
"Tapi Van..."
Tak tak tak.
Suara langkah kaki beberapa orang mendekati kamar yang mereka tempati.
"Van..." panik Vanya.
Vano pun segera bangkit dari ranjang untuk segera bersembunyi di lemari tadi, tapi sebelum itu dia mengigit lengan atas Vanya yang tertutup baju dengan sekeras kerasnya hingga air mata Vanya turun.
"Gak usah protes sekarang, sekarang kamu lanjutin nangis kamu karena aku yakin kamu gak bakal bisa nangis kalau gak aku gituin."
Cup.
Setelah mengatakan itu dan mengecup kening Vanya Vano segera masuk ke dalam lemari.
Ceklek.
Pintu kamar itu terbuka, beruntungnya Vano sudah bersembunyi di sana.
"Loh kamu kenapa nangis?" tanya Marvel panik saat melihat air mata Vanya dan keadaan Vanya yang acak-acakan.
Hiks hiks hiks...
Vanya tak mengeluarkan sepatah katapun, yang dia keluarkan hanya suara tangisannya.
"Hei, kok nangis?" tanya Marvel duduk di ranjang yang kosong sebelah Vanya.
"Ini kenapa rambut kamu sampai acak acakan gini, jangan bilang kalau kamu siksa diri kamu sendiri?" tanya Marvel lagi yang hampir membuat Vanya tertawa.
Bagaimana tidak, Marvel mengira bahwa Vanya menyiksa dirinya sendiri padahal mah itu tadi perbuatan Vano yang lagi bermanja-manja dengan Vanya. Vanya tidak sebodoh itu, sampai sampai mau nyiksa dirinya sendiri hanya gara gara di culik kayak gini.
"Hiks hiks hiks..." suara tangisan Vanya sambil bergeser menjauh dari Marvel.
"Hei jawab pertanyaan ku, kamu gak usah takut sama aku. Aku gak akan apa apain kamu." ucap Marvel berusaha mengajak Vanya bicara.
Tapi tetap saja tak ada jawaban dari Vanya, yang ada hanya suara tangisan Vanya.
Hiks hiks hiks
"Hei aku ngomong sama kamu loh." ucap Marvel berusaha sabar menghadapi Vanya.
Tetap saja tak ada jawaban dari Vanya.
"Nona tolong bicara dong, bisa marah nanti tuan kalau anda diam saja." Batin tangan kanan Marvel yang melihat adegan di depannya.
"Ya udah kalau kamu masih gak mau ngomong sama aku, kamu mau makan apa biar saya suruh pelayan buat antar makanan untuk kamu ke sini?" tanya Marvel sambil merapikan rambut Vanya yang acak-acakan.
"Woy, jangan sentuh bini gw." batin Vano menjerit, bagaimana mungkin dia teriak seperti itu nanti yang ada bisa ketahuan sebelum waktunya.
Vano yang berada dalam lemari pun seperti kebakaran jenggot melihat perlakuan Marvel pada istrinya. Ingin rasanya Vano memotong tangan itu, agar tidak bisa menyentuh Vanya nya lagi.
__ADS_1
"Sabar Vano sabar, sebentar lagi lo akan bisa memotong tangannya." batin Vano.
Vano segera menghubungi Lucas agar segera beraksi.
Lucas lo masuk lewat pintu samping dan manjat dinding. Tadi gw udah ninggalin jejak potongan kertas berwarna kuning di tanah. Sedangkan Fira sama Farrel suruh mereka untuk masuk melalui pintu depan dan buat kerusuhan di sana.
Isi pesan yang Vano berikan pada Lucas.
Sementara di tempat Vanya dia masih diam saja meskipun sudah di tanya seperti itu.
"Kamu mau makan apa hmm?" tanya Marvel lagi.
"Ter-hiks-serah hiks." jawab Vanya sambil sesenggukan.
"Ya udah kalau gitu, tolong kamu suruh pelayan buat bawakan makanan untuk Vanya." perintah Marvel pada tangan kanannya.
"Baik tuan." dia pun segera menghubungi pelayan untuk membawakan apa yang tuannya minta.
-
"Yok gaes kita mulai, udah lama gw gak main kayak gini." ucap Lucas semangat.
"Sama gw juga." timpal Fira.
"Ya udah yok." ajak Farrel.
Mereka bertiga pun berpencar sesuai dengan apa yang Vano perintahkan tadi melalui pesan.
Tin tin tin..
Suara klakson yang Farrel bunyikan di depan gerbang yang menjulang tinggi.
"Hei siapa kalian?" tanya salah satu penjaga.
"Banyak bacot cepat bukain gerbangnya." ucap Farrel.
Dor.
Satu tembakan Fira layangkan ke penjaga tadi dan tepat mengenai jantung penjaga itu hingga akhirnya dia mati.
"Woy ada musuh." teriak teman si penjaga yang tadi. Dia segera menghubungi orang orang yang ada di dalam untuk bersiap perang.
"Kalian bukain gerbang ini." perintah Fira pada anak anggota WD yang turun dari mobil untuk melindungi Fira dan Farrel.
"Baik nona."
Beberapa anggota WD pun menghajar penjaga yang ada di depan gerbang dan segera masuk ke dalam sebuah ruangan tempat melapor jika ada tamu dan segera membuka gerbang itu. Melihat gerbang sudah terbuka, Farrel segera memasukkan mobilnya le halaman luas mansion Marvel.
Fira dan Farrel turun dari mobil dengan elegan dan di sambut oleh anak buah Marvel yang tak lain adalah anggota white Devil yang menodongkan senjata pistol ke arah mereka.
"Gimana Rel, lo mau main main dulu apa enggak?" bisik Fira.
__ADS_1
"Langsung aja lah, udah sore juga biar enggak kemalaman." balas Farrel.
Mendengar itu Fira segera mengambil satu pistol lagi dari punggungnya, padahal tadi di tangannya sudah ada satu buah pistol. Dan begitu juga Farrel, dia mengambil senjatanya juga. Dan...
Dor dor dor dor...
Fira dan Farrel menembak anggota white Devil satu persatu dan tepat sasaran. Sedangkan anggota white Devil yang membalas tembakan mereka tidak satu pun mengenai mereka, karena mereka berdua dengan lincah menghindari serangan itu.
"Cih lemah." decih Fira, melihat beberapa anggota white Devil sudah tergeletak menjadi mayat.
Bug bug ting krak.
Suara dari arah lain, yang tak lain adalah pertempuran antara pasukan WD dan white Devil.
Fira dan Farrel pun terus membantu melawan ribuan anggota white Devil sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam mansion.
-
"Lapor tuan di luar terjadi keributan yang di picu oleh kedatangan para anggota mafia WD." lapor salah satu anak buah Marvel.
"Cih berani sekali mereka masuk ke mansion gw." Decih Marvel.
"Hai baby, sepertinya mereka sudah datang untuk menjemputmu, tapi tak akan pernah aku berikan kamu kepada mereka." ucap Marvel pada Vanya dengan wajah yang sudah berubah menjadi seram.
Vanya diam saja, dia bingung harus melakukan apa. Memberontak atau nurut saja? bingung Vanya.
"Ayo ikut aku, kita pergi dari sini." tarik Marvel dengan kasar pada tangan Vanya.
"Lepasin aku gak mau." tolak Vanya.
"Kamu harus mau, dan kamu juga tidak bisa menolak karena ini perintah bukan pilihan." balas Marvel semakin mengencangkan cengkramannya pada tangan Vanya.
"Lepasin, sakit." berontak Vanya lagi.
"Kalau kamu nurut sama aku, aku gak bakalan kasar sama kamu." ucap Marvel.
"Lo kedepan aja dulu bantu yang lain, biar gw selesaikan ini sendiri." perintah Marvel pada tangan kanannya.
"Baik tuan." orang itu pun segera pergi meninggalkan Marvel sendiri bersama Vanya yang masih memberontak minta di lepasin.
"Lepasin sakit." mohon Vanya lagi karena cengkaraman itu sangat kuat.
"DIAM." bentak Marvel yang seketika membuat Vanya diam.
Marvel segera menarik Vanya keluar dari kamar itu tapi...
"BERHENTI."
...***...
Tutorial dong cara ngilangin rasa malas itu gimana, biar aku semangat ngetik kayak bulan sebelumnya lagi 😂
__ADS_1