan langkah Vano.
Vano berbalik dan memandang Cindy dengan datar.
"Mau lo sebagai pesuruhnya atau pun lo pelaku utamanya, tetep aja lo udah salah di mata gw karena lo udah ngusik kehidupan keluarga gw. Kak bawa mereka bertiga." tegas Vano dan segera masuk ke dalam mobilnya.
Cindy hendak kabur tapi Sonya dan Sisil dengan cepat membaca gerak gerik Cindy, alhasil Cindy sekarang sedang memberontak dalam cekalan Sonya dan Sisil.
Tin.
Vano meng-klakson mobilnya dan mereka semua pun memandang ke arah Vano.
"Gw tunggu kalian di mansion." ucap Vano dan segera melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota Jakarta menuju kediamannya.
"Lepasin kita." berontak Kia.
"Lepas." berontak Cindy juga.
Sekarang Cindy sudah berada di tangan orang orang yang Farrel suruh, karena tadi Cindy terus memberontak alhasil Farrel langsung menyuruh orang orangnya untuk mengantikan Sonya dan Sisil memegangi Cindy karena dia takut Cindy akan terlepas.
"Diam kalian." bentak Farrel.
__ADS_1
"Ini kenapa kita di tangkap kayak gini, kita kan bukan maling." bingung Tasya.
"Lo itu maling, tuh buktinya baju siapa yang lo pakai." ucap Sisil sinis.
"Baju ini? Gak tahu tadi Cindy sama Kia yang nyuruh aku pakai ini." balas Tasya.
"Lepas." berontak Kia dan Cindy.
"Berisik." kesal Farrel dan menggunakan ilmu yang baru dia gunakan untuk membuat Cindy dan Kia pingsan.
"Udah cepat kalian bawa mereka ke markas, jangan kasih makan atau pun minum. Dan letakkan mereka di sel paling ujung sendiri yang paling kotor." perintah Farrel.
"Ini gak sekalian di buat pingsan juga tuan?" tanya salah satu orang orang Farrel.
"Gak usah, dia gak bakalan buat ulah kayak mereka berdua."
"Udah cepat kalian pergi sebelum nanti ada polisi yang kesini." perintah Farrel.
"Baik tuan." patuh mereka dan segera membawa ketiga manusia yang berjenis kelamin perempuan itu masuk ke dalam mobil dan segera membawanya ke markas.
"Ayok kita pulang ke mansion Vano, Sisil kamu bisa kan bawa mobil ini?" tanya Farrel.
"Bisa kak." jawab Sisil.
"Ya udah ayo kita pergi kalau gitu."
Mereka semua pun segera pergi dari sana sebelum ada polisi yang datang menghampiri mereka, karena Farrel yakin kalau sebentar lagi pasti ada polisi yang datang lantaran mereka mengganggu pengguna jalan yang lain.
-
'Halo Van lo di mana?' tanya Lucas melalui sambungan telepon.
'Gw di mansion.' balas Vano lesu.
'Ya udah gw sama om Wili ke sana dulu, lo jangan berbuat nekat.'
'Hmm.' balas Vano malas.
Tut.
"Hufft...." hela nafas Vano.
Vano sekarang berada di ruang kerjanya sambil memandang foto Vanya yang berada di atas meja kerja miliknya. Vano mengingat masa masa di mana Vanya yang menghampiri dirinya ke sini sambil membawakan segelas air minum dan tak lupa setelah itu pasti banyak akan bermanja-manja terhadap dirinya.
"Aku kangen sama kamu." ucap Vano.
"Kamu harus jaga diri kamu baik baik ya, aku janji akan segera menemukan kalian." lanjut Vano.
Vano mendengar ada keributan di lantai bawah, seperti itu suara sahabat sahabatnya yang baru saja sampai di sana. Vano pun segera beranjak menemui sahabatnya di bawah.
__ADS_1
...***...