
"Mamp*s gw." ucap Vano saat melihat ada panggilan tak terjawab dari Vanya dan beberapa pesan dari Vanya.
Vano pun segera membuka isi pesan itu dan membacanya dengan teliti.
"Sayang kamu salah faham." ucap Vano setelah membaca isi pesan dari Vanya.
Vano pun segera menelfon balik Vanya tapi hanya memanggil saja. Vano pun tak kehabisan akal, dia menelepon Vanya mengunakan telfon biasa tapi yang muncul bukan suara Vanya tapi suara mbak mbak operator.
"Sayang kok gak aktif sih." Vano masih berusaha menelfon Vanya tapi hasilnya tetap sama.
"Agrrr... ini semua gara gara Lucas sial*n."
"Gak akan gw biarin lo hidup tenang di sini." marah Vano.
Vano pun segera keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam bandara lagi untuk menjemput Lucas yang sebentar lagi pesawatnya akan mendarat, karena ini sudah pukul sebelas lebih dua belas menit.
"Halo bro." sapa Lucas dari kejauhan sambil berlari ke arah Vano seperti pasangan yang lama gak ketemu.
Karena masih jengkel Vano diam saja tak merespon Lucas, saat Lucas akan meraih tubuh Vano dalam pelukannya, Vano menghindar sehingga Lucas hanya memeluk angin saja.
Untuk menutupi rasa malunya, Lucas pura pura menggigil kedinginan memeluk tubuhnya dengan tangannya sendiri.
"Udah kan, ayo cabut." ajak Vano dengan datar.
"Ayok lah." ucap Lucas senang, Vano lupa kalau ekspresi datar miliknya itu bagi Lucas sangat menggemaskan bukan menakutkan.
"Mana mobil Lo?" tanya Lucas setelah keluar dari bandara dengan tangan kosong karena semua tas dan kopernya sudah di bawa anak buah Vano yang ada di sana.
Vano tak menjawab tapi langkahnya menuju sebuah mobil Alphard warna putih yang terparkir di depan mereka, dengan cepat Lucas berlari mendahului Vano masuk ke dalam mobil Alphard itu yang sudah di bukakan oleh sopir.
"Maaf masnya siap..." ucap sopir itu tapi langsung di potong sama Lucas.
"Halo apa kabar, pasti bapak orang kepercayaan Om Wil ya?" tanya Lucas sok akrab.
Sopir itu pun mengernyitkan alisnya bingung dengan ucapan Lucas.
Sementara Vano yang menghentikan langkahnya karena di dahului Lucas tadi pun berusaha menahan tawanya agar tidak pecah di parkiran ini. Vano segera berjalan dengan cepat menuju mobil hitam yang ada di sebelah mobil Alphard yang di masuki Lucas tersebut.
"Loh Van?" bingung Lucas saat melihat Vano masuk ke dalam mobil di sebelah mobil Alphard ini.
"Maaf masnya siapa ya, ini tuan saya mau masuk." ucap sopir tadi dan di sampingnya ada orang yang memakai setelan jas rapi.
"Oh maaf pak, saya salah masuk." Lucas pun segera berlari ngibrit dan masuk ke dalam mobil Vano.
"Hahahaha..." tawa Vano pecah setelah Lucas masuk ke dalam mobil.
"Sial*n lo, mau di taruh mana muka gw." malu Lucas sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hahaha... lo lucu banget sih, bisa bisanya lo main masuk ke mobil orang." ucap Vano di sela sela tawanya.
__ADS_1
"Ya gw kira tadi itu mobil Lo." jawab Lucas.
"Ayo cepat jalan Van, gw udah malu banget di sini." Lucas melihat keadaan sekitar dan dia bernafas lega karena tidak ada yang memperhatikan dirinya.
"Hufft... untung aja gak ada yang merhatiin gw." lega Lucas.
"Van, ayo jalan." suruh Lucas.
"Lo aja yang nyetir, badan gw sakit semua gara gara nungguin lo sambil tiduran di mobil." ucap Vano.
"Lah, gw kan belum hafal jalanan sini."
"Udah ayo, nanti gw tunjukin."
"Sini tukeran." lanjut Vano.
Akhirnya mereka pun tukeran tempat duduk tanpa keluar dari mobil terlebih dahulu.
"Kita mau kemana nih?" tanya Lucas sambil menyetir mobil.
"Lo udah makan belum?" balik tanya Vano.
"Udah tadi pagi sarapan di pesawat." jawab Lucas.
"Ooh kirain belum, ya udah kalau gitu langsung ke sekolahan gw aja jemput istri gw." ucap Vano.
"Istri lo sekolah?" tanya Lucas.
"Maksud lo?"
"Bini gw salah paham gara gara gw ketiduran gak ngangkat telfonnya."
"Ciaah, suami takut istri lo." ledek Lucas.
"Belum tahu aja lo rasanya di marahin sama istri."
"Emang gimana rasanya?"
"Rasanya lebih menegangkan dari pada melawan 100 orang bersenjata." jawab Vano.
"Cih, lebay. Emang lo udah pernah gitu melawan 100 orang bersenjata?"
"Ya belum sih." menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Itu lah alasan gw gak mau berhubungan sama yang namanya cewek, bikin ribet."
"Dih, belum tau aja lo rasanya setiap malam di manja sama istri." ujar Vano sambil membayangkan kegiatan dirinya dengan Vanya saat malam hari.
"Emang di manja gimana?" tanya Lucas kepo.
__ADS_1
"Ada deh, mangkanya nikah biar tahu."
"Ogah." bantah Lucas.
Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan saling mengobrol dengan Vano sebagai petunjuk jalan buat Lucas yang memegang kemudi.
-
Sampai di sekolah, Lucas memakirkan mobil Vano di parkiran yang biasa Vano gunakan untuk parkir mobil ketika sedang masuk sekolah.
"Mana bini lo?" tanya Lucas.
"Ya di dalam lah, orang belum waktunya pulang." jawab Vano.
"Trus kita ngapain di sini?"
"Udah lo diam aja, ayo ikut gw ke kantin. Perut gw udah lapar minta di isi." Vano keluar dari mobil, dan Lucas pun mengikuti Vano juga.
Kebetulan keadaan sekolah masih sepi karena masih jam masuk kelas jadi tidak ada sorakan sorakan dari para ciwi ciwi yang tak bisa liat kaum adam ganteng dikit.
"Lo mau makan apa?" tanya Vano berbaik hati menawari Lucas makanan.
"Terserah lo aja, gw gak tau menunya apa aja." jawab Lucas.
"Eemmmm...apa ya..." Vano berfikir, apakah dia harus mengerjai Lucas sekarang, ehh tapi kasian dia baru sampai.
"Gw pesenin bakso aja ya." ujar Vano yang di angguki Lucas.
"Saya mau bakso dua sama es teh nya dua juga." pesan Vano pada penjual di kantin.
"Baik mas, silahkan di tunggu sebentar." jawab penjual kantin.
"Lo sekolah di sini, enak gak Van?" tanya Lucas yang membuat Vano mengeryit heran.
"Jangan bilang lo mau sekolah juga?" tebak Vano dan di angguki Lucas.
"Gak ada gak ada, gw gak setuju kalau lo sekolah lagi. Udah lo diem aja di markas patauin para musuh." bantah Vano.
"Yah, lo mah gitu. Gw kan bosen kalau di markas terus." memasang wajah sok imutnya.
"Gak usah gitu mukanya, jijik gw."
"Dahlah Vano gak seru, gw pulang ke Itali aja." Ucap Lucas pura pura sedih.
"Ya udah sono pulang aja, tapi lo ingatkan tas lo udah ada di anak buah gw. Jadi otomatis pasport lo ada di tangan gw." ancam Vano.
"Oh iya, tas gw mana?" bingung Lucas mencari tasnya.
Dari tadi kemana aja coba, orang dari tadi waktu keluar dari bandara juga udah gak bawa apa apa. Dasar Lucas.
__ADS_1
...***...