
"Ma, pa." pangil Vano karena kedua orang tuanya serta mertuanya hanya diam saja.
"Far ini gw gak mimpi kan, cubit gw cepat Far cubit." ucap mama Vani dengan pandangan yang tetap lurus ke depan.
"Auw." ringis mama Vani karena mama Fara beneran mencubit lengannya.
"Ini bukan mimpi Van, ini nyata." sambung mama Fara.
"Ck, lebay." Vano mengatai kedua ibu negara.
"Apa kamu bilang Hah?"
"Auw ampun ma, ampun." ringis Vano karena mama Fara menjewer telinga Vano.
"Makanya jangan berani sama orang tuan." peringat mama Fara setelah melepaskan telinga Vano.
"Iiisss... menyebalkan." decak Vano.
"Sayang kamu beneran hamil?" tanya mama Fara pada Vanya.
"Alhamdulillah katanya iya ma, tapi kata dokter tadi aku di suruh periksa ke dokter obgin langsung, agar lebih detail lagi." jawab Vanya.
"ALHAMDULILLAH..."ucap mereka semua serentak kecuali Vanya dan Vano.
"Lebay." Ngedumel Vano tapi tak ada yang merespon ucapannya.
"Akhirnya pa kita punya cucu juga." seru mama Fara dan mama Vani.
"Iya ma, Sob kita bakalan jadi kakek." ucap papa William pada papa Wijaya.
"Iya gak kerasa ternyata kita udah tua." balas papa Wijaya.
"Yuuhuuu...gw punya keponakan." senang Farrel tak kalah heboh dari yang lain.
"Yank mereka masih waras kan?" tanya Vano pada Vanya.
"Sembarang kamu."
"Lagian, lihat tuh tingkah mereka. Aneh tau gak."
"Dih situ gak sadar."
"Sorry ya, aku masih waras."
"Iya dah terserah kamu." ngalah Vanya, dia sudah malas berdebat dengan Vano.
"Kita ke dokter obgin sekarang yuk." ajak mama Fara tak sabar.
"Gak bisa, Vanya harus makan dulu." bantah Vano.
"Kamu belum makan?" tanya Farrel di jawab gelengan kepala oleh Vanya.
"Kamu mau makan apa biar kakak cariin?" semangat Farrel.
__ADS_1
"Gak usah kak, aku mau makan nasi itu aja." tunjuk Vanya pada satu piring nasi yang berasal dari rumah sakit.
"Kamu seriusan gak kepengen apa apa, kan biasanya orang hamil tuh ngidam banyak makanan."
"Iya kak aku lagi gak pengen apa apa."
"Ya udah kalau gitu, tapi nanti kalau kamu pengen apa aja bilang sama kakak, kakak janji bakal cariin itu buat kamu.
"Beneran?"
"Iya, apa sih yang enggak buat princess nya kakak."
"Yeee makasih kak." senang Vanya.
"Dasar bod*h, lo liat aja nanti apa yang akan istri gw minta." batin Vano tertawa.
"Ya udah kamu makan dulu, sini mama suapin." tawar mama Vani dan di angguki Vanya.
"Ya udah kalau gitu papa daftarkan kamu dulu agar nanti enggak ngantri." ujar papa William yang di angguki oleh mereka semua.
Mereka semua merayakan kabar gembira ini dengan bercanda di dalam ruang rawat Vanya sebelum nanti mengantarkan Vanya periksa kehamilannya.
Mereka semua terutama dua pasang orang tua itu ngotot mau ikut mengantar Vanya periksa ke dokter kandungan, padahal tadi Vano sudah melarangnya.
-
Sedangkan di tempat lain, Galang tengah menunggu Sonya yang sekarang kakinya tengah di urut oleh tukang pijat.
"Lumayan berkurang dari pada yang tadi, buat gerak aja sakit banget." jawab Sonya.
"Ya udah yuk, aku antar kamu pulang." ajak Galang.
"Vanya gimana?" tanya Sonya sambil di bantu Galang turun dari bangkar UKS.
"Kamu gak usah pikirin Vanya dulu, kamu fokus sama kesembuhan kaki kamu dulu. Sekarang masih belum ada kabar dari Vano, tapi nanti kalau aku udah dapat kabar tentang Vanya aku bakal kasih tahu kamu." ujar Galang.
"Makasih ya kamu udah nemenin aku dari tadi, maaf jadi ngerepotin kamu." ucap Sonya tidak enak.
"Hei, kamu ngomong apa sih. Ini sudah jadi kewajiban aku buat jaga wanita yang aku sayang, seharusnya aku yang minta maaf karena gak bisa jagain kamu." balas Galang.
"Kamu gak perlu minta maaf, ini bukan salah kamu."
"Aku janji sama kamu, nanti aku bakal cari tahu tentang pertandingan tadi."
"Makasih." tulus Sonya.
"Sama sama cinta." balas Galang.
Galang pun mengantarkan Sonya pulang ke rumahnya mengunakan mobil Sonya, karena tidak mungkin juga dia membonceng Sonya dengan keadaan kaki Sonya yang seperti itu.
-
Sementara itu Sisil tadi juga berhasil menang dalam cabang melukis. Meskipun tidak mendapatkan juara satu tapi setidaknya Sisil berhasil mendapatkan juara dua. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri buat Sisil.
__ADS_1
Tak lupa juga ada Rangga yang memberikan ucapan selamat dengan romantis pada Sisil hingga membuat Sisil terharu.
-
"Nah ini janinnya, usianya baru menginjak mau dua Minggu dan ini masih rentan dengan keguguran. Jadi saya harap mas Vano dapat menjaga mbak Vanya dengan baik." jelas dokter obgin yang meng-usg kandungan Vanya.
"Baik dok, saya akan menjaga istri saya dengan baik sesuai perintah dokter." jawab Vano.
"Oh iya dok saya mau tanya sesuatu." lanjut Vano.
Vanya sudah was was takut Vano menanyakan hal yang di luar nalar.
"Mau tanya apa mas, silahkan."
"Eemmmm...kan istri saya sedang hamil, apakah masih boleh melakukan olahraga malam?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Vano yang membuat Vanya rasanya ingin tengelam dalam lautan saja.
"Ooh kalau soal itu untuk trisemester pertama hal itu di perbolehkan saja tapi itu juga bisa membahayakan kandungan jika sering di lakukan, dan saya minta untuk tidak mengeluarkannya di dalam." jawab dokter itu.
"Berarti masih boleh kan dok?"
"Iya mas boleh tapi jangan sering sering."
"Yes." senang Vano.
"Dok ini sudah kan, saya mau kembali ke kamar saya dulu." pamit Vanya yang tidak mau memperlama waktu di dalam ruangan dokter obgin.
"Oh sudah mbak, nanti saya akan resepkan vitamin serta obat penguat kandungan."
"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu dok." pamit Vanya dan menyeret Vano keluar dari sana.
Btw ini Vanya bisa berjalan ya, kan tadi dia hanya pingsan karena kecapekan.
"Kamu apa apaan sih yank, padahal kan tadi aku masih ada yang perlu di tanyakan lagi." omel Vano pada Vanya.
Vanya berhenti dan melepaskan tangan Vano.
"Kamu sadar gak sih dengan apa yang kamu tanyakan tadi." greget Vanya.
"Iya sadar kok, emang kenapa?"
"Kamu..."
"Kalian udah selesai?" tanya mama Fara yang datang bersama orang orang tadi.
"Iya ma udah." jawab Vano.
Oh iya tadi kedua keluarga itu hanya menunggu di depan ruangan periksa kandungan, bukannya tidak boleh masuk oleh dokternya, tapi Vano yang melarang. Katanya dia tidak mau tubuh istrinya di lihat oleh orang lain. Bahkan tadi sempat terjadi cekcok kecil kecilan di sana.
"Ya udah yuk kita kembali ke kamar Vanya biar dia istirahat." ajak papa William.
Mereka pun pergi menuju kamar rawat Vanya lagi agar Vanya bisa istirahat kembali.
...***...
__ADS_1