My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 141


__ADS_3

Farrel sampai di mansion milik Vano dan segera di persilahkan masuk oleh kepala pelayan Sri.


"Silahkan masuk tuan, tuan Vano ada di kamar atas." mempersilahkan Farrel untuk masuk.


"Makasih bi." Farrel pun segera berjalan menuju kamar Vano untuk menemui Vano.


Tok tok tok.


"Van." pangil Farrel.


Di dalam Vano yang sedang mengelus rambut istrinya agar tidurnya nyenyak pun beranjak bangun untuk membukakan pintu.


Ceklek.


"Udah sampai kak." ucap Vano saat melihat ternyata Farrel lah yang ada di depan pintu.


"Lo mau ngomong apa?" tanya Farrel to the poin.


"Kita bicara di ruang kerja gw saja, biar gak ganggu bini gw." ujar Vano menutup pintu kamarnya setelah memastikan Vanya tidak terbangun.


"Emang Vanya kenapa?"


"Dia masih tidur, nanti gw jelasin. Kita ke ruang kerja gw dulu aja biar lebih enak ngobrol nya."


Mereka berdua pun pergi menuju ruang kerja Vano untuk membicarakan sesuatu.


"Jadi maksud lo bibi gw tadi mau nabrak Vanya." geram Farrel setelah mendengar cerita dari Vano tentang masalah yang tadi menimpa Vanya.


"Iya, dan yang bikin gw kesel tuh, gara gara bibi lo istri gw jadi pendiem kayak gini. Ya meskipun kadang gw gak suka sih kalau dia cerewet, tapi kalau diam kayak gini gw malah merasa khawatir." ujar Vano kesal.


"Terus sekarang gimana keadaan Vanya, dia gak papa kan?" tanya Farrel.


"Dia masih tidur, dari tadi hanya bengong aja, gw suruh makan gak mau. Pokoknya gw gak mau tahu, kita harus cepat cepat urus bibi lo, gw udah gak sabar ngeliat dia menyiksa dirinya sendiri."


"Ya udah kapan kita mulai rencananya, gw juga udah gak sabar mau membalaskan kematian orang tua gw, ya meskipun dia masih keluarga gw, tapi emang ada ya keluarga yang tega membunuh kakaknya sendiri." ucap Farrel yang tak kalah kesal dari Vano.


"Oh iya gw mau tanya sama Lo, emang selama ini bini gw punya trauma gak setelah kejadian penculikan yang bibi lo lakuin pada bini gw dulu?" tanya Vano penasaran.


"Trauma?" heran Farrel, pasalnya dia tidak tahu menahu akan hal itu lantaran kan dia selama ini koma.

__ADS_1


"Iya, trauma. Gw merasa ada sesuatu yang Vanya sembunyikan dari penculikan yang dia alami dulu, bahkan sampai tadi waktu lihat muka bibi lo aja tangan Vanya sampai bergetar." jelas Vano.


"Gw gak tahu soal itu, lo tahu sendiri kan gw selama ini tu koma, dan yang gw tahu masalah mental Vanya memang agak aneh sih, terlebih karena papa Wijaya selalu mengekang Vanya agar selalu juara dan harus ikut olimpiade apa pun itu." ujar Vano.


"Mengekang, maksud lo?"


"Iya jadi tuh papa Wijaya selalu mengekang Vanya agar terus belajar dan Vanya juga harus selalu jadi juara di kelas, terlebih lagi kalau ada acara olimpiade, Vanya harus ikut dan harus menang juga. Sebagai iming-iming nya tuh kalau Vanya memang biaya pengobatan gw bakal di terusin, tapi kalau sampai Vanya kalah biayanya pengobatan gw di berhentikan. Padahal kan lo tahu sendiri, meskipun gw gak di kasih biaya sama papa Wijaya gw juga mampu buat biayain rumah sakit gw sendiri, adik gw aja yang bodoh bisa di kibulin papanya." jelas Farrel panjang kali lebar kali tinggi. Volume bangun ruang kali ahh😂


"Jadi selama ini itu alasan kenapa bini gw jadi orang yang ambis dalam belajar?" tanya Vano tak percaya, berarti selama ini dia salah menghina Vanya yang dia tuduh karena ingin dapat banyak teropi.


"Hmm, gw juga gak abis pikir, adik gw itu pintar tapi kok bisa bisanya di kibulin papanya sendiri."


"Tapi gw juga yakin, papa ngelakuin ini demi kebaikan Vanya juga sih." lanjut Farrel.


"Tapi kok gw kasian ya sama bini gw, tau gitu dari dulu aja gw nikahin, biar bisa bebas dari papa." ucap Vano.


"Bukannya waktu awal awal kalian menikah lo gak peduli ya sama Vanya?" tebak Farrel dan hal itu memang benar.


"Ya itu kan beda, gw dulu ilang ingatan jadi ya gitu deh."


"Ehh tapi kok lo bisa tahu, bini gw curhat sama Lo?" lanjut Vano bertanya pada Farrel.


"Ada deh, kepo Lo."


"Udah ahh,gw mau pulang sebelum nanti papa sama mama cariin gw." pamit Farrel.


"Di anak mami." ejek Vano.


"Biarin." Farrel pun berjalan keluar meninggalkan ruang kerja Vano untuk pergi pulang.


Dan Vano pun kembali lagi ke kamarnya, karena dia merasa tidak tenang jika meninggalkan Vanya sendirian dalam kondisi yang seperti ini.


"Van..." pangil Vanya lirih saat melihat kedatangan Vano.


"Kamu udah bangun sayang, maaf ya tadi aku tinggal keluar sebentar, ada yang perlu aku urus tadi." ucap Vano merasa bersalah.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku ambilin makanan buat kamu." Vano akan beranjak tapi tangannya keburu di cegah oleh Vanya.


"Ikut.." ucap Vanya.

__ADS_1


"Udah kamu di sini aja ya aku cuma sebentar, atau aku suruh Sri aja buat ambilin makanan buat kamu."


Vanya mengelengkan kepalanya pertanda menolak keinginan Vano.


"Aku mau makan di bawah aja." ucap Vanya.


"Tapi kan kamu masih sakit."


"Aku gak sakit Van, aku tadi cuma syok aja." kekeh Vanya.


"Ya udah kita makan di bawah, sini aku gendong." akan mengangkat Vanya, tapi Vanya segera menolaknya.


"Aku mau jalan aja Van." tolak Vanya.


"Tapi yank, kamu masih lemes loh."


"Aku gak papa Van, kamu bantuin aku jalan aja oke." keras kepala Vanya.


"Hufft... ya udah ayo." mau tak mau Vano pun menuruti permintaan Vanya, dari pada Vanya gak mau makan.


-


Sementara Farrel yang tadi mau pulang ehh malah ketemu papa Wijaya dan mama Vani di depan pintu utama, ketahuan deh kalau dia ke sini. Padahal tadi niatnya mau buat alasan lain.


"Loh kamu tadi ke sini Rel, kok gak bilang mama sih, tau gutu tadi kita berangkat bersama sama aja." ucap mama Vani saat berpapasan sama Farrel.


"Hehehe iya ma, tadi ada perlu sama Vano." jawab Vano sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Terus sekarang kamu mau ke mana?" tanya papa Wijaya.


"Farrel mau pulang pa, kan urusannya udah selesai."


"Kamu di sini aja gak usah pulang, pulangnya nanti aja bareng papa sama Mama. Kita makan sama sama di sini, nih mama udah bawain makan banyak." ucap mama Fara melarang Farrel buat pergi.


"Tapi ma..."


"Udah Rel, turutin aja apa mau mamamu, toh kita juga udah lama gak makan bareng bareng." sela papa Wijaya.


"Baiklah." Akhirnya Farrel pun tetap ditinggal di mansion Vano.

__ADS_1


Mereka memasuki mansion mewah Vano dengan di sambut para pelayan yang berjejer di samping jalan, karena ini juga termasuk tamu besar, Kan orang tuanya nyonya mereka.


...***...


__ADS_2