
Pagi yang cerah, cahaya matahari masuk melalui celah celah fermentasi jendela. Vano masuk ke dalam kamar setelah membuatkan sarapan serta susu ibu hamil untuk Vanya.
"Sayang bangun yuk." pangil Vano membangunkan Vanya yang masih asik berkelana di alam mimpinya.
"Euhhh." lengkuh Vanya merasa tidurnya ke ganggu.
"Bangun yuk kamu sarapan dulu." ujar Vanya.
"Udah jam berapa?" tanya Vanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Udah jam tujuh ayo bangun, sini aku suapin sarapan dulu."
"Kamu yang masak?"
"Bukan, ini bibi yang masak aku cuma sama bikinin kamu susu."
"Aaa." Vano menyuapi Vanya nasi beserta lauk pauknya.
"Gimana, masih mual?" tanya Vano.
"Enggak." balas Vanya setelah menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
Vano terus menyuapi Vanya hingga makan yang ada di dalam piring itu habis tak tersisa.
"Pinter." puji Vano mengelus kepala Vanya.
"Kamu udah makan?" tanya Vanya pada Vano.
"Belum, habis ini aku makan kamu silahkan mandi dulu. Nanti anterin aku ke kantor setelah itu kita ke mall." jawab Vano.
"Mau ngapain ke kantor sama ke mall?" tanya Vanya.
"Aku ada urusan bentar di kantor nanti kamu tungguin aku di ruangan aku, kalau ke mall aku mau ajak kamu belanja buat keperluan kita besok."
"Besok? Emang besok kita mau ngapain?"
"Kamu lupa, katanya mau ke Korea nemuin bias bias kamu itu."
"Oh iya aku lupa, kirain kamu gak serius mau bawa aku ke sana."
"Ya serius lah, buat apa kemaren aku bawa kamu cek up kalau aku bohong sama kamu hmm."
"Hehehe." cengir Vanya.
"Nih susunya di minum dulu." memberikan satu gelas susu ibu hamil yang rasa coklat.
Vanya menerima dan meminumnya hingga tandas.
"Udah sana kamu mandi, aku udah siapin air hangat buat kamu." perintah Vano setelah Vanya mengembalikan gelas yang sudah habis isinya itu pada Vano.
"Siap bos." balas Vanya.
Vanya pun beranjak ke kamar mandi sedangkan Vano, dia keluar menuju dapur untuk mengembalikan piring serta gelas bekas makan Vanya ke dapur.
-
Di saat Vanya dan Vano yang sudah berada di kantor, Fira dan Farrel masih setia berada dalam dunia mimpi mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, tapi mereka berdua belum ada tanda tanda akan bangun.
__ADS_1
Drrtt drrtt drrtt...
Suara dering ponsel Farrel yang berada dalam kantong celananya.
"Aduh siapa sih masih pagi udah ganggu orang tidur aja." kesal Farrel belum menyadari kalau posisinya dan Fira sekarang masih menyatu.
"Kok kayak ada yang aneh ya." lanjutnya dan perlahan membuka kedua matanya.
"Loh." kaget Farrel akan beranjak hingga membuat penyatuan mereka terlepas.
"Ahh.." Des*h Fira dan terbangun dari tidurnya karena merasa ada sesuatu yang terlepas dari tubuhnya.
"Udah pagi ya?" serak Fira melihat keadaan kamar yang sudah terang oleh cahaya matahari.
Farrel tak menjawab dia mencoba mengingat kejadian semalam dan setelah itu dia tersenyum tidak jelas.
"Kenapa kamu senyum senyum kayak gitu?" tanya Fira.
Tanpa mengatakan apapun Farrel langsung menindih tubuh Fira kembali.
"Ehh kamu mau ngapain?" waspada Fira.
"Lanjutin yang semalam." jawab Farrel dengan wajah tersenyum penuh arti.
"Kamu jangan gila deh, itu aku masih sakit."
"Masak sih, perasaan semalam kamu malah teriak teriak minta lanjut." goda Farrel.
"Ya, ya itu kan beda." gugup Fira.
"Beda apanya, bukannya sama aja ya?"
"Entar dulu, kita main satu kali lagi habis itu kita mandi bareng." pinta Farrel.
"Enak aja."
"Ya kan emang enak." balas Farrel.
"Udah sana aku mau man..hmmtt..." Ucapan Fira terpotong karena lagi lagi Farrel mencium bibirnya dengan rakus.
"Emmmhh." lengkuh Fira.
Farrel sudah akan memasukkan miliknya pada milik Fira. Dan...
Drrtt drrtt drrtt...
Dering ponsel Farrel lagi yang tadi sudah berhenti.
"Shiiitttt." umpat Farrel.
Farrel pun segera beranjak dari atas tubuh Fira dan mencari di mana letak ponselnya. Ternyata ponsel Farrel berada di saku celana yang berserakan di lantai bekas kerja mereka semalam.
Dengan rasa dongkol Farrel pun menjawab telfon orang itu.
'Halo.' sapa Farrel mengawali pembicaraan di telepon.
Fira pun sangat merasa berterima kasih pada orang yang menelfon Farrel karena sudah menyelamatkan dirinya. Dengan hati hati Fira beranjak pergi ke kamar mandi sambil menahan rasa sakit di area selangkangannya.
'Halo, kalian lagi ngapain sih kok mama telfon dari tadi gak di angkat angkat, Fira juga malah gak aktif nomornya.' cerocos mama Vani yang berada di sebrang sana.
__ADS_1
Farrel menjauhkan ponselnya dan melihat nama mama Vani yang tertera di sana.
'Ehh, mama. Ini tadi aku ada kerjaan di rumah kalau Fira kayaknya dia lagi masak di dapur.' bohong Farrel.
'Oooh mama kira kalian belum bangun. Ya udah bilangin sama Fira kalau nanti malam kalian harus tidur di rumah, mama mau makan malam bersama kamu dan juga Vanya.'
'Iya ma, nanti malam aku ke sana.'
'Ya udah kalau gitu mama tutup dulu telfonnya.'
Sambungan telepon pun terputus.
"Hufft... maafin Farrel ma, udah bohongin mama." gumam Farrel.
"Kita lanjut lagi yuk yank..."
"Lah kok udah gak ada." ucap Farrel yang tidak menemukan Fira di sana.
"Yank.."
"Ayang.."
Pangil Farrel dengan berteriak mencari Fira.
"Iya aku di kamar mandi." balas Fira.
"Loh kok aku di tinggalin sih, buka pintunya dong kita mandi bareng." teriak Farrel sambil mengedor gedor pintu kamar mandi.
"Kamu nanti aja, aku cuma sebentar kok."
"Hufft nasib." gumam Farrel dan dia pun beranjak mencari celana untuk dia pakai, karena sedari tadi mengangkat telfon dia masih telanjang.
-
"Sayang." ucap Vano saat masuki ruang kerjanya di kantor sehabis meeting.
"Hmm." balas Vanya yang fokus pada ponsel di tangannya.
"Kita mau langsung ke mall, atau kamu mau cari makan dulu?" tanya Vano.
Vanya mendongakkan kepalanya menatap wajah Vano.
"Cari makan dulu aja, perut aku udah mulai kelaparan." Jawab Vanya merapikan tas selempang yang dia bawa.
"Ya udah yuk." ajak Vano menyodorkan tangannya untuk Vanya genggam.
"Papa gak ke sini?" tanya Vanya saat berjalan sambil menggandeng tangan Vano.
"Ada di ruangannya, kayaknya lagi sibuk sama hasil meeting tadi." jawab Vano.
"Ooh."
"Kenapa, kamu mau ketemu papa?" tanya Vano.
"Enggak, cuma nanya aja." balas Vanya.
"Ooh."
Mereka berdua berjalan keluar dari perusahaan, banyak karyawan kantor yang membicarakan mereka berdua. Apalagi kaum hawa yang merasa iri sama Vanya, tapi banyak juga yang memuji mereka berdua. Banyak yang bilang mereka berdua cocok, yang satu ganteng dan yang satunya lagi cantik. Perfek bukan?
__ADS_1
...***...