
"DIAM." sentak Aaron.
"Upss... sorry sengaja." ucap Vano dengan wajah tak berdosa.
"Kamu..." menunjuk Vano.
"Kenapa, saya tampan ya? Emang sih kan keturunan papa William, kan papa William itu tampan kaya. Buktinya aja sampai mama Fara cinta sama papa William." ucap Vano lagi dan lagi berhasil memancing emosi Aaron.
Mendengar itu, Aaron berjalan keluar dari gudang. Hati Vano berbunga bunga karena dia mengira Aaron tidak akan menyiksanya untuk kali ini. Tapi dugaannya salah, setelah keluar Aaron kembali dengan membawa pecut serta pisau lipat.
"Mati gw." batin Vano.
"Saya udah bilang dari tadi untuk diam, tapi kamu tak menghiraukan ucapan saya. Jangan salahkan saya kalau hari ini adalah hari terakhir kamu menghirup udara di dunia." tegas Aaron.
Vano diam, kali ini nyalinya entah mengapa tiba-tiba menghilang setelah melihat ekspresi wajah Aaron yang sangat serius.
Cetiar, Cetiar.
Dua kali cambukan mendarat di punggung Vano. Yang berhasil membuat Vano merasakan sakit yang amat terasa.
__ADS_1
"Gimana, masih kurang?" ucap Aaron memandang remeh pada Vano.
Cetiar cetiar.
Dua kali cambukan lagi mendarat di tempat yang sama. Vano ingin rasanya dia menjerit tapi dia tahan, karena dia tidak mau kelihatan lemah di hadapan musuhnya.
"Akan gw gores wajah mu yang katanya tampan ini, biar nanti saat aku mengembalikan jasadmu papamu tidak mengenali dirimu." ucap Aaron berjongkok di hadapan Vano dan memainkan pisau lipatnya di hadapan Vano.
Mendengar wajahnya akan di lukai, ingin rasanya Vano menghabisi orang di hadapannya ini. Enak saja wajah tampannya ini akan di gores, tidak akan Vano biarkan. Wajah menurut Vano adalah salah satu aset yang paling berharga bagi dirinya.
Aaron memegang dagu Vano dengan satu tangannya yang tidak di gunakan untuk memegang pisau.
Aaron mendekatkan pisau sedikit demi sedikit hingga menempel di pipi mulus Vano.
"Permisi tuan." ucap salah satu anak buah Aaron yang tiba-tiba masuk ke dalam gudang dengan nafas yang ngos ngosan.
"Shiiiii***ttt." umpat Aaron sambil menjatuhkan pisau yang tadi dia pegang karena kesal kegiatannya di ganggu.
(Saya panjangin biar gak kena peringatan dari NT ๐)
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Aaron dingin.
"Mereka sampai ke sini tuan." jawab anak buah Aaron yang membuat Aaron segera beranjak pergi dari sana mengabaikan Vano yang akan dia lukai, di ikuti anak buahnya yang tadi.
Karena saking buru buru nya, Aaron sampai melupakan pisau dan pecut yang tertinggal di sana. Serta dia dan anak buahnya juga lupa untuk mengunci pintu gudang.
"Pasti itu papa sama yang lain. Ini kesempatan gw buat kabur." monolog Vano.
"Cih dasar bod*h." maki Vano pada Aaron yang terlalu ceroboh meninggalkan barang barangnya di sana.
Dengan susah payah akhirnya Vano berhasil membuka rantai yang mengikat tangannya, dan setelah itu dia membuka pengikat kakinya. Setelah selesai Vano mengambil segala senjata yang ada di sana.
Dengan berjalan pincang karena kedua kakinya yang terluka, Vano berusaha agar tetap bisa berjalan sampai keluar dari sini.
Vano keluar dari sana tanpa susah susah untuk membuka pintu, karena semua pintu tidak ada yang terkunci jadi hal itu memudahkan Vano buat kabur.
Vano dengan hati hati dan waspada keluar dari bangunan itu mencari pertolongan yang dia kenal.
...***...
__ADS_1
Maaf cuma sedikit, otak saya lagi gak jalan๐