
Vanya pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan serta wajahnya. Dia merasa kepalanya semakin pusing.
"Aduh kok pusing banget ya." memijat kepalanya.
"Gw harus kuat."
Setelah itu Vanya keluar dari kamar mandi menyusul teman temannya yang sudah menunggunya di kantin.
Di kantin Vano baru saja datang menyusul Galang dan Rangga, dia mengisi perutnya lantaran belum sarapan tadi pagi. Saat asik makan tiba tiba ada seseorang yang memeluk lengannya.
"Ngapain lo, lepasin gak." tegas Vano pada Cindy yang bergelantung di lengannya.
"Jangan galak galak dong baby. Pasti kamu lagi marahan ya sama si upik abu, emang sih dasar tuh cewek gak tahu diri banget." ujar Cindy memaki maki Vanya di hadapan Vano.
"Gak usah sok tahu, lepasin tangan gw sekarang." berusaha melepaskan tangannya dari Cindy.
"Gak mau sebelum kamu cium aku dulu."
"Dih ogah." tolak Vano.
"Ya udah kalau gitu aku juga gak mau lepasin."
Karena sudah jengah menghadapi Cindy akhirnya Vano pun membiarkan saja Cindy melakukan apa keinginannya tanpa tau dari arah pintu masuk kantin ada yang melihatnya.
Deg.
"Kenapa Vano tega ngelakuin itu." Batin Vanya sedih.
Dari arah Vanya kelihatannya bahwa Vano sangat menikmati pelukan yang Cindy berikan di tangannya, dan hal itu membuat hati Vanya seperti di gores pisau tajam.
Vanya pun pura pura tegar, dia berjalan melewati meja Vano dkk untuk menghampiri teman temannya.
"Vanya." gumam Vano saat melihat Vanya melintas di sebelahnya tanpa menatap dirinya.
Dengan gerakan cepat dan kasar Vano menghempaskan tangan Cindy yang memeluk lengannya.
"Lepas."
Saking kasar nya perlakuan Vano membuat Cindy hampir terjungkal ke depan jika dia tidak seimbang tadi.
"Kamu kok kasar banget sih Van." ucap Cindy.
Cindy mengikuti arah pandangan Vano, dia tersenyum sinis melihat ada Vanya di sana.
Cindy berdiri dan dengan cepat dia mencium pipi Vano dan bertepatan dengan itu Vanya sedang menatap ke arah Vano.
"Apa yang lo lakuin HAH." marah Vano.
Vano mencekik leher Cindy hingga membuat Cindy susah untuk bernafas.
"Van, Vano..le le pas Van." terengah-engah Cindy.
"Van udah Van, nanti nih anak bisa mati Van." Galang berusaha melepaskan tangan Vano dari leher Cindy.
__ADS_1
"Biar dia mati sekalian." amarah Vano mengencangkan cekikikan nya.
"Van udah Van." Rangga juga ikut membantu Galang melepaskan tangan Vano dari leher Cindy.
Sementara Vanya dia meneteskan air mata saat melihat Cindy mencium pipi Vano.
"Van kalian ada masalah?" tanya Sonya.
"Kok Vano gitu sih, kalau sampai Rangga kayak gitu, gw bejek bejek tuh mukanya kayak perkedel." maki maki Sisil yang ikut melihat adegan Vano sama Cindy.
"Lo gak papa kan Van?" khawatir Sonya, pasalnya tadi Vanya bilang dia pusing kepala tapi sekarang malah melihat adegan kayak gini.
"Gw gak papa kok." Vanya berusaha tegar.
Dan setelah itu mereka malah di kagetkan dengan Vano yang mencekik leher Cindy hingga membuat Cindy kesusahan bernafas.
"Vano." ucap Vanya.
"Aduh jangan sampai si Vano bunuh Cindy, bisa brabe nanti urusannya." ucap Sonya.
"Van sebaiknya lo hentiin Vano, kasih beb Rangga sama Galang kayak nya kualahan banget." saran Sisil.
Vanya diam saja tak menanggapi usulan Sisil.
Hingga kondisi kantin semakin gak kondusif, semua murid yang sedang asik makan pada panik melihat sikap Vano.
"Van ayo Van hentiin Vano, hener kata Sisil kayaknya cuma lo yang bisa meredakan amarah Vano." suruh Sonya.
"Van lepasin Cindy." ujar Vanya lembut berusaha melepaskan tangan Vano dari leher Cindy.
"Lo gak usah ikut campur." bentak Vano tanpa sadar.
Meskipun hati Vanya sakit mendengar itu tapi Vanya mengabaikannya. Mengingat nyawa Cindy dalam bahaya, ya meskipun Cindy sering berbuat jahat kepadanya tapi Vanya tak sejahat itu membiarkan Cindy mati di tangan suaminya.
"Sayang lepasin ya." ucap Vanya dengan nada yang sangat lembut.
"Bisa diam gak." bentak Vano lagi.
"Le p a s." suara lirih Cindy yang hampir tak terdengar.
"VANO lepasin Cindy." suara Vanya Langtang sambil berusaha melepaskan tangan Vano dengan kasar dari leher Cindy.
"Agrrr." marah Vano dan menapel tangan Vanya dengan keras sehingga membuat Vanya terpental dan membuat kepalanya kejeduk lantai.
Kepala yang sedari tadi sudah pusing, terus melihat sikap Vano di tambah sekarang kepalanya kejeduk. Rasanya makin gak karuan kepala Vanya.
"VANYA." teriak mereka semua yang ada di kantin, dan membuat Vano tersadar.
Vano melihat kearah Vanya yang kesakitan di lantai.
"Vanya." ucap Vano, dengan cepat Vano melepaskan Cindy dan berlari menghampiri Vanya.
Uhuk Uhuk uhuk.
__ADS_1
Batuk batuk Cindy dengan nafas yang terengah-engah dan segera di hampiri oleh sahabat sahabatnya yang sedari tadi diam ketakutan tak berani menolong Cindy dari amukan Vano.
"Cepat bawa Cindy ke rumah sakit." perintah Galang pada anak laki-laki yang ada di kantin.
Mereka pun segera membopong Cindy meninggalkan kantin untuk di bawa ke rumah sakit.
Sementara di posisi Vano dan Vanya, Vano memangku kepala Vanya di pangkuannya dengan tangan yang mengelus pipi Vanya.
"Van." pangil lirih Vanya.
"Iya sayang, maafin aku." tanpa sadar air mata Vano jatuh melihat orang yang dia cintai terkapar karena kelakuan dia sendiri.
"Kepala aku pusing Van." adu Vanya.
"Kamu harus kuat ya kita ke rumah sakit sekarang."
Vanya mengelengkan kepalanya menolak ajakan Vano.
"Aku mau pulang aja ke rumah." tutur Vanya.
"Ya udah kita pulang ya, kamu harus kuat. Maafin sikap aku yang udah kekanak-kanakan."
Vano membopong tubuh Vanya dalam gendongannya dan melingkarkan tangan Vanya ke lehernya setelah itu dia berdiri untuk membawa Vanya pulang seperti permintaan Vanya tadi.
"Mau gw bantu Van?" tawar Galang.
"Gak usah gw bisa sendiri. Maafin sikap gw tadi." jawab Vano.
"Ini semua gara gara lo Van, Vanya sedari pagi udah merasa pusing melihat kelakuan lo dan ini lo bentak bentak Vanya dan lo dorong ke lantai, apalagi sedari pagi Vanya belum makan." omel Sonya pada Vano.
"Udah Soy gw gak papa." ucap lirih Vanya dalam gendongan Vano.
"Udah berantemnya nanti aja kasian Vanya." tegas Galang.
"Van aku ngantuk." setelah mengucapkan itu pegangan tangan Vanya yang ada di leher Vano pun berkurang.
"Sayang jangan penjamin mata,buka mata kamu." ucap Vano agak berteriak.
Vano merasa tangan Vanya terlepas dari lehernya, dia pun menatap wajah Vanya yang matanya sudah terpejam sempurna.
"VANYA, SAYANG BANGUN." Teriak Vano menggoyang goyangkan tubuh Vanya.
"Cepat lo bawa Vanya Van."
"Mana kuci mobil Vanya?" tanya Vano panik.
"Ini pakai mobil gw aja, kunci mobil Vanya mungkin masih ada di kelas." tawar Sonya.
"Ayo cepat."
Mereka pun membawa Vanya ke parkiran mobil dan segera di masukkan ke dalam mobil Sonya. Vano menolak untuk di sopirkan oleh Galang, dia gak mau kalau sampai mereka tahu mansion mereka, bisa terbongkar nanti.
...***...
__ADS_1