
Akhirnya Vano pun melakukan latihan meskipun dengan pikiran yang terus tertuju kepada Vanya.
"Ayo lah Van, semangat biar lo bisa cepat pulang ke indo." ucap Lucas yang sudah dongkol dengan tingkah Vano.
"Iisss lo mah gak ngerti. Gw tuh kangen banget sama Vanya, gw mau cepat pulang trus minta maaf sama Vanya." ucap Vano dengan muka lesunya.
"Mangkanya itu kalau lo kangen itu lo harus semangat latihannya biar bisa cepat pulang."
"Tauk ahh kesel Vano jadinya." ngambek Vano ala ala Vino.
"Dih jijik gw dengernya Van, kalau Vino mah masih mending lah ini lo udah tua bangkotan ngomong kayak gitu kan jijik saya." gidik Lucas.
"Apa lo bilang Hah. Tua bangkotan! Sekate kate lo kalau ngomong, gw tuh masih muda masih perjaka juga. Ehh kayaknya udah enggak deh." sambil menggaruk tengkuknya.
"Dih."
"Udah ayo semangat latihan nanti kalau selesai ntar malam kita jalan jalan, siapa tau kan lo mau beliin oleh oleh buat istri lo yang katanya cantik itu." lanjut Galang mengiming-imingi Vano dengan embel-embel istrinya.
"Ide yang bagus tuh, ya udah gw bakal semangat latihannya. Tar gw mau beliin Vanya tas keluaran terbaru sama pakaian pakaian branded." Vano menyetujui ucapan Lucas dengan semangat.
"Gitu kek dari tadi."
Akhirnya Vano dan Galang pun latihan, Vano latihan dengan serius bahkan dia dalam sekejap bisa langsung menguasai beberapa ilmu bela diri.
-
Malam hari sehabis jalan jalan Vanya sibuk beres beres di kamarnya untuk persiapan besok pergi ke rumah kedua orang tuanya.
"Hufft... akhirnya selesai juga." meregangkan tangannya ke atas hingga menimbulkan suara dari persendian di tubuhnya.
Tok tok tok
"Vanya ini mama sayang." pangil mama Fara setelah mengetuk pintu kamar Vanya atau lebih tepatnya kamar Vano.
"Iya ma sebentar." jawab Vanya dan segera beranjak untuk membukakan pintu untuk mama mertuanya.
Ceklek.
"Ada apa ma?" tanya Vanya setelah membuka pintu.
"Ayo kita makan malam, Vino udah nungguin tuh di bawah." ajak mama Fara.
"Iya, mama ke bawah dulu aja Vanya mau cuci tangan dulu di kamar mandi." jawab Vanya dengan lembut.
"Baiklah mama ke bawah dulu, cepat ya itu Vino udah menggonggong dari tadi." canda mama Fara yang membuat Vanya terkekeh.
"Mama ini ada ada saja."
"Ya udah mama duluan."
__ADS_1
"Iya ma."
Mama Fara pun turun dan di susul Vanya setelah selesai mencuci tangannya di kamar mandi.
"Maaf kalian jadi lama nunggu Vanya." ucap Vanya merasa tidak enak.
"Enggak kok sayang, Vinonya aja yang gak sabaran." jawab mama Fara sambil tersenyum.
"Mama bohong, kakak Vanya yang cantik jangan percaya sama mama. Meskipun menunggu ribuan abad Vino rela kok kalau yang di tunggu kakak cantik." gombal Vino.
"Dih tadi siapa yang teriak teriak minta cepat cepat makan katanya udah lapar." sindir mama Fara.
"Itu bukan Vino mama." bela Vino.
"Iya bukan Vino tapi mulut Vino kan?" balas mama Fara lagi.
"Tauk ahh mama nyebelin orangnya." dengan muka kesal.
"Emang kamu baru sadar." balas mama Fara lagi yang tak di tanggapi oleh Vino.
Sedangkan Vanya seperti biasa dia hanya menjadi penonton setia drama keluarga Cemara.
"Ehem." Vanya pura pura batuk agar acara makan segera di mulai.
"Ehh maaf kamu jadi lihat gimana kelakuan Vino kalau lagi ngambek." ucap mama Fara setelah menyadari keberadaan Vanya yang dia lupakan.
"Emang kamu kok."
Tuh kan mulai lagi, emang dah keluarga ini paling the best. Keluarga yang orang lain kira adalah keluarga yang sangat di takuti dan menyeramkan tapi kalau menurut Vanya keluarga ini gak ada serem seremnya sama sekali.
"Maaf nih ma, kita jadi makan apa enggak?" tanya Vanya untuk menghentikan perdebatan yang akan berlangsung kembali.
"Oh iya mama lupa, Vino sih. Udah ayo kita mulai makan malamnya."
Akhirnya acara makan pun di mulai dengan mama Fara yang mengambilkan nasi untuk Vino beserta lauk pauknya dan di lanjut mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Saat bagian Vanya, ketika dia akan mengambil lauk terdengar pintu utama terbuka dan di ikuti teriakkan salam yang sebelas dua belas kencangnya dengan Vino kalau berteriak tapi lebih keras yang ini.
"ASSALAMUALAIKUM." Teriakkan mengelegar yang membuat semua orang yang ada rumah mewah itu menghentikan kegiatan yang sedang di lakukan termasuk Vanya.
"Apa lagi ini, nih lama lama makan malam jadi makan pagi deh kayaknya." canda Vanya dalam hati sambil menarik nafasnya.
"MAMA, VINO, VANYA PAPA PULANG NIH BAWA OLEH OLEH BANYAK." Teriak papa William lagi dengan menenteng berbagai macam kantung belanjaan yang banyak.
"PAPA." Teriak Vino dan segera turun dari kursi makan langsung berlari ke arah papanya dan memeluk papanya dengan erat.
"Halo anak papa yang ganteng, tapi masih ganteng papa." ucap papa William sambil memeluk anak bontotnya.
"Iih gantengan Vino tauk." melepaskan pelukan papanya sambil memancunkan bibirnya seperti bebek.
"Ehh tapi kali ini gapapa kalau papa yang ganteng, sekarang mana oleh oleh buat Vino." tagih Vino sambil melihat beberapa kantong belanjaan yang papanya bawa.
__ADS_1
"Dih, kalau ada maunya aja ngalah." sindir mama Fara sambil melipat tangannya di depan dada dan menatap tajam ke arah suaminya.
"Biarin blek.." menjulurkan lidahnya ke arah mama Fara.
"Dih, ganteng gitu." ketus mama Fara.
"Ganteng lah orang vino..."
Vanya hanya memandangi kelakuan keluarga suaminya, dia berharap Vano bisa cepat sembuh dari amnesianya supaya rumah tangganya bisa seperti mereka yang harmonis meskipun sering berantem.
"Udah udah jangan ribut, masak papa pulang di malah berantem sih bukannya di sambut baik baik." lerai papa William agar anak dan istrinya tidak berantem.
"Dih itu mah mau mu." jawab judes mama Fara ke papa William.
"Mama... Kan tadi pagi Vino udah bilang." Vino melarang mamanya untuk memarahi papanya, karena kalau sampai itu terjadi bisa hangus nanti harta karunnya.
"Emang Vino bilang apa sama mama?" tanya papa William penasaran. tumben bener anaknya ini berpihak padanya.pikir papa William.
"Vino tadi bilang sama mama agar gak marahin papa kalau papa pulang kan kasian papanya, masak capek capek dari luar negeri trus pulang di marahin. Vino baik kan pa?" jelas Vino dengan mata yang berbinar seolah apa yang dia lakukan itu adalah benar. Tapi memang benar sih.
"Uuhh anak papa ini memang yang terbaik." mengangkat Vino ke dalam gendongannya.
"Iya lah Vino..." sombong Vino sambil menepuk nepuk dadanya.
"Dih."
"Udah sayang ayo kita makan saja, biarin mereka berdua." ajak mama Fara kepada Vanya yang sedari tadi hanya diam saja.
Vanya pun hanya menurut saja karena perutnya juga sudah kelaparan.
"Papa gak di ajak makan ma?" tanya papa William karena istrinya hanya mengajak menantunya saja.
"Makan tinggal makan saja masak nunggu di suruh, kayak tamu aja." ketus mama Fara setelah itu dia memasukkan sesuap nasi berserta lauknya ke dalam mulut.
"Papa turunin Vino, Vino lapar mau makan." pinta Vino.
Papa William pun menurunkan Vino dan setelah itu dia pergi ke wastafel untuk mencuci tangannya.
Papa William kembali ke meja makan, tapi saat dia akan mendudukkan tubuhnya di kursi tempatnya biasa ketika makan di situ sudah terdapat sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Papa William tersenyum manis, ini lah yang dia sukai dari istrinya meskipun sedang ngambek tapi tetap melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri.
Makan malam pun berlangsung dengan lancar meskipun sebelumnya ada cikcok cikcok kecil yang menganggu.
...***...
Oh iya aku mau bilang jika nanti ada yang tanya.
"Kok Vino udah gak cadel lagi Thor?"
Sebenarnya Vino masih cadel sih, cuma aku jadi lama ngetiknya karena aku pakai keyboard otomatis jadi maklumi aja ya😁✌️
__ADS_1