
Setelah bermain catur Vano memutuskan untuk kembali ke kamar. Saat membuka pintu kamar, pemandangan yang pertama kali Vano lihat adalah muka polos Vanya yang sedang tertidur menghadap ke arah pintu.
"Cantik banget sih." ucap Vano seperti biasa yang tanpa di sengaja.
Plak
Suara tamparan yang mengenai mulut Vano yang di lakukan oleh orangnya sendiri.
"Vano b*go kenapa lo puji si Vanya sih.'' ucap Vano saat menyadari perkataannya.
Vano pun berjalan menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan mencuci mukanya.
Setelah selesai Vano memutuskan untuk tidur di ranjang sebelah Vanya, karena di kamar Vanya tidak ada sofa. Ya kali Vano harus tidur di lantai, dia mah ogah.
Vano menghadap ke arah Vanya dan berusaha untuk memejamkan matanya. Tapi saat kesadarannya tinggal setengah tiba tiba ada pergerakan dari orang di sebelahnya.
"Oh, ****."
Umpat Vano saat tangan Vanya memeluk tubuhnya dengan erat. Dan apa ini, baju tidur Vanya kancing atasnya terlepas dua yang menampilkan belahan dada Vanya, apa lagi Vanya saat ini tidak memakai br*.
"Ya Allah kuatkan lah iman Vano ya Allah." doa Vano sambil terus memandangi pemandangan yang indah di depannya.
"Tahan Vano tahan. Lo gak boleh jadi cowok br**gsek."
Vanya terus mengeratkan pelukannya dari alam bawah sadar dia merasa tengah memeluk guling kesayangannya.
"****." umpat Vano lagi saat merasakan ada dua buah benda kenyal yang menempel di dadanya.
"Ya Allah tolonglah hamba ya Allah." ucap Vano mendramatisir.
Sudah cukup kesabaran Vano, akhirnya Vano tidak bisa menahannya lagi.
Vano menciumi leher jenjang Vanya hingga turun ke daerah dadanya tanpa meninggalkan jejak.
Vano membuka kancing piyama Vanya dan terlihatlah pemandangan yang indah di depan matanya tanpa ada penghalang kain sehelai pun.
Saat Vano akan mengecup pucuk p***d*ra itu kesadaran kembali, segera Vano mengancingkan piyama itu dan merapikan pakaian Vanya seperti semula.
Vano pun melepaskan pelukan Vanya dengan hati hati agar tidak membangunkan Vanya dan memutuskan untuk menuntaskan hasratnya di kamar mandi.
Sebelum beranjak ke kamar mandi Vano menyempatkan diri untuk mencium kening Vanya.
"Entah lah apa yang terjadi dengan diriku. Kadang aku merasa jengkel denganmu kadang aku akan seperti ini yang tidak bisa mengontrol diri untuk berada di dekatmu."
Ucap Vano dan setelah itu dia beranjak ke kamar mandi.
-
Pagi hari Vanya mengerjapkan matanya dan memandangi sekeliling hingga pandangannya jatuh kepada wajah damai seseorang.
"Ganteng banget sih suamiku." ucap Vanya sambil membelai pipi mulus Vano dengan hati hati agar tidak menggangu tidur Vano.
"Seandainya kamu ingat semuanya Van, pasti pernikahan kita gak akan seperti ini." ucap Vanya sambil terus memandangi wajah Vano sambil tersenyum sedu.
Tanpa Vanya sadari ternyata Vano sudah bangun, hanya saja Vano engan membuka matanya dan ingin tahu apa yang akan di lakukan oleh Vanya.
Vano bingung apa maksud dari ucapan Vanya itu. Mengingat? Mengingat apa maksudnya. Apakah dia ada melupakan sesuatu?
Isi pikiran Vano pun bertambah, belum terpecahkan apa maksud dari ucapan mertua dan istrinya kemarin, sekarang di tambah lagi dengan ucapan Vanya yang semakin membuatnya pusing.
__ADS_1
Vanya bangun dan segera mandi karena hari ini ada rapat OSIS jadi dia harus berangkat pagi.
Vano pun membuka matanya dan memandangi pintu kamar mandi dimana istrinya berada.
"Apa maksud omongan Vanya tadi?"
"Aduh kenapa kepala ku jadi pusing gini sih." keluh Vano saat merasakan denyutan di kepalanya.
Vano pun memutuskan untuk tidur kembali untuk meringankan sakit kepalanya.
-
Vanya keluar kamar mandi sudah dengan seragam sekolah lengkapnya. Setelah memakai make up tipisnya dan menyisir rambutnya dengan rapi.
Setelah itu dia menyiapkan keperluan Vano seperti biasa. Setelah selesai Vanya pun membangunkan Vano.
"Van, bangun Van." ucap Vanya sambil menggoyangkan tubuh Vano dengan bantal guling.
"Eemmhh.."
"Bangun Van sudah pagi."
"Iya iya." jawab Vano segera duduk sambil menggaruk garuk rambutnya hingga berantakan.
Glek
Vanya menelan ludahnya kasar saat melihat keadaan Vano. Rambut berantakan dan kaos singlet yang memperlihatkan otot-otot di lengan kekar Vano dan jangan lupakan dada bidang yang sangat menggoda imannya.
Vanya pun segera mengembalikan kesadarannya sebelum di ketahui Vano kalau dia tengah mengagumi keindahan tubuh Vano.
"Van aku berangkat dulu ya."
"Hmm."
"Hmm." jawab Vano lagi.
Vanya keluar meninggalkan Vano yang beranjak ke kamar mandi.
-
"Ma, pa Vanya berangkat dulu ya." pamit Vanya sambil mencium punggung tangan mama papanya.
"Loh kok pagi banget sayang, kamu gak sarapan dulu emang?" tanya mama Vani.
"Vanya ada rapat OSIS ma, Vanya sarapan di kantin saja nanti."
"Ya udah hati hati, kamu mau bawa mobil sendiri atau di antar." tanya papa Wijaya.
"Bawa sendiri aja pa, biar nanti sekalian Vanya bawa ke apartemen."
"Jangan kebut kebutan di jalan."
"Iya pa."
"Oh iya dimana suami kamu kok belum turun."
"Vano masih mandi ma."
"Ya udah Vanya berangkat ma, pa assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikum salam."
Vanya berjalan keluar pintu rumah orangtuanya.
-
Vano berjalan menuju meja makan yang sudah ada mama papa mertuanya.
"Pagi ma, pa." sapa Vano.
"Pagi nak." jawab kompak suami istri itu.
"Ayo sarapan dulu."
"Iya ma."
Mereka makan dengan tenang setelah itu Vano
"Ma, pa Vano berangkat dulu ya. Sekalian pamit nanti Vano dan Vanya langsung pulang ke apartemen." pamit Vano sambil mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Iya, hati hati naik motornya. Kalian harus saling jaga ya." nasihat mama Fara.
"Baik ma. Assalamualaikum." ucap Vano.
"Waalaikum salam."
-
Tidak seperti biasanya, Vano hari ini tidak telat masuk sekolahnya. Bagaimana bisa telat Vano semalam tinggal di rumah mertuanya, kalau sampai tepat bisa hancur muka Vano.
Vano berjalan santai ke kelasnya, seperti biasa banyak pasang mata yang memandang kagum ke arahnya terutama kaum hawa.
"Wow mimpi apa aku semalam bisa liat pangeran yang tampan."
"Aduh meleleh hati adek mas."
"Jadikan aku permaisurimu bang."
Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Setelah sampai di kelas ternyata kedua sahabatnya sudah berada di kelas.
"Weeh ada angin apa nih, sampai sampai seorang Giovano Alexander William berangkat pagi ke sekolah." ucap Galang menyambut kedatangan sahabatnya.
"Lo gak sakit kan Van? Otak lo gak geser kan?" heboh Rangga sambil memegangi jidat Vano guna mengecek suhu tubuh sahabatnya.
Vano yang melihat kelakuan sahabat sahabatnya pun hanya menatap datar tanpa merespon ucapan mereka dan segera mengambil ponselnya.
"Yaelah. Kagak di jawab sama nih anak." ucap Rangga.
"Ehh Van, beneran dah tumben lo berangkat pagi?" tanya Galang serius yang di angguki oleh Rangga.
"Kepo."
Dah lah nyerang, Rangga dan Galang pun berhenti bertanya lagi kepada Vano yang ada mereka akan di kacangin lagi. Galang dan Rangga pun memutuskan untuk mengikuti Vano login game dan mabar bersama.
...***...
maaf kan bila ada typo 😂
__ADS_1
Ehh btw aku ultah hari ini gada niatan untuk ucapin apa 😂😂ðŸ¤
Atau mungkin ada yang mau ngasih hadiah 😂😂😂