My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 148


__ADS_3

"APA." kaget mama dan papanya Cindy.


"Jadi, jadi kamu anaknya tuan William?" tanya papanya Cindy tidak percaya.


"Menurut anda, apakah ada nama seseorang yang sama dengan saya." jawab Vano yang mendapat gelengan kepala lemah dari papanya Cindy.


"Jadi sebagai anak pemilik sekolahan ini sekaligus pewaris nya, saya mengeluarkan anak anda dari sekolahan ini. Jadi silahkan kalian keluar dari sini dan jangan kembali ke sini." tegas Vano.


"Loh gak bisa gitu dong, saya di sini juga sebagai donatur tetap di sekolahan ini jadi kamu tidak berhak mengeluarkan anak saya dari sekolahan ini, atau saya akan mencabut semua biaya yang sudah saya kasih ke sini." ancam papanya Cindy.


"Loh silahkan, saya gak butuh uang hasil korupsi anda, dan saya juga akan tanggung jawab sama anak anda karena telah membuatnya masuk rumah sakit." ucapan Vano membuat hati Cindy berbunga bunga, sedangkan Vanya memelotot kan matanya ke arah Vano.


"Van..." tekan Vanya pada Vano agar Vano tidak berbuat aneh aneh, Vanya takut nanti Vano akan dengan suka rela merawat Cindy dan itu tidak akan pernah Vanya biarkan.


"Kalau kamu mau tanggung jawab gak apa apa kok kalau Cindy di keluarkan dari sekolah ini, biar nanti sekolah di sekolah yang lain aja." lembut papanya Cindy tidak segarang tadi, karena dia berfikir dengan Vano mau bertanggung jawab maka anaknya bisa dekat dengan Vano dan nanti bisa menikah dengan Vano. Tapi itu hanya hayalan semata saja.


"Baguslah kalau gitu, nanti saya batalin kontak kerja sama perusahaan anda dengan perusahaan saya. Oh tapi kayaknya masih kurang, saya tambahin dengan mencabut saham yang saya punya di perusahaan anda." ujar Vano yang membuat jantung papanya Cindy hampir copot.


"Jadi, maksud kamu tanggung jawab tadi apa, bukankah kamu mau merawat Cindy sampai sembuh?" tanya papanya Cindy dengan pedenya.


"Loh, siapa yang bilang, aku gak ada bilang begitu." jawab Vano yang membuat penyakit jantung yang di derita papanya Cindy kambuh.


"Hu, hu,hu..." sesak papanya Cindy sambil memegangi dadanya.


(anggap aja gitu ya suaranya, soalnya author bingung gimana nulisnya 😂🙏)


"Pa, papa. Papa kenapa pa?" panik Cindy dan mamanya.


"Papa kenapa ma?" tanya Cindy sambil memegangi papanya yang hampir jatuh ke lantai.


"Sepertinya serangan jantung papa kambuh, kita harus cepat bawa ke rumah sakit." jawab mamanya Cindy dengan panik.


Lama kelamaan papanya Cindy pun pingsan di sofa tadi. Sedangkan Vano hanya menontonnya saja tanpa berniat menolong, tapi tidak dengan Vanya dan pak Anang juga guru guru yang ada di sana, mereka ikutan panik dan ingin membantu Cindy dan mamanya untuk membawa papanya Cindy ke rumah sakit.


"Yuk sayang kita pulang aja, gak asik sekolahnya." ajak Vano mengait tangan Vanya dengan tangannya.


"Tapi Van..." Vanya memandang papanya Cindy dengan kasian.


"Udah biarin aja, dari tadi mereka udah bentak bentak kamu, biar tahu rasa." jawab Vano.


Vano akan membawa Vanya keluar dari ruang kepala sekolah tapi tangannya di tahan oleh seseorang.

__ADS_1


"Van, tolongin papa aku Van, aku mohon." ternyata orang itu adalah Cindy yang memohon pada Vano.


"Apaan sih lo, lepasin tangan gw. Denger ya, lo bawa aja papa lo sendiri, gw gak mau bantuin lo." tegas Vano sambil menghempaskan tangan Cindy.


"Van..." pangil Cindy memohon.


"Van, kita bantuin dia ya..." entah lah kemana Vanya yang sombong tadi, kenapa sekarang malah jadi kasianan gini.


"Kalian cepat bantu bawa dia ke rumah sakit, dan jangan lupa juga bersihkan ruangan ini agar tidak ada kuman yang tertinggal." setelah mengucapkan itu Vano segera menarik tangan Vanya keluar dari ruang kepala sekolah tanpa menghiraukan ucapan Vanya yang ingin menolong Cindy.


Para guru yang ada di sana pun segera membantu Cindy membawa papanya ke dalam mobil dan setelah itu mereka juga melaksanakan perintah Vano untuk membersihkan ruangan itu.


-


"Kamu apa apa sih, pakai mau bantu Cindy segala." ucap Vano setelah berada di kantin. Ya, Vano membawa Vanya ke kantin, tadinya sih mau Vano ajak pulang tapi Vanya menolaknya akhirnya Vano mengajak Vanya ke kantin.


"Ya aku kasian sama papanya tadi, kita kan harus saling tolong menolong." balas Vanya.


"Kamu gak ingat, gimana tadi mereka bentak bentak kamu kayak gitu, dan sekarang kamu apa, kamu mau bantuin mereka. Haloo... jangan terlalu baik deh yank, nanti yang ada kamu banyak di manfaatkan orang orang." omel Vano.


Vanya yang mendapat omelan dari Vano pun mengerucutkan bibirnya lucu yang membuat Vano gemes.


"Ya ampun Vanya, lo gak di apa apain kan tadi di sana, kita khawatir tau." cerocos Sisil dengan suara cempreng nya saat menghampiri Vanya dan Vano dengan Sonya dan Rangga di belakangnya.


"Apaan sih, berisik tauk." ucap Vanya agar Sisil mengecilkan suaranya sedikit.


"Gimana, aman kan tadi?" tanya Rangga setelah duduk di samping Vano.


"Lo kayak gak tahu gw aja, masalah begitu mah kecil." jawab Vano.


"Oh iya itu tadi bokapnya Cindy kenapa kok di gotong gotong gitu?" tanya Sonya.


"Biasalah, mau mati."


"Auw... sakit yank." Vano mendapatkan hadiah cubitan dari Vanya di pinggangnya.


"Mangkanya jangan sembarang kalau ngomong, nanti gimana kalau orangnya mati beneran." omel Vanya.


"Ya baguslah, biar hamanya berkurang." santai Vano menjawab.


"Vano..."

__ADS_1


"Iya sayang ku cinta ku..." jawab Vano lebay.


Huek.


"Lo kenapa Soy?" tanya Sisil.


"Enek gw liat sikap Vano yang lebay kayak gitu." jawab Sonya.


"Bilang aja lo syirik karena gak pernah di perlakukan kayak gitu." ledek Vano.


"Dih, kalau gw mau gw juga bisa kayak gitu, bahkan bisa dapat yang lebih dari Lo."


"Tapi kok masih jomblo." ejek Vano lagi.


"Tau ahh, kalian gak asik." setelah mengucapkan itu Sonya pergi meninggalkan mereka semua.


"Kamu sih, jadi marahkan Sonya nya." Vanya menyalakan Vano.


"Lah kok aku, dia nya aja yang lebay, masak gitu aja ngambek." Vano membela dirinya sendiri.


"Udah deh kalian ribut mulu, kayak kita napa adem ayem. Ya gak beb?" ujar Rangga merangkul pundak Sisil. Sisil pun mengangguk kan kepalanya.


"Ibarat sebuah masakan, masakan itu akan enak rasanya bila di tambahin garam, jadi kalau sebuah hubungan yang adem ayem aja itu gak bakal seru. Ya gak yank?" balas Vano tak mau kalah sambil memeluk pundak Vanya juga.


"Udah deh kalian diam, pusing kepala aku liat kalian ribut mulu." ujar Vanya menghentikan berdekatan antara dua sahabat.


"Kamu sakit yank, ayo aku antar ke rumah sakit." panik Vano.


"Aish...tauk ahh, ayo Sil kita susul Sonya aja, dari pada di sini." ajak Vanya melepaskan pelukan Vano dan segera menyeret Sisil pergi mencari Sonya.


"Loh kok aku di tinggal sih yank." teriak Vano tapi tak di hiraukan Vanya.


"Lo sih." Vano menyalahkan Rangga.


"Lah kok gw."


"Ya emang lo."


Dan di kabarkan sampai saat ini mereka masih saling menyalahkan.😂


...***...

__ADS_1


__ADS_2