My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 236


__ADS_3

"Kamu tahu masakan kamu itu..." menjeda ucapannya.


Vano menaikan sebelah alisnya menunggu kelanjutan ucapan Vanya.


"Masakan kamu itu..." menatap Vano.


"Enak banget, bahkan aku mau nambah kalau masih ada. Soalnya ini dikit banget aku jadi kurang." ucap Vanya yang di tunggu tunggu oleh Vano sedari tadi.


Vano pun langsung bernafas lega mendengar itu, dia pun ingin mencicipi nasi goreng buatannya.


"Aku boleh coba gak yank?" tanya Vano.


"Boleh, sini aku suapin."


"Aaa."


Vano menerima suapan dari Vanya dan seketika dia berlari ke arah wastafel yang ada di dapur untuk memuntahkan nasi goreng buatannya itu.


"Udah jangan di makan, biar aku bangunin Sri aja agar dia buatin untuk kamu." larang Vano mengambil piring yang berada di hadapan Vanya setelah dia menyelesaikan masalah mulutnya.


"Iiihh apaan sih, orang enak kayak gini kok. Sini aku mau abisin." mencoba meraih piring yang ada di tangan Vano.


"Gak, ini rasanya gak enak. Kamu makan buatan Sri aja nanti biar aku pangil dia bentar, kamu tunggu di sini." Vano berjalan akan memanggil Sri di kamarnya, tapi baru beberapa langkah Vano langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang yang menangis.

__ADS_1


"Hiks hiks hiks."


Vano berbalik dan mendapati Vanya sudah menangis dengan derai air matanya.


"Loh sayang kamu kenapa nangis hmm? Ada yang sakit? Mana bilang sama aku?" khawatir Vano.


"Hiks hiks kamu jahat hiks." memukul dada bidang Vano.


"Loh kok aku yang jahat, emang aku berbuat salah? Kalau iya aku minta maaf ya, udah jangan nangis nanti babynya ikut menangis." menenangkan Vanya.


"Hiks tapi kamu jahat, kamu gak bolehin hiks aku makan hiks nasi goreng itu hiks."


Vano benar benar tak abis pikir dengan bumil yang satu ini, bisa bisanya nangis cuma gara gara gak di bolehin makan nasi goreng buatannya, bahkan yang rasanya tidak karu karuan.


"Tapi aku maunya itu." balas Vanya dengan nada yang keras.


"Tapi itu beneran gak baik buat kamu sayang, rasanya aneh."


"TAPI ANAK KAMU MAUNYA ITU, NASI GORENG BUATAN PAPANYA. APAKAH ITU SALAH HAH." entah mengapa Vanya jadi emosi seperti ini.


Mungkin ini yang di namakan hormon ibu hamil suka berubah ubah. Kadang baik kadang juga buruk.


"Ya udah iya kamu makan nasi goreng ini, udah ya gak usah emosi." pasrah Vano memberikan apa kemauan Vanya.

__ADS_1


Mungkin ini yang di namakan ngidam. pikir Vano.


"Gak perlu aku udah kenyang." tolak Vanya dan berdiri akan pergi dari meja makan.


"Kamu mau ke mana?" cegah Vano mencekal tangan Vanya.


"Kamar." balas Vanya singkat.


"Trus ini?" tunjuk Vano pada nasi goreng yang sudah berada di hadapan tempat duduk Vanya lagi.


"Makan aja sendiri, nasi goreng gak enak gitu di suruh makan istrinya." cibir Vanya dan berlalu dari sana meninggalkan Vano yang terbengong mendengar ucapan Vanya barusan.


"Hah, ini gw gak mimpi kan? Perasaan tadi gw udah larang dia agar tidak memakan tuh nasi goreng." gumam Vano yang tak habis pikir dengan kelakuan Vanya.


"Sabar Vano sabar, bini lo lagi hamil." lanjutnya.


Setelah itu Vano pun merapikan meja makan dan meletakkan semua peralatan yang kotor di tempat pencucian piring agar besok para pembantu bisa langsung mencucinya. Setelah di rasa beres, Vano pergi menyusul istrinya ke dalam kamar.


Ceklek.


"Sayang..." pangil Vano saat memasuki kamarnya.


Vano mendapati Vanya tengah tertidur di atas ranjang dengan posisi yang membelakanginya. Vano tak mau ambil pusing, dia segera berbaring di samping Vanya dan memeluk Vanya dari belakang. Urusan Vanya lagi ngambek biar di urus besok, sekarang yang penting tidur dulu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2