My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 136


__ADS_3

Di dalam markas WD, Vano mengajari Farrel merakit pistol dan Farrel pun mengikuti arahan yang Vano berikan dengan lincah.


"Weh cepet tanggap juga Lo." puji Vano.


"Hehehe kebetulan mudah."


"Ya udah lo latihan menembak sendiri aja, lo udah bisa kan?"


"Bisa kok, nanti kalau ada kesulitan gw minta bantuan Lo." jawab Farrel.


"Ya udah gw mau ke laboratorium dulu." pamit Vano.


"Mau ngapain di sana?" tanya Farrel kepo.


"Biasalah." jawab Vano dan segera berlalu dari sana.


Farrel mengerti mau apa Vano di laboratorium nanti, apalagi kalau bukan membuat ramuan atau obat obatan yang sangat berbahaya bila di konsumsi. Farrel tak mau ambil pusing, dia segera belajar menembak lagi dan lagi hingga mahir.


-


"Enaknya gw kasih obat apa ya buat bibinya si Farrel." Vano berfikir.


"Suntikan mati, itu terlalu mudah. Di buat gila, nanti malah merepotkan. Atau di buat lumpuh aja ya??" Vano menimang nimang apa yang akan di buat untuk bibinya Farrel.


"Ehh tapi kalau lumpuh juga sama aja bikin repot orang. Trus ini enaknya di buatin apa..."


Vano terus berfikir sambil tangannya mencampurkan cairan cairan yang ada dalam botol dan mengolahnya menjadi sebuah ramuan yang Vano inginkan.


"Akhirnya jadi juga." mengamati ramuan di depannya.


"Dengan menyuntikkan ini ke bibinya Farrel, lambat laun bibinya Farrel akan menyiksa dirinya sendiri dan setelah itu... BOOM. Mati deh." ucap Vano dengan seringai nya.


Setelah itu Vano memasukkan ramuan itu pada jarum suntik yang Vano buat saat di Italia dulu, jarum yang transparan dan bentuknya sangat kecil.


Setelah itu Vano menyimpannya di dalam wadah yang aman, dan setelah memastikan itu aman Vano melanjutkan kegiatannya di ruangan IT untuk memantau perkembangan kejadian di rumah sakit kemaren aman atau tidak, karena jangan sampai dia kecolongan nanti yang ada malah bininya yang kena.


Setelah memastikan sudah aman, Vano pun kembali melihat Farrel yang sedang berlatih. Vano melihat Farrel sedang duduk selonjoran di lantai, kelihatannya Farrel sedang istirahat.


"Gimana udah lancar belum?" tanya Vano setelah menghampiri Farrel.


"Kalau menembaknya sih udah lancar, cuma bela diri nya gw belum terlalu menguasai semua." jawab Farrel, pasalnya di mafia WD ini semuanya wajib menguasai berbagai macam ilmu beladiri. Mulai dari silat, karate, taekwondo, dan lain sebagainya. Dan Farrel baru menguasai beberapa saja.


"Lama kelamaan juga pasti lo bisa, gw dulu juga gitu." ucap Vano.


"Oh iya gimana sama adik lo, udah lo beri pelajaran belum?" tanya Farrel.

__ADS_1


"Boro boro mau ngasih pelajaran ke tuh anak, ketemu dia aja belum." jawab Vano.


"Hahaha, gw heran deh kenapa sifat adek lo kek gitu, turunan dari siapa coba." heran Farrel.


"Ya dari bapaknya lah, mau dari siapa lagi."


"Pulang yok Van, besok lagi ke sini." ajak Farrel.


"Emang lo udah selesai?"


"Ya belum sih, cuma badan gw belum terlalu terbiasa terlalu lelah semenjak sembuh."


"Oh, ya udah ayo pulang." setuju Vano.


"Ehh tar dulu, gw mau telfon bini gw udah pulang apa belum." tambah Vano.


"Ya udah gw tunggu di mobil." pamit Farrel yang mendapat anggukan dari Vano.


Vano pun menghubungi Vanya, Panggilan pertama belum di jawab dan panggilan ke dua baru di jawab.


'Halo Van.' sapa Vanya dari sebrang sana.


'Kamu lagi ngapain sih, kok lama banget angkat telfon nya?' tanya Vano.


'Oh itu barusan aku lagi ke kamar mandi, ada apa kamu telfon aku?' tanya Vanya balik.


'Oooh gitu, tapi aku keknya gak pulang dulu deh.' jawab Vanya yang membuat Vano kesal mendengar nya.


'Loh kok gitu, emang kamu mau ngapain?'


'Anak anak ngajak aku buat nginap di rumah Sisil, kan kamu tahu akhir akhir ini kita jarang banget kumpul kumpul jadi kita lagi mau kangen Kangenan. Boleh ya, plis...' mohon Vanya agar di beri ijin oleh Vano.


'Trus nanti aku tidurnya ama siapa, emang kamu gak kasian sama aku.' melas Vano.


'Ya tidur sendiri, dulu juga kamu tidurnya sendiri terus kan?'


'Ya tapikan sekarang udah beda yank, aku itu udah terbiasa peluk kamu saat tidur. Gimana nanti kalau aku gak bisa tidur.'


'Ya kamu pejam pejamin matanya, lama kelamaan juga bakalan tidur sendiri.'


'Aaaaa...sayang, kamu pulang ya, aku jemput deh.' mohon Vano agar Vanya membatalkan kemauannya.


'Gak bisa Van, maaf ya. Besok aku pulang pagi pagi deh sebelum kamu bangun, gimana?'


'Tetep aja yank, gak bisa.'

__ADS_1


'Sayang pulang ya, kamu gak kangen sama aku.' rengek Vano.


'Kali ini aja ya, kan aku nginap juga cuma semalam. Plis boleh ya...'


Vano diam saja, dan itu membuat Vanya merasa tidak enak.


'Gak boleh ya, ya udah aku pulang aja. Kamu tunggu aku di rumah, biar aku pamit sama Sisil dan Sonya.' ucap Vanya karena tak ada suara dari Vano.


'Ya udah deh kamu nginap aja di sana gak papa, tapi handphone kamu harus tetap aktif biar nanti kalau ada apa-apa aku bisa hubungi kami.' pasrah Vano, karena setelah di pikir pikir Vanya juga butuh kumpul kumpul sama temannya.


'Beneran bee, asik makasih banyak babe ku cayang, makin cinta deh jadinya.' senang Vanya. Ya begitulah Vanya jika ada maunya aja manggil Vano di sayang sayangin 😂.


"Hanya hal sepele saja kamu sudah sesenang ini yank, maafin aku yang terlalu mengekang kamu." batin Vano.


'Ya udah kamu senang senang gih sama teman kamu mumpung udah aku kasih ijin, aku mau pulang dulu.' ujar Vano.


'Iya, kamu hati hati di jalan, bye...


Assalamualaikum.'


'Waalaikum salam.'


Tut.


"Hufft, nasib dah pelukan ama guling." gumam Vano, setelah itu dia keluar nyamperin Farrel yang sudah menunggunya di mobil.


"Kita langsung pulang aja." ucap Vano setelah masuk ke dalam mobil.


"Loh bukannya mau jemput princess dulu, emang princess udah pulang?" heran Farrel.


"Gak jadi, bini gw nginep di sana." jawab Vano dengan wajah yang tak mengenakkan.


"Hahahaha.... kasian nanti gak ada yang di peluk." ledek Farrel.


"Gimana kalau lo aja yang gw peluk." ucap Vano kesal lantaran di ejek Farrel.


"Oh sorry, saya masih normal." tolak Farrel sambil menjalankan mobilnya.


"Hufft..." Vano membuang nafasnya kasar.


"Sabar, besok palingan juga pulang." menoleh ke Vano sebentar.


"Ya tetap aja, gw udah biasa tidur ada yang nemenin. Ehh tiba tiba tidur sendiri, kan aneh rasanya. Emang lo yang selalu tidur sendiri gak ada yang nemenin." ledek balik Vano pada Farrel.


"Sial*n lo."

__ADS_1


Mereka pun terus mengobrol sambil menikmati pemandangan malam yang indah, di hiasi lampu lampu pinggir jalan yang sudah menyala.


...***...


__ADS_2