My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 230


__ADS_3

"Bisa jalan gak?" tanya Vanya yang membantu Vano bangun.


"Aku coba dulu, nanti kalau kesusahan kamu bantu papah aku aja." balas Vano mencoba untuk berdiri.


"Auw. sstt..." ringis Vano saat merasakan nyeri yang amat menyiksa di pergelangan kakinya.


"Sini aku bantu." ucap Vanya memegangi tangan Vano.


Kali ini Vano tidak menolak pertolongan Vanya karena dia juga membutuhkannya. Maunya sih minta tolong sama yang lain karena tak tega melihat Vanya yang kesusahan membantu dirinya yang tubuhnya lebih besar dari Vanya. Apalagi di tambah Vanya yang sedang hamil, tapi mau gimana lagi orang ini masih sangat pagi masak mau ganggu orang orang.


"Mau aku tungguin atau aku tinggal keluar?" tanya Vanya.


"Kamu keluar aja, nanti kalau aku perlu sesuatu aku pangil kamu." balas Vano.


"Ya udah aku keluar dulu ya." Vanya pun keluar dari kamar mandi untuk menyiapkan keperluan Vano yang lain, seperti pakaian dan lain sebagainya.


Setelah selesai Vano memanggil Vanya untuk membantunya keluar dari kamar mandi. Dan setelah itu Vanya membantu Vano memakai pakaiannya sambil duduk di sofa.


"Maaf ya di saat kamu hamil kayak gini harus ngurusin aku yang gak berguna gini." ujar Vano.


"Kamu ngomong apa sih, ini sudah menjadi kewajiban aku sebagai istri kamu. Aku malah seneng bisa bantuin kamu, aku jadi merasa di butuhkan sebagai istri." balas Vanya.


"Aku mau cepat cepat sembuh agar bisa manjain kamu kayak waktu itu. Dan aku juga minta maaf gara gara masalah keluarga aku kamu jadi gagal nonton konser BTS."

__ADS_1


"Itu yang bikin aku kesel karena gak jadi ketemu Yoongi, tapi lebih sedih lagi waktu kehilangan kamu sih."


"Nanti kalau ada kesempatan lagi aku akan ajak kalian nonton konser BTS."


"Makasih, kamu memang yang terbaik." memeluk Vano dari samping.


"Aku minta tolong lagi dong panggilin kak Farrel mungkin dia udah bangun." pinta Vano melepaskan pelukan Vanya.


"Emang mau ngapain?" tanya Vanya.


"Biar dia bantuin aku ke mobil, aku mau di urut secepatnya biar cepat sembuh dan bisa manjain kamu lagi."


"Tapi kan ini masih pagi, mana ada tukang urut yang udah buka?"


"Cih, kumat." decih Vanya.


"Huss, bumil gak boleh ngomong gitu." peringat Vano.


"Hehehe iya lupa." cengir Vanya.


"Ya udah sana kamu pangil kak Farrel."


"Ya udah aku keluar dulu ya."

__ADS_1


Vanya pun pergi keluar dari kamar guna mencari keberadaan Farrel. Setelah menemukannya yang masih muka bantal sepertinya habis bangun tidur. Vanya segera mengatakan tujuannya dan membawa Farrel masuk ke kamarnya.


Farrel membantu Vano menuruni anak tangga di rumah megah mertuanya itu dengan hati hati. Mama Vani dan papa Wijaya sepertinya belum tahu kalau Vano sudah pulang karena mereka belum ada yang keluar kamar.


"Dah lo tunggu di sini aja dulu, gw mau mandi dulu sekalian tungguin papa sama mama." ucap Farrel setelah mendudukkan Vano di sofa ruang tamu.


"Hmm, thanks." balas Vano.


Farrel pun pergi meninggalkan Vano menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Dan berganti Vanya yang datang sambil membawa satu piring nasi beserta lauknya.


"Kamu makan dulu ya, pasti kamu belum makan kan semenjak di sana." ucap Vanya duduk di samping Vano.


"Iya aku belum makan sama sekali, soalnya mau makan takut di kasih racun makanannya." balas Vano menerima suapan Vanya.


Vano terus makan dengan lahapnya hingga habis tak tersisa sebutir nasi pun, mungkin saking laparnya dia.


"Mau nambah?" tanya Vanya.


"Enggak usah, udah kenyang banget." tolak Vano.


"VANO."


...***...

__ADS_1


__ADS_2