
"Emang geng kalian mau ngapain?" tanya Sonya kepo.
"Ehh... eeemmm." Rangga baru menyadari jika sedari tadi mereka tidak berdua saja di sini, melainkan ada Vanya dkk juga. Dan sekarang dia bingung harus menjawab apa.
"Kepo." sahut Galang cepat dan segera menarik tangan Rangga untuk masuk ke dalam kantin.
"Heh tungguin jawab dulu pertanyaan gw, jangan main pergi aja." teriak Sonya.
"Udah udah kita masuk saja, lagian ngapain juga sih kita kepo in urusan mereka." ucap Vanya meskipun dalam hatinya dia juga kepo dengan urusan anak black Crow.
"Tapi kan Van..."
"Udah ayo kita ke kantin, perut gw udah kelaparan nih." ajak Vanya lagi.
"Gasss.." semangat Sisil.
Sisil pun berjalan paling depan di susul Vanya dan Sonya yang mengekor di belakangnya.
-
Pulang dari sekolah Vanya segera pergi ke rumah kedua orang tuanya. Sambil di halaman depan rumah, Vanya segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah mewah tempat dia di besarkan.
"Assalamualaikum ma,pa Vanya pulang." teriak Vanya.
"Waalaikum salam, kenapa harus teriak teriak sih Van." jawab mama Vani berjalan dari arah dapur.
"Hehehe dah kebiasaan ma." jawab Vanya sambil memperhatikan deretan gigi rapinya.
"Kamu ini, jangan di biasa in. Masak nanti kamu ke rumah mertua mu gitu, apa nanti kata mereka. Nanti mereka mengira mama sama papa gak mendidik kamu dengan baik." ceramah mama Vani.
"Hufft... enakkan di rumah mama Fara, mereka di sana malah menyambut kedatangan ku dengan kasih sayang, kalau di sini mah boro boro. Meski pun aku gak pulang setahun juga mungkin kalau pulang gak akan di sambut, kecuali kalau pulang bawa Vano." curahan hati Vanya.
"Iya ma." jawab Vanya seadanya.
"Oh iya papa mana ma? Kok gak keliatan." tanya Vanya kerena dia tidak melihat keberadaan papanya yang menyambut kedatangannya.
"Papa ada di ruang kerja, kamu Samperin gih mungkin papa gak dengar kalau kamu datang."
"Ya udah Vanya ke kamar dulu mandi setelah itu Vanya samperin papa."
"Vanya ke atas dulu ma." lanjut Vanya dan segera pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
-
Tok tok tok
"Masuk."
"Assalamualaikum papanya Vanya." ucap Vanya setelah membuka pintu ruang kerja papa Wijaya.
__ADS_1
Papa Wijaya yang mendengar suara anaknya pun segera mendongakkan kepalanya menatap kearah pintu di mana ada seorang gadis, oh lupa udah bukan gadis lagi karena udah jebol.
"Waalaikum salam anaknya papa." jawab papa Wijaya sambil berdiri dari tempat duduknya dan segera menghampiri anak semata wayangnya.
"Gimana kabar papa?" tanya Vanya setelah mencium punggung tangan papa Wijaya.
"Alhamdulillah kabar papa baik, kalau kamu gimana kabarnya?" tanya balik papa Wijaya.
"Kabar Vanya juga Alhamdulillah baik pa." jawab Vanya.
Papa Wijaya pun menyuruh Vanya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan kerjanya dan dia juga duduk di sebelah Vanya.
"Papa bangga sama kamu, akhirnya kamu bisa memenangkan olimpiade itu dengan begitu kamu bisa menemui Dia."
"Iya pa Vanya juga bersyukur banget akhirnya Vanya bisa menang, padahal Vanya udah pesimis banget kalau Vanya gak bakal menang."
"Kok kamu ngomong gitu, anak papa tuh hebat. Kamu itu bisa melakukan apapun meskipun itu sulit." ucap papa Wijaya yang di tanggapi senyuman terpaksa oleh Vanya.
"Oh iya pa, kan aku udah menang trus kapan aku bisa ketemu Dia." tanya Vanya mengalihkan pembicaraan.
"Terserah kamu mau kapan, habis ini juga bisa setelah papa menyelesaikan beberapa berkas yang ada di meja itu." sambil menunjuk dengan dagunya ke arah meja kerja yang berserakan beberapa berkas perusahaan.
"Yah... masih banyak dong kalau gitu."
"Gak banyak kok, asal kamu mau bantuin." balas papa Wijaya sambil cengengesan.
"Ayo sini papa tunjukin."
Papa Wijaya menunjukkan beberapa berkas yang mungkin bisa Vanya kerjakan yang sesuai dengan kemampuannya sekarang.
"Cuma ini aja pa?" tanya Vanya meremehkan.
"Iya, emangnya kamu bisa mengerjakan yang ini." memperlihatkan sebuah berkas yang rumayan rumit karena itu adalah berkas bulanan perusahaan yang berisi pemasukan serta pengeluaran perusahaan.
"Coba Vanya lihat dulu." Vanya mengambil berkas itu dan membacanya dengan serius.
"Gini aja kecil bagi Vanya pa, udah mendingan papa mandi trus ganti baju biar Vanya aja yang ngerjain semua berkasnya."
"Kamu seriusan bisa mengerjakan semuanya." papa Wijaya tidak percaya dengan apa yang putrinya ucapkan.
"Papa meragukan kemampuan Vanya, kan tadi papa sendiri yang bilang kalau Vanya itu bisa melakukan apapun meskipun itu sangat sulit." Vanya menyindir papanya.
"Hehehe iya papa lupa. Ya udah kamu kerjakan ya, papa mau mandi dulu."
"Siap papa." menghormatkan tangan kanannya kepada papa Wijaya.
Papa Wijaya pun pergi meninggalkan Vanya sendirian di ruang kerjanya yang tengah fokus mengerjakan beberapa berkas agar cepat selesai dan dia bisa segera bertemu dengan Dia.
-
__ADS_1
Italia
"Hufft... akhirnya selesai juga semuanya." ucap Vano sambil mengelap tetesan keringat yang mengalir di pelipisnya dengan handuk kecil yang di berikan oleh bodyguard yang berjaga di markas.
"Akhirnya habis ini gw bisa bebas jalan jalan pulang malam tanpa di tuntut buat bangun pagi."timpal Lucas yang sama dengan Vano yaitu mengelap keringatnya.
"Gak mau tahu pokoknya lo harus ikut gw ke indo." ucap Vano saat mendengar ucapan Lucas.
"Oh tidak bisa, perjanjian yang di buat Om William gw ke indo nya setelah lo lulus sekolah. Jadi untuk saat ini gw mau santai santai menikmati hidup yang tidak ada beban ini." tolak Lucas.
"Kok lo gitu sih sama gw." ucap Vano mendramatisir.
"Dih, gak cocok muka lo gitu."
"Biarin, pokoknya Vano marah sama Lucas titik gak pakai koma."
"Dih..." Lucas menangapi ucapan Vano.
"Oh iya Van lo kan besok udah lima hari di sini. Jadi lo pulangnya lusa kan?" tanya Lucas.
"Ya terserah gw lah, gw sih maunya cepet cepet pulang ketemu istri di rumah."
"Emang lo gak mau apa jalan jalan gitu seharian di kota ini, siapa tau kan nanti lo kepincut gitu sama cewek di sini."
"Kalau soal itu gak bakal terjadi, istri gw di rumah sudah spek bidadari. Cantik, tinggi, pintar masak, otaknya gak gesrek kayak, pokoknya dia udah sempurna lah menurut gw." bantah Vano.
"Segitunya lo muji istri lo, emang secantik apa sih dia."
"Mangkanya lo ikut gw pulang ke indo nanti gw kenalin ke istri gw."
"Tinggal tunjukin fotonya aja apa susahnya sih, kalau gak mau kasih liat fotonya setidaknya kasih tau username Ig nya lah biar gw cari sendiri."
"Gak ahh, nanti lo malah naksir lagi."
"Udah gw mau ke kamar dulu mandi badan gw dah gerah." lanjut Vano dan segera beranjak meninggalkan markas.
"Woy tungguin gw." Lucas pun mengikuti langkah Vano.
"Oh iya soal yang lo bilang jalan jalan tadi, gw setuju. Besok pagi kita jalan jalan keliling kota." ucap Vano di tengah tengah perjalanan menuju kamarnya.
"Nah gitu dong, jangan lupa traktir gw ya."
"Hmm."
Lucas yang mendengar persetujuan Vano pun senang bukan main.
Mereka pun pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan badan yang sudah basah dengan keringat.
...***...
__ADS_1